fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Raup Laba Dari Balik "Onggokan" Kerang Hijau

http://2.bp.blogspot.com/_rKj0oK2ulsU/SQ-lmLx4eGI/AAAAAAAACRU/SCMeDc-vkxE/s320/kerang+ijo.jpgNelayan kota Cirebon saat ini berupaya meningkatkan pendapatan dengan cara membudidayakan kerang hijau yang banyak terdapat di sepanjang pantai kota tersebut.

"Budidaya kerang hijau merupakan salah satu upaya meningkatkan pendapatan nelayan karena bisa dipanen setiap bulan bahkan setiap hari," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Cirebon Odi Suyadi kepada wartawan di Cirebon.

Dikatakannya, budidaya kerang hijau tersebut tahap pertama dilakukan di 20 unit bagan, dan hasilnya setelah empat bulan mencapai 1 ton per unit.

Apabila harga rata-rata Rp2000 per kilogram, maka satu unit bisa menghasilkan pendapatan Rp 2 juta.

Panen kerang hijau bila diupayakan secara intensif, bisa dilakukan tiap hari, katanya seraya menambahkan satu unit bagan dipelihara oleh 10 nelayan.

Pembuatan bagan pun sangat gampang hanya menancapkan kayu di tengah pantai sebagai tempat mengikatkan tali, maka di tali- tali itulah kerang hijau akan tinggal, katanya.


Ia mencontohkan, budidaya kerang tersebut seperti yang dilakukan oleh nelayan di Muara Kanal Jakarta yang sudah mencapai empat ton per hari per bagan. "Kita mengharapkan sejalan dengan pengetahuan dan kebiasaan nelayan dari sekedar mencari ke pola memelihara akan mendekati hasil yang dicapai nelayan di Muara Kanal tersebut," katanya.


Mengenai potensi kerang hijau di pantai Cirebon sangat besar. "Nelayan tinggal membudidayakan, tidak perlu dikasih makan kerang hijau tersebut sudah besar sendiri di laut," tambahnya.


Hanya saja yang memerlukan pengubahan pola kebiasaan nelayan dari mencari ikan menjadi membudidayakan. "Mencari tampaknya agak kurang dibutuhkan kesabaran, berbeda dengan membudidayakan," katanya.


Kelebihan membudidayakan, tidak bergantung musim karena bisa panen sepanjang tahun. Sedangkan menjadi nelayan sangat bergantung kepada musim, misalnya musim ombak besar tidak bisa melaut, tambah Odi.


Komoditas yang satu ini ternyata diminati pasar ekspor. Kerang hijau memiliki nilai gizi dan protein yang cukup tinggi bila dibandingkan makanan lainnya. Teknologi membudidayakan si hijau ini pun juga sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Tak henti-hentinya pemerintah mendukung program perikanan nasional. Baik kepada para nelayan, pembudidaya maupun kepada masyarakat yang baru mau terjun ke sektor ini. Belum lama ini misalnya, pemerintah akan membangun areal budidaya kerang hijau di beberapa wilayah. Di antaranya di pantai utara Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, serta di perairan Lampung. Masing-masing lokasi akan dibangun area baru seluas 3 hektare. Rencana ini terkait target pemerintah untuk memasuki pasar Uni Eropa untuk komoditas kerang hijau.

Tentunya selain untuk peningkatan produksi, kegiatan budidaya kerang hijau ini juga akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Jika menilik luas perairan kita yang mencapai kurang lebih 70 % dari total luas Indonesia bisa dijadikan sebagai modal yang besar untuk mengembangkan usaha budidaya laut.

“Potensi produksi kerang Indonesia cukup besar untuk bisa masuk ke pasar Uni Eropa”, ujar Dirjen Perikanan Budidaya Made L. Nurjana suatu ketika. Made juga mengatakan, DKP telah menyiapkan dana Rp 1,4 miliar untuk membantu permodalan bagi para pembudidaya kerang hijau serta jenis kerang yang lain dan rumput laut. Dana tersebut bahkan telah disiapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana tersebut kini telah dititipkan ke lembaga perbankan sebagai penjamin bagi para pembudidaya dan nelayan yang akan mengembangkan usahanya.

Made optimistis dengan adanya kemudahan sumber permodalan dari bank, maka usaha budidaya kerang hijau akan dapat berkembang lebih besar lagi. Apalagi dalam usaha budidaya kerang hijau teknologinya tergolong sederhana dan tidak memerlukan biaya mahal. Pada dasarnya budidaya si hijau ini memang tidak memerlukan pakan maupun perawatan yang intensif.

