13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Inovasi Ekonomis, Kerupuk Dari Bonggol Jagung

http://www.wartakota.co.id/upload/photo/2009/07/16/e8a1c07a78150b9b17f51a1f8d7dbaf8.jpgBerbagai penelitian menunjukkan bahwa bonggol jagung pipilan banyak mengandung serat. Sayangnya, masyarakat belum memanfaatkannya dengan optimal. Padahal limbah pertanian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat pangan dalam makanan ringan seperti kerupuk. Hal ini disampaikan dalam seminar bertajuk Pemanfaatan Limbah Pertanian yang diadakan di ruang serbaguna Fakultas Farmasi (FF).

Salah satu mahasiswa FF yang melakukan penelitian ini, Yaqub Alfin, mengatakan bahwa proses pembuatan kerupuk ini tidak berbeda dengan pembuatan kerupuk biasa. Yaqub mengaku bahwa mereka hanya menambahkan sisa jagung pipilan yang telah diolah ke dalam adonan kerupuk tersebut.

Yaqub mengatakan bahwa produk ini mendapat respon yang baik dari para juri dalam kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan. “Mereka mengatakan agar lebih dikembangkan lagi dan segera dipatenkan agar tidak ada yang mencuri ide ini,” jelasnya. Yaqub beserta dua orang rekannya, Mala Pebriani dan Syukraini Irza merupakan perwakilan Sumatera Utara dan mendapat 50 besar dari 215 tim dari seluruh Indonesia. Kompetisi  yang mereka ikuti merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian acara Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XXII di Universitas Brawijaya, Malang, Juli lalu.

Dalam perlombaan yang diikutinya, Yaqub mengatakan bahwa juri tidak hanya sekedar menilai kreativitas dari pembuatan produk. Tetapi juga bagaimana membuat produk tersebut mempunyai daya jual. “Kan dilihat dari segi wirausahanya juga,” ujar Yaqub.

Peluang untuk penjualan kerupuk ini sendiri dinilai Yaqub sangat besar karena jarang ada kerupuk yang mengandung serat. “Tentu saja akan dipasarkan. Saat ini USU juga dalam proses untuk mematenkannya,” ujar Yaqub. (suarausu-online.com/suaramedia.com)