fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Laba Bisnis Olahan Tahu Masih Gurih

Laba Bisnis Olahan Tahu Masih Gurih

Fiqhislam.com - Tahu merupakan satu jenis camilan yang akrab di kalangan masyarakat Indonesia. Camilan kecil nan gurih ini bisa dinikmati di pelbagai kesempatan, baik kalangan anak muda hingga orang tua. Dengan pasar yang begitu besar, peluang usaha penganan berbahan tahu masih menjanjikan keuntungan.

Belakangan ini, makanan berbahan baku tahu juga semakin populer, entah itu tahu goreng, tahu petis, atau tahu rebus. Dengan pelbagai cara olahan, masyarakat menjadi lebih punya pilihan sesuai dengan selera masing-masing. Karena itu, persaingan usaha camilan tahu juga semakin ketat.

KONTAN pernah mengulas usaha yang berbasis olahan tahu. Setidaknya, ada tiga tawaran kemitraan yang pernah diulas, seperti Tahu Pop, Tahu Petis Yudhistira, dan Tahu Krispi Tofuku.

Seluruh gerai tampaknya masih mampu mengembangkan kemitraannya, meski pertumbuhannya tak terlalu cepat. Ada yang selektif mencari mitra, ada juga yang merancang strategi untuk tetap bisa bersaing. Berikut ulasan ulang beberapa usaha kemitraan berbasis tahu.

 

Tahu Pop

Tahu Pop merupakan usaha olahan tahu yang sudah beroperasi sejak tahun 2009 dan menawarkan kemitraan pada akhir tahun 2010. Saat KONTAN mengulasnya tahun lalu, Tahu Pop sudah memiliki 35 mitra yang tersebar di Jakarta, Bandung, Jatinangor, Garut, dan Sumedang.

Kini, usaha Tahu Pop terus berkembang. Mitranya bertambah menjadi 40. Dari total gerai sebanyak 44, empat gerai di antaranya merupakan milik sendiri. Pemilik Tahu Pop, Andri Juanda mengatakan, pada Februari ini, gerai terbaru Tahu Pop dengan konsep kafe mini akan dibuka di Bandung.

Tahu Pop menyajikan olahan tahu dengan aneka rasa, seperti barbekyu, sambal balado, udah pedas, ayam bawang, dan kari ayam. Seporsi Tahu Pop masih dibanderol seharga Rp 6.000, sama seperti tahun lalu.

Namun, Andri menambah tiga menu baru, yakni lumpia tahu, burger tahu, dan steik tahu yang dibanderol dengan kisaran harga Rp 10.000-Rp 15.000 per porsi.

Adapun paket investasi Tahu Pop masih sama. Tahu Pop menawarkan empat paket investasi, yakni paket big stand senilai Rp 6,5 juta, paket dorong senilai Rp 7,5 juta, paket motor senilai Rp 25 juta, dan paket kafe mini yang sekarang naik menjadi Rp 60 juta, dari sebelumnya sebesar Rp 45 juta.

Untuk tiga paket pertama, Andri memprediksi mitra bisa meraup omzet sekitar Rp 9 juta per bulan. Sementara, untuk mitra yang mengambil paket kafe mini, ia memprediksi mitra bisa mengantongi omzet Rp 36 juta per bulan.

Andri menargetkan para mitra Tahu Pop bertambah menjadi 80 hingga 100 sepanjang tahun 2013. Rencananya, ia akan menyertakan Tahu Pop pada pameran waralaba di beberapa kota.

Sebenarnya, Andri sering mendapat tawaran dari calon mitra yang berasal dari luar Pulau Jawa. Akan tetapi, dengan alasan kendala pengiriman bahan baku, ia terpaksa menolak dulu.

Asal tahu saja, bahan baku olahan tahu yang Andri buat hanya tahan selama seminggu. Untuk itu, ia sedang mencari cara agar tetap bisa menggaet mitra di luar Pulau Jawa. “Mungkin saya akan membangun pabrik tahu di Sumatra dan Kalimantan sebagai pemasok bagi mitra yang ada di dua pulau itu,” tuturnya.

 

Tahu Petis Yudhistira

Tahu petis khas semarang menjadi jenis tahu khas yang ditawarkan Tahu Petis Yudhistira. Tahu yang dijajakan memang menggunakan bahan baku petis udang yang didatangkan langsung dari Semarang. Rasa petis Semarang yang manis bercampur gurih tersebut berbeda dengan petis dari daerah lainnya.