Untuk investasinya diperkirakan hanya membutuhkan sekitar Rp 5 juta saja per unit usaha. Modal itu sudah termasuk untuk membangun rakit apung atau rakit tancap dan juga upah tenaga kerja. Budidaya ini selain dilakukan untuk mengantisipasi wilayah yang over fishing, juga sebagai alternatif lain bagi nelayan yang pendapatannya sudah berkurang dari overfishing itu sendiri.

Dengan budidaya kerang hijau (Perna viridis) ini, selain untuk konsumsi, komoditas ini juga dapat memperbaiki kualitas air laut yang ditempatinya. Karena biota laut ini diketahui memiliki sifat menyerap limbah beracun di habitatnya itu. Meski begitu usaha budidaya kerang hijau di tempat yang tercemar itu tidak disarankan untuk dikonsumsi, melainkan hanya sebagai resapan dari industri saja.

Banyak Daerah Sukses dari Si Hijau
Salah satu daerah yang berhasil mengembangkan budidaya ini adalah Banten dan Cirebon. Rata-rata para nelayan di Cirebon menghasilkan kerang hijau dari rakit apung dan rakit tancap sekitar 6 ton per unit dengan nilai sekitar Rp 4,2 juta. Kerang hijau yang baru dipanen dihargai Rp 700 per kg. Jika kerang sudah dibersihkan dan dilepas dari kulitnya bisa dijual Rp 1.200 per kg.

Untuk wilayah Cirebon saja diperkirakan bisa memproduksi kerang hijau sebanyak 10 ribu ton per tahun. Sedangkan Banten baru sekitar 3 ribu ton pertahun. Jika melihat kebutuhan untuk sebagian besar hotel dan restoran di Jakarta saja, yang setiap harinya membutuhkan setidaknya mencapai 100 ton kerang hijau. Tak heran bila peluang budidaya komoditas perikanan yang satu ini masih sangat terbuka luas.

Tak hanya itu, budidaya kerang hijau ini juga mempunyai hasil ikutan yang lain. Misalnya, cangkang yang memiliki warna cukup indah itu dapat digunakan sebagai bahan hiasan dan kerajinan rumah tangga. Selain itu dapat pula diolah menjadi grit sebagai bahan pakan ternak unggas.

Banyaknya permintaan ekspor akan komoditas ini dikarenakan kerang hijau memiliki nilai gizi tinggi dibandingkan dengan sumber makanan lainnya seperti daging sapi, kambing, ayam dan telur. Dagingnya mengandung beberapa mineral seperti kalsium, fosfor, besi, yodium, thiamin, riboflavin, niasin, asam panthothenat, pyridoxine, biotin, B-12 dan asam folic.

Komposisi kerang hijau terdiri dari: 40,8% air; 21,9% protein; 14,5% lemak; 18,5% karbohidrat; dan 4,3 % abu. Meskipun daging kerang hijau hanya sekitar 30% dari bobot keseluruhan (daging dan cangkang), tetapi dalam 100 gr daging kerang hijau mengandung 100 kalori yang tentunya sangat bermanfaat untuk ketahanan tubuh manusia.

Selain itu, pada daging kerang hijau juga terdapat zat yang dapat membantu meningkatkan kerja organ hati dalam tubuh manusia. Sedangkan ekstrak daging kerang hijau bermanfaat sebagai anti rematik dan arhtritis (penyakit radang sendi). Selain untuk konsumsi manusia daging kerang hijau digunakan pula sebagai alternatif pengganti tepung ikan.

Kerang hijau sendiri termasuk ke dalam golongan binatang lunak (molusca). Bercangkang hijau yang hidup di laut dan menempel pada substrat seperti karang, tiang bagan, tiang dermaga, dan lain-lain. Kerang hijau dapat hidup pada perairan dengan kadar garam 27-35 0/00 pada kedalaman 1-7 meter.

Seekor kerang hijau dewasa mampu menghasilkan telur sebanyak 12.000.000 butir yang dilepaskan ke air. Setelah dibuahi, telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva dan hidup di perairan sebagai plankton. Setelah lebih kurang dua minggu, larva tersebut akan mencari substrat untuk menempel dan tumbuh menjadi kerang dewasa.

Benih kerang hijau dapat diperoleh dengan kolektor, yaitu suatu benda padat yang berupa tali plastik (PE), jaring monofilamen, atau incin yang dibenamkan ke dalam air. Apabila di suatu perairan diperkirakan cocok untuk budidaya kerang hijau tetapi tidak ada benihnya, maka hal tersebut dapat diatasi dengan jalan transplantasi atau melakukan introduksi benih kerang hijau ke perairan tersebut.

