fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Kupas Peluang Emas di Balik Tanaman Kecipir

http://buahku.files.wordpress.com/2010/09/kecipir2.jpg

Ayam mati di lumbung padi, keledai kelaparan di padang rerumputan. Kalimat ini bukan pantun jenaka, tetapi sebuah satire untuk menunjukkan betapa Indonesia dan masyarakatnya penuh paradoksal.  Paradoks karena banyak berita kelaparan, kekurangan susu bagi anak-anak di negeri yang sangat subur makmur ini.

Adi Kharisma, diundang oleh Panitia Terra Madre, sebuah forum pertemuan  komunitas pengolah pangan lokal, yang diselenggarakan oleh Dewan Pangan Italia dan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat di Turin, Italia. Terra Madre diselenggarakan setiap dua tahun dan dihadiri tidak kurang dari 5000 peserta dari seluruh dunia. Seluruh biaya para peserta ditanggung oleh panitia, mulai dari tiket pesawat terbang hingga akomodasinya. Berapa biaya penyelenggaraannya? Bukan hal penting, tetapi makna besar, pangan lokal Indonesia, setidaknya Adi Kharisma tengah menyuarakannya.

Ikhwal keberangkatan Adi, yang dikenal sebagai praktisi dan pemerhati pangan lokal berawal dari keprihatinannya melihat begitu banyak masalah kemiskinan, kekurangan gizi, dan rawan pangan yang didera masyarakat Indonesia. “Sebuah ironi, begitu banyak potensi yang dapat dimanfaatkan untuk pangan, susu dan makanan yang sangat bergizi lainnya sangat memungkinkan seluruh masyarakat terpenuhi gizinya,” ujar Adi kepada WK

Dua tahun lalu Adi hadir di Terra Madre, mempresentasikan potensi Ubi Jalar Indonesia yang begitu fenomenal. Produk Ubi Jalar oleh Adi dijadikan berbagai makanan olahan dan minuman bergizi, menjadi ice cream, burger, dan lain-lain. Ubi Jalar yang selama ini dikenal sebagai jenis makanan kelas rendahan telah diubahnya menjadi komoditas berkelas, dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain itu Ubi Jalar juga merupakan jenis makanan berserat tinggi dan dapat berfungsi sebagai anti oksidan dan anti kanker yang penting bagi kesehatan.

Apakah hal ini cukup membuka mata pemerintah, ahli-ahli pangan dan gizi yang sekolahnya disubsidi uang rakyat, dan masyarakat, bahwa tidak layak masyarakat kita kelaparan karena ketiadaan beras?


Susu Kecipir


Awal Oktober 2008, Adi Kharisma berangkat lagi ke Turin, Italia untuk menghadiri Terra Madre 2008 di sana. Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki wawasan bagaimana membangun kesadaran menciptakan pangan lokal sebagai ketahanan pangan masyarakat setempat Bersama dengan 9 orang, yang semuanya peduli pada produk pangan lokal ia akan mempresentasikan betapa Kecipir memiliki potensi sebagai susu pengganti susu sapi yang harganya semakin sulit terjangkau kalangan masyarakat kelah rendahan di Indonesia.


Terhadap Susu Kecipir, Adi sendiri telah mengujinya dan memberikan kepada anak-anak sekolah di Kawasan Tangerang, Banten, dan di Kawasan Bali. Tanggapannya? Luar biasa. Kandungan gizinya tak diragukan lagi. Cara pembuatannya mudah, cukup dengan teknologi tepat guna biasa. Mengapa Kecipir, dan bukan kedelai? “Jangan singgung-singgung kedelai. Itu komoditas politik, sama seperti beras. Sudah jelas kedelai sebagian besar produknya import, harganya dikontrol oleh siapa kita tidak tahu, dan pemerintah tidak mau mencari alternatif dimana kita dapat terbebas dari ketergantungan produk-produk import,” ujarnya.