Tahu petis Yudisthira telah berdiri sejak tahun 2006. Kemudian, sejak tahun 2009, sang pemilik, Wieke Anggraini, mulai menawarkan kemitraan. Saat KONTAN terakhir mengulas kemitraan ini pada September 2011 lalu, Tahu Petis Yudhistira memiliki sebanyak 20 mitra. Kini, jumlahnya berkembang menjadi 28 mitra.

Gerai mitra paling banyak berkembang ada di daerah Jakarta Selatan. Selain daerah Jabodetabek, mitra juga berada di Yogyakarta, Bandung, dan Semarang. Wieke mengaku sangat selektif dalam memilih mitra. "Meskipun ingin ekspansi, tapi kami tetap memilih mitra yang mau serius mengembangkan usaha ini," tuturnya.

Menurut Mieke, selektif merupakan kunci usahanya masih berdiri hingga sekarang. Lihat saja, rata-rata para mitranya telah kembali modal. Selain pemilihan mitra, yang tak kalah penting juga pemilihan lokasi harus tepat. "Produk kami unik, jadi sebaiknya hadir di lokasi yang pas dengan produk kami," tuturnya.

Selain produk tahu petis, Mieke tengah mengembangkan produk lainnya, yakni petis kemasan dan kerupuk petis. Hal ini dilakukan agar petis semakin diterima masyarakat.

Wieke akan menjajakan produk termaru dalam kemasan itu ke aneka toko oleh-oleh dan supermarket. Selain itu, para mitranya pun turut menjadi tempat pemasaran petis kemasan serta kerupuk petis. "Dengan begitu, produk yang dijual tidak cuma tahu," jelasnya.

Hingga kini, Wieke masih terus menawarkan kemitraan. Namun, harga paket investasi telah naik dari sebelumnya Rp 11 juta menjadi Rp 15 juta untuk satu paket. Dengan biaya ini, mitra telah memperoleh booth, perlengkapan, serta kerja sama selama tiga tahun. Harga tahu petis yang dijual pun kini telah meningkat dari sebelumnya Rp 2.500 menjadi Rp 3.000 per tahu.

 

Tahu Krispi Tofuku

Tahu Krispi Tofuku berdiri pada Februari 2008 di Surabaya. Ketika KONTAN mengulas kemitraan tahu ini dua tahun lalu, Krispi Tofuku memiliki 150 gerai, dua di antaranya merupakan milik sendiri. Kini, gerai Krispi Tofuku bertambah menjadi 155 gerai, hanya satu di antaranya yang merupakan milik sendiri.

Diah Setianingsih, pemilik Krispi Tofuku, mengatakan beberapa gerai memang tutup karena tidak bisa bersaing dengan usaha olahan tahu yang belakangan berkembang pesat. Bahkan, saat ini, sudah banyak usaha yang menjual olahan tahu dengan harga yang sangat murah, yakni Rp 1.000 per tahu. Lantaran persaingan ketat itu, beberapa mitranya menutup gerai.

Bahkan, Dian juga terpaksa menutup salah satu gerai milik sendiri tahun lalu. Meski begitu, tetap ada tambahan mitra baru di Bali, Samarinda, dan Bontang.

Paket usaha yang ditawarkan Krispi Tofuku masih tetap seperti pertama kali menawarkan kemitraan. Krispi Tofuku menawarkan dua paket investasi, yakni Rp 7 juta untuk paket indoor dan Rp 8,5 juta untuk paket outdoor.

Adapun harga jual produknya juga tidak berubah. Seporsi tahu Krispi Tofuku dibanderol seharga Rp 5.000. “Harga jual belum saya naikkan karena harga bahan baku juga tidak naik begitu signifikan,” ujar Dian.

Namun, sejak tahun 2012, Krispi Tofuku menambah dua menu baru, yakni kentang goreng dan jamur krispi yang dijual seharga Rp 7.000 per porsi. Dari semua menu itu, mitra bisa meraup omzet Rp 6 juta per bulan dan balik modal sekitar 10 bulan.

Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dian tidak membuat target pertambahan mitra baru tahun ini. “Kami mau fokus mendampingi mitra dan memasok bahan baku pada mitra,” tuturnya. [yy/kontan]