Di Indonesia kerang hijau memijah sepanjang tahun, namun untuk bisa mendapatkan benih yang banyak biasanya bisa didapat pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli. Kecepatan pertumbuhan rata-rata 0,7-1,0 cm per bulan, dan setelah berumur 6-7 bulan kerang hijau dapat dipanen. Secara ekonomi, budidaya kerang hijau dinilai sangat menguntungkan. Bagaimana tidak, satu bagan tancap yang berukuran 25 x 10 m2 mempunyai potensi produksi sekitar 20 – 28 ton kerang hijau dengan nilai jual bisa mencapai Rp 14.000.000 (jika asumsi harga per kilo Rp 500).

Berdasarkan perhitungan untuk memulai usaha budidaya diperlukan modal awal sekitar Rp 5.000.000. Lokasi budidaya kerang hijau disarankan di perairan yang relatif tenang (tidak terbuka), sehingga dapat menghindari ombak besar yang dapat merusak sarana produksi.

Teknik Budidaya Kerang
Budidaya kerang hijau dapat dilakukan dengan menggu-nakan 4 macam metoda yaitu: metoda tancap (post method), rakit apung (raft method), rakit tancap/rak (rack method) dan tali rentang (long line method).

Sedangkan kondisi lingkungan perairan antara lain harus terhindar dari gangguan arus kencang, perubahan suhu yang mendadak, dan salinitasnya antara 27-35 permil. Selain itu harus terhindar dari fluktuasi kadar garam yang tinggi, jauh dari pengaruh sungai besar, bebas dari pencemaran limbah industri dan rumah tangga karena dapat membahayakan untuk dikonsumsi.

Jenis-jenis kerang yang sampai saat ini sudah bisa dibudidayakan adalah :

1. Kerang darah (anadara granosa)
2. Kerang hijau (perna viridis)
3. Kerang mutiara (pinctada maxima)
4. Kerang abalone (haliotis asinina)

Kita akan ambil salah satu contoh teknik budidaya kerang hijau dengan menggunakan metode rakit apung. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya antara lain: tali, rakit (terdiri dari tali, bambu,
pelampung) dan jangkar.

Rakit yang digunakan dalam metoda ini berfungsi untuk mengumpulkan spat (benih kerang). Dan sekaligus sebagai tempat pembesaran dengan menggunakan tali kolektor tempat menempelnya spat. Rakit terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kerangka untuk menggantungkan tali dan unit pelampung. Guna menyangga rakit supaya tetap menga-pungserta jangkar atau pemberat sebagai penahan rakit.

Ada dua macam bahan yang digunakan untuk membu-at kerangka yaitu bambu dan kayu, namun pada umumnya yang digunakan adalah bahan dari bambu. Untuk rakit dengan ukuran 6m x 8m (48 m2) dibutuhkan bambu 18 batang. Dengan jumlah tali gantungan untuk 1 unit adalah 96 tali dengan panjang 3 meter per tali. Sedangkan untuk pelampung menggunakan drum plastik sebanyak 8 buah. Dan untuk pemberatnya menggunakan karung semen sebanyak 2 buah dengan bobot masing-masing pemberat 25 kg.

Perairan dengan dasar berlumpur lebih cocok menggunakan tongkat kayu. Sedangkan jenis penahan/ pemberat lainnya dapat digunakan pada dasar perairan berpasir.

Panen kerang hijau dapat dilakukan setelah kerang berumur 5 – 6 bulan atau telah berukuran 6 – 8 cm. Atau bisa juga disebut sebagai “ukuran tusuk”. Satu unit usaha dengan ukuran 6m x 8m dapat menghasilkan 2.880 kg kerang hijau.

Tali kolektor yang telah dipenuhi kerang hijau yang siap dipanen dibawa ke darat untuk dilakukan perontokan. Kerang dirontokkan dengan menggunakan alat lempeng besi yang tajam sehingga pada saat mengikis kerang, benang byssusnya tidak tercabut dari tubuhnya.

Setelah kerang dibersihkan dari lumpur, pasir dan hewan-hewan yang menempel, kemudian kerang direndam di air yang tidak tercemar dalam kondisi terkontrol (metoda depurasi). Tahap selanjutnya adalah penanganan daging kerang hijau. Untuk skala kecil dapat dilakukan secara manual. (fn/umkm/am/suaramedia.com
)