19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

Usaha Otomotif Masih Menarik dan Prospektif

Usaha Otomotif Masih Menarik dan Prospektif

Fiqhislam.com - Populasi kendaraan bermotor di Tanah Air terus meningkat. Tak heran, pelbagai peluang usaha di bidang otomotif, seperti bengkel dan penjualan suku cadang, pun makin memikat. Cermati langkah-langkahnya untuk meraup untung di bisnis ini.

Bisnis otomotif di Tanah Air terus melaju. Penjualan kendaraan bermotor yang terus meningkat tak pelak menjadi berkah bagi pengusaha bidang otomotif lainnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia tahun 2000 silam baru 18,2 juta unit. Satu dekade kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 76,9 juta unit. Populasi kendaraan bermotor pun terus meningkat seiring penjualannya yang naik tiap tahun.

Tahun 2011, penjualan mobil mencapai 893.000 unit, sementara sepeda motor tembus angka 8 juta unit. Tahun 2012, penjualan sepeda motor hingga November lalu memang turun menjadi 6,65 juta unit. Namun, penjualan mobil diperkirakan melewati angka 1,1 juta unit.

Tentu saja, populasi kendaraan bermotor yang melimpah menjadikan bisnis di bidang otomotif kian menarik. Apalagi, Erie Nugraha, pemilik Raja Motor, usaha aksesori dan suku cadang sepeda motor, melihat, infrastruktur dan transportasi publik di Indonesia masih belum memadai. Alhasil, jumlah sepeda motor dan mobil di negara ini bakal terus tambah.

Hidayat Syukri, pemilik Swalayan Motor, distributor onderdil, mengamini. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat memunculkan pelbagai peluang usaha. Mulai penjualan onderdil dan aksesori kendaraan bermotor, perawatan dan perbaikan kendaraan bermotor, hingga cuci dan salon kendaraan bermotor maupun showroom kendaraan bekas.

Potensi bisnis tiap jenis usaha pun terbilang memikat. Erie bilang, omzet usaha suku cadang dan aksesori sepeda motor tiap bulan bisa mencapai Rp 50 juta. Ini dengan asumsi stok barang dagangan senilai Rp 125 juta. Kalau bisa efisien dan menekan overhead cost, dalam waktu enam bulan, omzet minimal bisa mencapai Rp 125 juta sebulan. "Pertumbuhan bisnis ini  per  tahun rata-rata mencapai 25%-40%," ujar Erie.

Menurut Erie, margin keuntungan dari usaha penjualan suku cadang dan aksesori sepeda motor mencapai 20%—30%. Malah, Hidayat menambahkan, margin penjualan di tingkat ritel untuk suku cadang bisa mencapai hingga 500%. Misalnya, lampu sepeda motor, modalnya cuma Rp 1.100 per unit namun bisa dilepas dengan harga Rp 5.000 seunit.


Tidak susah

Usaha perbaikan kendaraan alias bengkel juga tak kalah menjanjikan. Stanly Erungan, pemilik Mitra Service Car, menuturkan, kendaraan bermotor saat ini sudah menjadi kebutuhan utama. Tak heran, orang pun rela menunda membeli barang lain demi performa kendaraannya tetap prima. Karena itu, usaha bengkel jelas punya potensi bisnis yang menarik.

Biaya satu kali perawatan mobil biasanya sekitar Rp 500.000. Kalau dalam satu hari rata-rata ada 20 mobil yang melakukan perawatan, omzet yang bisa Anda peroleh mencapai Rp 10 juta per hari atau sekitar Rp 300 juta sebulan.

Usaha bengkel, Stanly menjelaskan, memiliki dua sumber pendapatan. Pertama, pendapatan dari penjualan onderdil. Keuntungan dari penjualan onderdil biasanya 1%—15%. Sumber pendapatan kedua berasal dari jasa perbaikan. "Total keuntungan biasanya sekitar 25% dari omzet," ujar Stanly.

Mobil bekas juga bisa mendatangkan duit. Maklum, setiap mobil baru beredar, saat itu pula banyak mobil bekas ditawarkan. Olivia Antoni, pemilik showrom mobil Aldo Mobilindo, menyatakan, dengan uang  Rp 500 juta, Anda bisa berbelanja mobil bekas sebanyak 3—4 unit. Jika mobil itu terjual kurang dari dua pekan dan Anda melakukan jual beli mobil lagi dalam tempo yang sama, Anda bisa meraup omzet hingga Rp 1 miliar dalam sebulan. "Dengan margin keuntungan sekitar 5%—7%," katanya.

Kalau Anda tertarik mengadu peruntungan di bidang otomotif, tak ada salahnya mencoba. Memulai bisnis di bidang ini pun tak susah-susah amat. Anda pun bisa memilih jenis dan skala usaha dengan modal yang sesuai kantong pastinya.

Hidayat menggambarkan, membuka bengkel sepeda motor dan kios onderdil sepeda motor, sebenarnya bisa dimulai dengan modal Rp 15 juta saja. Tentu, dengan modal cekak tersebut, peralatan dan produk yang Anda jual pun terbatas. Sementara itu, bengkel mobil, menurut Stanly, membutuhkan modal setidaknya Rp 250 juta. Ini hanya untuk modal bengkel bergerak alias mobile. Untuk bengkel biasa yang dilengkapi peralatan yang memadai, modal yang dibutuhkan lebih besar, Rp 1 miliar.

Yang pasti, modal bukan satu-satunya yang mesti Anda siapkan. Anda juga harus menyiapkan lokasi yang strategis, sarana dan prasarana usaha Anda, dan juga strategi pemasaran serta promosi. Erie bilang, anggaran untuk promosi tidak harus besar. Sebab, media promosi yang paling efektif sebetulnya: pelanggan loyal.

Persiapan lainnya adalah karyawan. Untuk karyawan administrasi, tampaknya tak ada masalah. Namun, khusus untuk usaha bengkel, Hidayat memberi saran, sebaiknya Anda mencari mekanik yang andal.

Untuk usaha jual beli mobil seken, Olivia menyarankan, Anda juga mesti memilih karyawan yang paham dalam membeli mobil. Soalnya, kemampuan dalam memilih dan membeli mobil yang bagus merupakan kunci dalam bisnis ini.

Maklum, bisnis di bidang otomotif tak lepas dari risiko. Kalau tak hati-hati dalam membeli mobil bisa-bisa Anda mendapat mobil curian atau mobil dengan bukti pemilik kendaraan bermotor (BPKB) ganda. Bengkel pun punya risiko. Kalau mekanik tak andal dan salah dalam perbaikan, mobil yang diperbaiki justru makin rusak. Alih-alih dapat untung, bisnis bisa buntung karena harus mengganti mobil.

Persiapan yang paling penting sejatinya adalah sistem. Erie menjelaskan, sejak awal, Anda mesti menyiapkan sistem dalam bisnis Anda, baik sistem penjualan, proses, pembelian, dan juga pemasaran.

Kalau Anda sudah mendapatkan sistem yang baku dan berjalan baik, barulah Anda bisa mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain. Dalam sistem yang efektif, Anda bisa melakukan monitoring dan kontrol terhadap bisnis. "Sistem yang efektif adalah saat Anda sudah tidak terlibat secara langsung dalam bisnis yang menghasilkan untung," ujar Erie. [yy/
kontan/foto kontan.co.id]