Doa yang Membinasakan

Fiqhislam.com - "Yaa Rasuulallaahi ud'ulLaaha `alal musyrikiin." Faqoola, "Innamaa bu'itstu rahmatan wa lam ub'ats `adzaaban." "Wahai Rasulullah! Mohonlah kepada Allah agar Dia membinasakan orang-orang musyrik itu." Beliau menjawab, "Aku diutus sebagai rahmat dan bukan sebagai azab atau siksa." (HR Imam Muslim)

Banyak cara dilakukan orang untuk mencapai harapan, cita, dan cintanya. Salah satu yang paling sering digunakan adalah berdoa. Doa adalah salah satu cara seorang hamba berkomunikasi dengan Allah SWT. Ini adalah cara paling sahih yang dilakukan anak manusia ketika sudah tak kuasa menghadapi "beban" hidup. Demikian sahih keberadaan doa hingga Allah sendiri yang mengingatkan anak manusia untuk tidak lupa berdoa. Karena ini perintah-Nya, doa adalah ibadah.

Dalam berbagai firman-Nya, Allah selalu menyiapkan ruang agar manusia dapat menyendiri, menjauh dari kebisingan dunia, berdua hanya dengan Allah.Dalam doa, ia boleh berbisik, mengeluh, mengadu, berdialog, bermunajat, atau bahkan meminta apa saja yang dia inginkan. Sebab, tak ada zat yang paling mampu dan berkuasa membuat sesuatu menjadi nyata kecuali Allah. Kata Allah, "Serulah Aku. Maka Aku akan ijabah doa-doa kalian!" Doa adalah kebaikan. Maka, berlombalah dalam kebaikan.

Karena kedudukan dan fungsi doa yang luar biasa luhur dalam Islam, harapan hingga khayalan orang gantungkan melalui doa. Bahkan, untuk hal-hal tertentu, beberapa orang atau kelompok menyertakan kebencian dalam doa-doanya. Mereka lupa bahwa doa adalah wasilah yang disediakan Allah untuk semua makhluknya untuk tujuan baik. Wasilah itu harus digunakan untuk hal-hal yang baik pula. Karena berdoa adalah ibadah, tak ada doa yang dilakukan di luar rukun dan syarat ibadah.

Mengapa? Karena, dengan ibadah kita berharap fakhsya' dan mungkar menjauh dari kita. Karena doa adalah ibadah, berdoa memiliki kaifiyaat(tata cara), dan adab tertentu. Doa harus diletakkan di maqamnya sebagai tangga jalan menuju Tuhan. Berdoa butuh kesabaran, ketabahan, kejujuran, ketulusan, kerendah an hati, pengakuan akan kekerdilan diri, jauh dari keangkuhan, kesombongan, kebencian, apalagi ada unsur perintah dan paksaan dalam doanya.

Dalam kita suci, hadis, akhbar, dan atsar yang sampai kepada kita, para manusia pilihan, seperti para rasul, nabi, sahabat, tabiin, tabiit tabiin, dan ulama, sangat menjaga kemurnian doa. Mereka merendahkan diri serendah-rendahnya makhluk yang tengah bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Maha perkasa. Lihatlah bagaimana Nabi Zakaria AS yang meski sudah di ujung senja usianya tetap berdoa. Berdoa agar dianugerahkan kepada beliau keturunan.

Tapi, hingga usia sekitar 80 tahun, harapan itu belum juga terpenuhi. Padahal, demikian riwayat yang sampai kepada kita, beliau sudah menghantarkan doa-doanya itu sejak pada hari pertama menikah, yakni pada usia 20 tahun. Beliau bersabar.

Dan, kunci doa adalah sabar. Kesabaran Nabi Zakaria telah mengantarkannya pada kedudukan yang tinggi dan Allah membalasnya dengan kuturunan yang saleh. Contoh lain begitu banyak sehingga tak sulit bagi kita bagaimana berdoa ala mazhab para rasul.

Tetapi, dalam kenyataan hidup sehari-hari, tak sedikit kita temukan saudara-saudara kita yang melampaui batas dalam berdoa. Untuk hal-hal tertentu, dengan harapan agar ajaran Islam tetap terjaga, sering kita dengar mereka berdoa sambil memerintah Tuhan. Doa yang mestinya syahdu, menyentuh, sublim, dipenuhi derai air mata ketulusan, berubah menjadi untaian kata-kata kasar dan cenderung berisi adu domba. Doa yang harusnya ibadah malah menjelma ajang kemarahan dan dendam.

Maka, jamak kita dengar doa berbunyi perintah kepada Allah agar segera menghancurkan kekukufuran, kemusyrikan, dan bid'ah. Padahal, inilah hidup, yang isinya memang ada keimanan dan kekufuran, tauhid dan kemusyrikan, syariat, dan bid'ah. Allah juga memberi dua jalan (wahadaynaa hunnajdain) kepada semua makhluk hidup untuk memilih. Beriman adalah pilihah dan kufur juga pilihan. Semua pilihan mengandung konsekuensi-konsekuensi.

Maka, biarlah perkara penghancuran kekufuran dan kemusyrikan itu tetap berada di wilayah kewenangan Allah sehingga kita tak perlu lagi "main perintah" dengan menggunakan kata perintah (fiil amr), ahlikil kafarota wal musyrikinkepada Allah SWT. Kewajiban kita menjauhi kemungkaran dan menganjurkan amar makruf. Bahkan, Allah menekankan posisi Nabi Muhammad SAW bukan sebagai pemaksa tegaknya kebaikan hingga Allah mewanti-wanti lasta `alayhim bimushoitirin.

Doa tidak untuk membinasakan. Doa bukan untuk menghancurkan. Doa tidak untuk membuat kerusakan. Untaian kata-kata yang diharap membuat kebinasaan, kehancuran, dan kerusakan biasanya disebut jampi, kutuk, dan laknat. Doa sama sekali jauh dari jampi, bukan kutukan, apalagi laknatan. Nabi Muhammad tidak pernah kita dengar pernah melakukan itu. Nabi bahkan melarang jampi, kutukan, serta laknatan. Bahkan, terhadap mereka yang mencederainya, Nabi menolak membalas.

Padahal, malaikat menawarkan andai Nabi mau, Gunung Taif akan dihunjamkan untuk membalas mereka yang menyakiti beliau saat berdakwah di Lembah Taif. Tapi, Nabi tidak melakukan itu. Nabi yakin mereka menolak ajakan kepada Allah SWT karena mereka tidak tahu dan tidak menyadari kebenaran, bukan karena menentang, apalagi mengingkarinya. Terbukti, tak lama setelah itu, Islam menyebar dengan masif di kawasan tersebut hingga sampai ke Madinah.

Saat itu, Nabi berdoa agar Allah SWT memberi mereka hidayah. Mereka menolak ajakan kepada Islam, begitu diyakini Nabi, karena tidak tahu. Nabi sangat sadar posisi sebagai rasul dan nabi yang tugasnya "hanya" tabligh alias menyampaikan kebenaran Allah. Soal apakah mereka akan dapat hidayat setelah ajakan dan seruan, itu semata kewenangan Allah. Allah yang memutuskan doa akan diijabah saat itu juga, ditunda, atau diakhirkan hingga di akhirat kelak. Wallahu a'lam bis shawab.

Oleh KH A Hasyim Muzadi
yy/republika