4 Syawal 1441  |  Rabu 27 Mei 2020

Berapa Lama Lagi Umur Kita?

Sudah sunatullah kalau kita akan mengalami kematian dan otomatis meninggalkan dunia yang sementara ini. Usia itu begitu cepat berlalu, perjalanan pun begitu lekas berakhir dan berujung pada kematian. Umur umat Rasullah SAW hanya menempuh sekitar antara 60 tahun sampai 70 tahun. Bagi kita yang sekarang berumur 20 tahun bukan berarti masih lama hidup di dunia karena semua takdir hanya Allah SWT yang tahu.
 

Mungkin besok kita tidak ada di sini lagi atau bahkan satu detik yang akan datang kita akan berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, semua itu takdir-Nya. Apa saja persiapan kita untuk menyambut malaikat pencabut nyawa yang di utus Sang Kholik Penguasa jiwa dan raga kita ini? Sebelah manakah timbangan amalan kita nanti, apakah lebih banyak kebaikan atau terlalu berat pada maksiat? Itu semua ditentukan oleh akting kita di dunia. Semua proses yang dilakukan di dunia ini akan diberi balasan yang setimpal di kampung akhirat.

Umur adalah satu-satunya hal yang jika bertambah, malah ia berkurang. Al-Hasan rahimahullah berkata, "Wahai anak-cucu Adam, engkau tidak lain adalah rangkaian hari. Jika satu harimu pergi, maka berkuranglah sebagian umurmu". Pepatah mengatakan, Waktu adalah pedang. Bila engkau tidak memotongnya maka ia akan memotong kamu". Ungkapan ini sudah dikenal di masyarakat, namun masih banyak dari mereka yang menyia-nyiakan waktu. Seandainya orang yang lalai itu sadar, tentulah ia melihat bahwa tetangganya telah meninggal, temannya telah mati juga ayahnya kembali keharibaan-Nya. Allah SWT telah memeperingatkan kita bahwa semua yang ada didunia ini adalah milik-Nya sesuai dengan firman, "tidak ada binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya."(QS. Hud: 56).
 

Kita tahu banyak sekali tentang kematian dan apa yang terjadi sesudahnya melalui berita dari manusia yang jujur lagi dipercaya, yaitu Rasullah SAW. Sesuatu yang sudah pasti dan tidak bisa dibantah lagi kedatangannya, bahwa kita pasti mati. Abdullah bin Umar r.a berkata, "Ketika saya sedang bersama Nabi, datanglah seorang lelaki Anshar. Setelah ia mengucapkan salam kepada beliau, lalu ia bertanya. 'Wahai Rasullah siapakah kaum mukmin yang baik itu?' Rasullah SAW menjawab, 'Yaitu yang paling baik akhlaknya'. 'Lalu siapakah mukmin yang paling cerdik?' tanyanya lagi. Rasullah menjawab 'yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kejadian sesudahnya. Itulah orang yang cerdik"
 

Al-Quran dan As-Sunnah merupakan petunjuk umat manusia agar selamat dunia dan di akhirat. Dalam surat Al-Baqarah ayat 2, Allah SWT berfirman: "Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan. Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa". Siapapun yang mengikuti nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran, dia akan mendapatkan keberhasilan dunia dan derajat dalam kehidupan akhirat.

Tetapi bagaimana akhlak manusia sekarang ini? Banyak yang sudah meninggalkan Al-Quran dan As-Sunnah yang telah diwariskan oleh baginda Tauladan yaitu Rasullah SAW. Maka segeralah bertaubat wahai manusia, kumpulkanlah bekal guna menghadap kapada-Nya. "Dan carilah bekal, sesungguhnya sebaik-baik bekal ialah Takwa"(Al-Baqarah:197). Jika kita mencari bekal untuk dunia yang fana ini, maka kitapun harus mencari bekal untuk di akhirat sebelum menyesal yang ketika itu penyesalan sudah tidak berlaku lagi.

