3 Syawal 1441  |  Selasa 26 Mei 2020

Pintu-pintu Surga: Taubat
Fiqhislam.com - Dalam sebuah hadis Riwayat Bukhari diceritakan seorang pemuda yang terkenal kejahatannya. Tiba-tiba pemuda ini mendatangi seorang ulama. Ia bertanya masih adakah jalan bagi Tuhan mengampuni dosa-dosanya yang amat besar dan banyak?
 
Sang ulama bertanya, dosa-dosa apa saja yang pernah dilakukan. Dijawab semua dosa besar, seperti merampok, memperkosa, dan termasuk sudah membunuh 99 orang. Sang ulama terperanjat dan spontanitas mengatakan, subhanallah, jangankan 99 orang, seorang saja yang engkau bunuh pasti engkau akan mendapatkan murka Tuhan dan dimasukkan ke dalam neraka.
 
Mendengar jawaban itu, sang pemuda menghunus pedangnya dan membunuh ulama ini, maka genaplah 100 orang yang dibunuh. Sehabis membunuh ulama, ia menanyakan kepada orang-orang dimana ada ulama yang bisa memberikan jawaban terhadap keresahan jiwanya.
 
Salah seorang menunjukkan ulama lain di kota lain. Di tengah perjalanan menuju ke rumah ulama dimaksud, ia terjatuh dan langsung mati. Datanglah malaikat penjaga neraka dengan bengis mengatakan sudah lama ia tunggu-tunggu kematianmu.
 
Tak lama setelah itu datang lagi malaikat penjaga syurga untuk menjemput mayat itu, karena ia sudah berjalan jauh untuk mencari pertobatan dari seluruh dosa-dosanya kepada seorang ulama. Kedua malaikat itu saling mengklaim kalau pemuda itu miliknya.
 
Tiba-tiba muncul malaikat ketiga yang berusaha untuk melerai persengketaan kedua malaikat tersebut. Ia mengajak kedua malaikat yang bertikai untuk sama-sama mau menempuh jalan pengadilan.
 
Malaikat ketiga ini mengatakan, mari kita ukur langkah perjalanan pemuda ini, lebih dekat mana antara ulama yang baru dibunuh dan ulama yang dituju. Setelah ketiga malaikat itu mengukur jarak kematian sang pemuda, maka ditemukan selangkah lebih dekat ke rumah ulama yang dituju. Lalu malaikat hakim yang diutus Tuhan memenangkan malaikat penjaga syurga.
 
Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa ketulusan untuk bertaubat yang muncul dari kesadaran diri yang paling dalam bisa menggugah kasih sayang Tuhan. Sebesar apapun apapun dosa seseorang, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar. Tidak ada dosa besar jika yang datang adalah kemahapengasihan Tuhan, dan tidak ada dosa kecil jika yang datang adalah kemahaadilan Tuhan.
 
Taubat berasal dari akar kata taba-yatubu berarti kembali, yakni kembali ke jalan benar yang dituntunkan Allah swt. Jika seseorang datang dan bertaubat dengan taubat nashuha maka tidak ada mudharatnya bagi Allah Swt untuk mengampuninya.
 
Bahkan Allah Swt menyatakan: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS Al-Baqarah/2:222). Sebesar apapun dosa seseorang jika ia bertobat sepenuh hati maka ia akan mendapatkan pengampunan dosa Tuhan, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nisa’/4: 110).
 
Menurut Imam Al-Gazali dalam Ihya’-nya, seseorang dinilai bertaubat sepenuh hati jika memenuhi tujuh syarat taubat, yaitu: mengucapkan istigfar, meninggalkan dan menjauhi dosa atau maksiat, menyesal sedalam-dalamnya akan kekhilafannya, bertekad dan bersumpah untuk tidak akan kembali melakukan dosa itu, mengganti perbuatan dosa itu dengan amal kebajikan, mengembalikan harta atau hak orang lain yang pernah diambil, dan menyampaikan permohonan maaf secara jujur kepada orang yang pernah difitnah atau dibicarakan aibnya.
 
Jika orang sudah melakukan keseluruhan syarat taubat tersebut maka pengampunan dosa dijamin dari Allah swt, sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Orang yang bertaubat seperti orang yang tak berdosa”.

Oleh: Nasaruddin Umar
yy/inilah.com
Tags: Taubat | Tobat
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine