fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Keruk Kesempatan Emas di Balik Sampah

http://suaramedia.com/images/resized/images/stories/4berita/1-9-ekonomi/bambang-suwerda_ka_200_200.jpg

Tumpukan sampah kerap menjadi masalah. Di samping mengganggu keindahan, sampah juga menjadi sarang penyakit, bahkan bisa mengakibatkan banjir. Namun, warga Dusun Badekan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, punya cara kreatif untuk mengatasinya.

Hati Bambang Suwerda tak nyaman melihat penanganan sampah di daerahnya. Sampah-sampah di Dusun Badegan, Bantul, itu umumnya dibakar dan dibuang sembarangan. Cara penanganan sampah seperti ini memunculkan TPA-TPA (tempat pembuangan akhir) liar. Yang lebih buruk lagi, pengguna TPA liar itu banyak juga berasal dari luar Badegan. Apalagi, yang tertimbun lebih banyak sampah anorganik yang membahayakan lingkungan.

Apa yang bisa dilakukan? 'Karena saya sering pergi ke bank dan melihat sistemnya sederhana, ada direktur, teller, buku tabungan, dan lain-lain, lalu saya berpikir kenapa sampah tidak dikelola seperti bank?" kata Bambang Suwerda SST MSi. Ia berbagi gagasan kepada warga. Hikmah gempa bumi di Bantul pada Mei 2006, masyarakat setengah perkotaan yang semula individual itu menjadi lebih akrab. Setiap ada konsep yang disampaikan kepada warga mudah diterima. Begitu pula, gagasan bank sampah yang dilontarkan Bambang.

Berawal dari kesadaran individu, warga mulai mengumpulkan sampah di rumahnya. Sampah tersebut lalu disetorkan ke Bengkel Kerja Kesehatan Lingkungan atau yang lebih dikenal dengan nama bank sampah.

Mereka kemudian membentuk pengelola sampah yang mirip dengan pengelola bank, ada direktur, teller, bendahara, dan sekretaris. Seluruhnya yang terlibat di bank sampah ini ada sekitar 10 orang. Yang terbanyak adalah teller sebanyak tujuh orang. Ada nomor rekening "Sistem yang ada di bank, kami adopsi," kata Dosen Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Depkes Yogyakarta ini. Mereka pun langsung ‘berkolaborasi’ dengan sampah yang selama ini berkonotasi negatif.

"Di bank sampah ini, juga ada buku tabungan dan nomor rekening yang mirip dengan di bank". Mereka yang terlibat di bank sampah bekerja secara sukarela. Selain mereka, ada pula pengepul sampah yang akan menaksir harga sampah setiap penabung. "Jadi, yang menaksir harga sampah bukan teller, melainkan pengepul sampah,"  ujar Bambang.

Di tempat ini sampah ditimbang, dicatat dan kemudian ditentukan harga dari sampah tersebut sesuai beratnya. Disinilah letak fungsi bank karena pencairannya dilakukan setiap tiga bulan sekali. Hasil penjualan sampah ini pun cukup lumayan. Bank bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 500 ribu per bulan. Menurut Bambang Suwerda yang menjadi penggagas bank sampah, masyarakat desa sangat merasakan manfaat bank sampah.

Setelah tiga tahun berjalan, warga yang menjadi petugas bank sampah pun cukup kreatif. Tidak semua sampah dijual ke pihak ketiga. Mereka mulai memisahkan sampah yang bisa diproduksi kembali seperti sampah sterofom yang diolah menjadi hiasan kotak penyangga bendera atau bekas bungkus makanan dan minuman yang disulap menjadi barang kerajinan. Ternyata, jika sampah dikelola dengan baik bisa mendatangkan manfaat.
(fn/rp/lp/
klik video dari Kantor Berita Liputan 6/suaramedia.com)