Menurut Adi masyarakatlah yang harus mengupayakan sendiri, dan persoalan Kecipir adalah sisi lain yang dapat memantik kita untuk belajar tentang 5 hal. Kelima hal tersebut adalah : memanfaatkan produk lokal, murah, mudah ditanam, yang memiliki nilai protein tinggi, kedua produk tersebut memiliki muatan lokal sebagai implementasi kecintaan produk sendiri, memanfaatkan pertanian sederhana yang dapat dilakukan di pekarangan rumah, ketiga meyeleraskan lingkungan hidup dimana tanaman kecipir mampu memberikan fiksasi nitrogen dan memberikan oksigen, keempat menjadi pembelajaran kewirausahaan karena kecipir dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk, dari susu kecipir, tempe kecipir, burger tempe kecipir, dan lain sebagainya. Kelima, mata rantai nilai kecipir yang akan memberikan nilai ekonomis bagi amsyarakatnya.


Masih belum puas? Tunggu oleh-oleh cerita Adi Kharisma sepulang dari Terra Madrea, Turin, Italia akhir Oktober mendatang. Berminat sharing dengan Adi Kharisma dapat menghubungi 00811397590

Dulu, biji kecipir hanya dikenal sebagai makanan camilan bagi para petani di pedesaan. Namun kini, dengan sedikit sentuhan teknologi yang sederhana, biji kecipir bisa diolah menjadi Yoghurt.

Lagi pula, kalau dulu yang namanya Yoghurt hanya terbuat dari bahan baku susu sapi. Namun, berkat kecanggihan rekayasa kalangan industri, kini Yoghurt tidak harus terbuat dari bahan hewani. Yoghurt bisa dibuat dengan bahan nabati, terutama dari jenis kacang-kacangan, misalnya biji kecipir yang dinilai cocok.

Hal menarik,untuk membuat industri Yoghurt dari bahan biji kecipir bisa dilakukan dalam skala rumah tangga, dan dengan modal yang tidak begitu besar. Apalagi proses pembuatan Yoghurt dari biji kecipir ini relatif sederhana.

Proses pembuatan Yoghurt biji kecipir yang relatif sederhana ini ada 5 (lima) tahapan yang harus dilakukan. Adapun kelima tahapan proses pembuatan Yoghurt biji kecipir ini antara lain:

Perebusan, siapkan terlebih dahulu susu kecipir sebanyak 1 liter. Kemudian tuangkan susu kecipir ke dalam panci email dan rebus dalam titik didih 700 C. Panci email harus dibiarkan dalam posisi terbuka. Setelah beberapa lama, tambahkan gula pasir sebanyak 50 gram dan susu skim sebanyak 50 gram, tetap rebus selama 30 menit. Dalam proses ini susu di panci terus diaduk-aduk agar susu skim tidak menjadi gosong. Adapun tujuan dari perebusan ini adalah untuk menguapkan sebagian kadar air susu. Hal ini penting karena produk Yoghurt yang baik ditentukan antara lain oleh proses perebusannya. Produk Yoghurt yang baik dihasilkan dari susu yang mengandung lebih 10% bahan kering tanpa lemak.

Pendinginan setelah proses perebusan, susu didinginkan hingga suhu 450 C. Pada saat pendinginan itu boleh ditambahkan lemon sebanyak 7 cc dan gelatin 10 cc. Gelatin yang ditambahkan tersebut perlu disterilkan lebih dulu selama sekitar 10 menit sudah cukup.

Inokulasi untuk proses inokulasi terlebih dahulu harus tersedia Lactobacillus bulgarius dan Streptococus thremophillus.Siapkan starter berupa biakan kedua jamur ini sebanyak 2 ml dan keduanya bisa diperoleh dari Puslitbang Peternakan Bodor atau supermarket besar. Kemudian susu kecipir dengan suhu 450 C diinokulasikan dengan starter tersebut. Pencampuran starter dengan susu harus merata dan dilakukan secara bersih agar tidak tercemar oleh bakteri lain. Adapun cara paling sederhana untuk melakukan inokulasi yakni dengan cara menyalakan lilin di sekitar tempat pemrosesan inokulasi sehingga inokulasi berjalan cepat. (fn/mh/st/suaramedia.com)