Orang yang beruntung ialah yang selalu jaga dan menanti kesempatan serta tidak membiarkannya hilang percuma. Perlu digarisbawahi bahwa sedurjana dan sekafir apapun manusia itu, kekafirannya tidak mendatangkan mudharat apapun bagi Allah. Allah SWT berfirman, "Dan tidaklah mereka itu menzhalimi Allah, hanya saja mereka mendzalimi diri mereka sendiri." (QS. Ali Imran: 117).

Orang yang tak tahu akan aib yang disandangnya niscaya menganggap dirinyalah yang sempurna, sedangkan terhadap orang lain, ia menganggap sebelah mata. Akibat selanjutnya, orang yang demikian kebal terhadap nasehat dan tuli terhadap peringatan. Itulah orang yang sombong sesuai dengan sabda Rasullah SAW, "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (HR. Muslim).

Sikap itulah yang telah menjerumuskan manusia dan jin kedalam lembah nista. Dari sejak Iblis yang menolak bersujud kepada Nabi Adam, para penguasa yang menolak seruan rasul-rasul Allah seperti Namrudz, Fir'aun, Qarun, Haman, Abu Jahal, Abu Lahab dan nama-nama yang sejenis pada setiap zamannya. Saat Allah mencabut nyawa manusia yang paling durjana itu bukanlah karena Allah takut dan berkepentingan untuk mengakhiri sifat angkara murkanya. Tetapi Allah SWT Maha Tahu akan segala-galanya.


Mari sejenak kita merenung atas umur dan semua yang telah kita kerjakan. Dan tentang kebiasaan kita yang terbiasa mengingat kebaikan meski kecil dan gampang lupa akan dosa yang yang kita perbuat. Infaq Rp. 1.000,- sebulan yang lalu bahkan setahun yang lewat, mungkin masih kuat dalam ingatan kita; dimana, kapan dan kepada siapa.

Sedangkan ghibah, namimah, ingkar janji, dan perilaku tercela lain yang terbiasa dilakukan pagi, sore bahkan malam setiap harinya, sudah terlupakan sama sekali meskipun baru saja terjadi. Hendaknya kita semua sadar, andai saja orang lain tidak mengetahui aib kita, Allah Maha Mengetahuinya. Ada waktu dan kesempatan tertentu saat terbaik bagi kita untuk mengingat dan mengakui dosa dan aib diri kita, diantaranya yaitu:

 

Pertama, di sepertiga malam terakhir, dimana Allah SWT turun ke langit dunia. Saat tidak ada permohonan doa yang ditolak oleh Allah sebagaimana telah dijanjikannya lewat lisan Rasullah SAW, "Setiap malam Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Dia berfirman, 'Siapa yang berdoa kepadaKu akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan maka Aku ampuni'."(HR. Bukhori dan Muslim).


Kedua, mengakui dosa dan aib diri dihadapan Allah sebelum mengajukan permohonan di hadapan Allah. Sebagaimana dicontohkan oleh para Nabi. Adalah Nabi Adam dan istrinya yang diabadikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Keduanya berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi'."(QS. Al-A'raf: 23).


Ketiga, saat hendak berbuat kebajikan. Mengingat dosa- dosa dan aib sendiri sebelum melakukan bentuk kebajikan itu dengan sempurna. Begitu kita menjumpai kesempatan untuk berbuat baik, semestinya itu tidak kita sia-siakan.


Umur dengan keterbatasannya harus digunakan setiap menitnya untuk melakukan amal shaleh, amal yang diridhai oleh Allah SWT. Karena kewajiban manusia sangat banyak, seperti : ibadah, amal saleh, dakwah kepada Allah, mencari rezeki, mencari ilmu, berupaya menegakkan agama Allah dan seterusnya.

Menurut kata mutiara ialah sebagai berikut, "Kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia. Jika kamu mempunyai kebutuhan, maka tunaikanlah dengan ringkas dan tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya. Bacalah Al-Quran, pelajari dan dengarkanlah. Janganlah sebagian dari waktumu dibiarkan hilang dengan percuma".

Jadi, tidak ada kata terlambat untuk merubah akhlak kita. Teruslah perbaiki diri kita dari segala perbuatan tercela, jangan ditunda-tunda, karena kita tidak tahu berapa lama lagi kita di dunia.

aslamiyah.abatasa.com

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine