pustaka.png
basmalah.png.orig


5 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 15 Juni 2021

Ternak Itik Viking-Rambon, Lebih Untung Dan Digemari Konsumen

http://suaramedia.com/images/resized/images/stories/4berita/1-9-ekonomi/itik-viking-rambon_jp_200_200.jpgPetani Kabupaten Cirebon kini sedang mengembangkan itik hasil perkawinan silang antara itik jenis Viking dan itik ras asli Cirebon (Rambon) sebagai unggas potong dengan alasan lebih ekomonis.

"Petani semula memiliki sekitar 200 ekor itik Viking, tetapi kini telah tiga tahun dikembangkan dengan mengawinkannya dengan Rambon," kata Kasi Peternakan, Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Setio Utomo kepada wartawan, di Sumber, ibukota Kab Cirebon.

Persilangan itik Viking dan Rambon tersebut menghasilkan keturunan yang lebih unggul, khususnya untuk itik potong.

Selama ini petani menjual itik potong setelah unggas petelur tersebut diapkir, kira-kira berumur hampir dua tahun.

Dengan itik hasil silangan tersebut, petani bisa menjualnya setelah 1,5 sampai dua bulan sebagai itik potong. "Jadi tidak perlu menunggu tahunan," katanya.

Karena pada usia dua bulan, itik persilangan tersebut beratnya telah mencapai dua kilogram dan siap dikonsumsi.

Dari segi harga jauh lebih mahal, yakni sekitar Rp25.000 per ekor, sedangkan itik apkir hanya berkisar Rp17.000 dan Rp20.000,- per ekor.

Berdasarkan pengalaman para petani, itik persilangan antara itik Viking dan Rambon tersebut jauh lebih digemari konsumen karena dagingnya jauh lebih lembut (empuk) dibandingkan itik apkir.

Pemasaran itik persilangan itu, kini terutama mengisi sejumlah restoran di Jakarta.

"Permintaan itik persilangan tersebut sangat besar, tetapi petani belum bisa memenuhinya karena memang baru dikembangkan tiga tahun terakhir," katanya.

Dinas Pertanian, khususnya seksi Peternakan, akan mendorong agar petani mengembangkan itik potong hasil persilangan yang unggul tersebut sebagai mata pencaharian utama, tambahnya. (pikiran-rakyat.com | Suaramedia.com)