pustaka.png.orig
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Sulap Barang Sederhana Jadi Produk Menguntungkan

http://suaramedia.com/images/resized/images/stories/4berita/1-9-ekonomi/celengan_a_200_200.jpgSiapa guru yang tidak pernah mengajarkan anak didiknya untuk menabung? Nilai positif itu sudah diajarkan sejak zaman kakek saya, turun-temurun hingga saat ini.

Barangkali saat ini menabung berbeda dengan zaman saya kecil yang menggunakan celengan ayam atau kodok dari tanah liat. Menabung kini menggunakan media yang lebih canggih yaitu melalui rekening bank.

Namun masih saja ada orang yang gemar menyimpan dengan menggunakan cara konvensional, melalui media celengan atau lebih populer disebut coin bank. Disebut coin bank, karena celengan kini lebih berfungsi untuk menyimpan uang logam recehan.

Seakan ingin mengembalikan fitrah celengan sebagai media menyimpan uang, sepasang pemuda dari Yogyakarta megembangkan usaha produksi coin bank modern dan bentuk yang lucu.

Mereka adalah Dodit Merkusianto dan Deny Cupriantoro, kakak beradik wirausahawan celengan dengan merek Nuza2.

"Kami buat celengan seperti ini supaya fungsinya bukan hanya jadi penyimpan uang tapi juga pantas sebagai pajangan," ujar Dodit.

Tidak disangka, celengan yang dibuat dalam bentuk babi, anjing, kodok, dan angsa ini laris manis. Apalagi pada musim liburan, gerai produk Nuza2 yang ada di hampir semua pedagang trotoar Malioboro banyak diborong anak-anak sekolah.


Kisah sukses mereka ini berawal dari usaha iseng-iseng Dodit dan Deny yang ingin merasakan kemeriahan pasar Sekatenan di alun-alun Yogyakarta pada akhir 2002.


Kebetulan Dodit yang berlatar belakang pendidikan desain interior VISI Yogyakarta ini memiliki bakat mendesain benda-benda seni, sementara Deny yang berpengalaman di bidang usaha reparasi komputer, memiliki kemampuan mengutak-atik mesin.


Alhasil keduanya berkolaborasi dan membuat ide untuk membuat cetakan celengan dari tanah liat yang semula sudah mereka rencanakan jadi celengan berbentuk telur ayam.


Mulailah mereka membuat ide celengan bentuk telur ayam sebesar kasuari itu yang dihias dengan lukisan-lukisan cantik dan menarik.


"Ternyata celengan telur ayam yang kami jual Rp3.000 per buah langsung habis. Keuntungannya waktu itu bisa mencapai Rp400.000 dalam sehari," ujar Deny.


Usahanya berlanjut hingga lokasi mereka pindah ke pinggir trotoar Hotel Mutiara Malioboro. Namun, perlahan-lahan pasar tampaknya mulai bosan dengan celengan tanah liat bentuk telur ayam. Dan terpikir di benak dua bersaudara itu untuk berinovasi dengan celengan mereka.


Alhasil, tercetus ide membuat celengan dengan bahan polyresin yang mampu menghasilkan produk celengan lebih halus dan desain warna-warna cerah.


Namun tidak begitu saja mimpi itu terwujud. Awalnya, Deny harus membuat mesin cetak yang sesuai dengan ide produk dan desain sang kakak. Dengan beragam eksperimen dan uji coba, akhirnya mesin yang diharapkan bisa tercipta.


Tahap selanjutnya adalah membuat campuran kimia yang didominasi oleh bahan polyresin. Hingga butuh waktu setidaknya setahun lamanya sebelum Nuza2 siap diproduksi.


Saat mesin produksi sudah berjalan, selanjutnya membuat strategi pemasaran. Beruntung lokasi workshop Nuza2 berada di rumah mereka di Pringgokusuman, tidak jauh dari kawasan wisata Malioboro.


Selain itu, beberapa pedagang rekanan Nuza2 tidak lain adalah tetangga dekat yang siap menerima produk celengan cantik itu menjadi pelengkap barang dagangan.


Dalam waktu 2 tahun saja, produk mereka selalu laris manis. Ada celengan bentuk anjing warna jingga, atau kodok hijau, dan babi merah muda yang berwajah lucu.


Saat ini Dodit dan Deny mengaku sudah cukup kewalahan memenuhi kebutuhan pasokan barang di kawasan Maliboro, ditambah beberapa pesanan dalam jumlah massal lainnya.


Langganan mereka salah satunya adalah para mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UGM yang banyak memesan artifisial gigi untuk keperluan praktik kuliah.


Meski banyak pesanan, mereka tetap mengerjakan sendiri produk Nuza2 tanpa dibantu orang lain. Alasannya sepele, mereka ingin meminimalisasi kegagalan proses produksi.


"Saat finishing produk ini membutuhkan ketelitian dan detail untuk menjaga kualitas dan kesempurnaan, sehingga proses produksi masih bisa kami kerjakan sendiri ditambah bantuan mesin," ujar Dodit.


Ke depan, mereka yakin jika usaha ini akan berkembang. Apalagi dengan harga jual yang dipatok cukup terjangkau antara Rp8.000 dan Rp20.000, celengan-celengan cantik ini akan digemari bukan hanya sebagai wadah penyimpang uang, melainkan juga hiasan rumah.


Selain itu, beberapa perusahaan juga dapat memanfaatkan produk ini menjadi merchandise perusahaan yang layak untuk klien atau rekanan kerja.


Bahkan demi memenuhi tuntutan pasar, mereka juga mulai memproduksi beberapa celengan berbentuk action figure, misalnya, Batman dan Silvester yang hingga kini tidak pernah berhenti dipesan orang.


Dalam setiap proses persiapan perhelatan pernikahan, sepasang calon pengantin akan disibukkan dengan segala urusan yang berhubungan dengan perlengkapan sebuah pesta. Mulai dari undangan, katering, baju dan rias pengantin, dekorasi, gedung, hingga seserahan.

Ada satu hal yang tidak kalah penting dipersiapkan, yaitu suvenir. Apalagi pada zaman modern dewasa ini, suvenir pernikahan semakin inovatif tidak hanya terbatas pada hiasan patung dari tanah liat, kalender, kipas, ataupun pembuka botol.

Banyak pasangan menginginkan suvenir pernikahan yang tidak langsung dibuang oleh para tamu undangan yang menerima saat pesta digelar, karena unik, menarik, bermanfaat, atau sayang.

Dengan latar belakang itu pula Deny dan Dodit mulai mengembangkan bisnis produk suvenir aneka bentuk untuk pernikahan.

Keunikan produksi milik duo wirausahawan Deny Cupriantoro dan Dodit Merkusian ini ada pada bentuk dan warna produk yang berbeda dengan yang lain. Apalagi lokasi kerja mereka di Yogyakarta, membuat suvenir mereka ada khas tradisional Jawa.

Misalnya saja, jika suvenir pernikahan lain menawarkan patung pasangan pengantin dengan busana kebaya dan beskap, maka Nuza2 menghias wajah patung itu dengan foto kedua calon mempelai. Ada yang duduk bersanding, tetapi ada juga pose mempelai pria tengah menggendong pasangannya.

Atau jika malu memajang foto, kedua calon mempelai dapat memilih patung pasangan korea yang tengah mengenakan busana tradisional Korea dan dihiasi dengan warna-warni menarik.

Jika tidak ingin membuat model suvenir bergaya patung pasangan pengantin Jawa, Nuza2 juga menyediakan aneka kue dalam mangkuk kertas yang dihias berbagai warna menarik dan tampak seperti aslinya.

Deny menyatakan produk yang baru diluncurkan sekitar setahun belakangan ternyata mendapat respons yang sangat baik. Bahkan usaha membuat celengan dengan bahan baku yang sama sempat booming sebelumnya terpaksa dihentikan karena dia lebih disibukkan dengan urusan suvenir pengantin.

Keunikan dari model dan konsep yang berbeda dengan suvenir lain membuat produk Nuza2 mendapat respons yang sangat baik di kalangan vendor penyedia jasa pesta pernikahan. Bahkan pesanan dari pelanggan banyak berdatangan dari Jakarta, Manado, Makassar, Palembang, Medan, Bali, dan kota-kota lain di Indonesia.

Jika dibeli dalam partai besar, hiasan-hiasan pernikahan ini dipatok dengan harga murah, antara Rp2.000 dan Rp7.000, sesuai dengan ukuran dan tingkat kesulitan selama proses pengecatan.

Apa yang disampaikan Deny ini tidak hanya isapan jempol. Ini karena Deny bersama sang kakak Dodit membuat mesin cetak suvenir ini sendiri dan formula pencampuran bahan baku yang mereka dapatkan selama setahun berjalan usaha ini.

Tingkat kesulitan yang tinggi serta proses pengerjaan yang membutuhkan keuletan dan kesabaran tinggi, membuat duo usahawan ini masih mengerjakan proses cetaknya sendiri, tanpa dibantu orang lain.

Saat pesanan selalu menggunung, proses penyelesaian termasuk pengemasan mereka serahkan ke masyarakat sekitar kampung yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Manfaatkan Internet

Kini, usaha yang dibangun sejak 3 tahun lalu ini sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Bahkan Dodit yang menyelesaikan pendidikan di jurusan desain VISI Yogyakarta dan Deny dari Fakultas Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta ini mengaku kewalahan dengan pesanan pelanggan.

Apalagi beberapa bulan menjelang musim liburan, banyak pesta pernikahan mulai digelar dan para vendor suvenir pernikahan mulai banyak memesan barang sejak sekarang.

Padahal menurut Deny, sejak usahanya serius dijalankan 3 tahun lalu, pihaknya tidak pernah mengiklankan produk Nuza2 melalui surat kabar.

Strateginya kala itu hanya mengirimkan sampel ke beberapa wedding organizer di kota-kota besar, sekaligus membuat sebuah situs blog yang berisi informasi produk Nuza2.

"Ternyata kemajuan Internet ada untungnya untuk iklim usaha, buktinya proses komunikasi kami dengan para pelanggan justru lebih banyak dilakukan melalui e-mail," ujar Deny. (fn/cp/cbn/suaramedia.com
)