30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Berbekal Modal Rp.20.000 Kini Beromzet Rp.5 Jt/Bulan

http://2.bp.blogspot.com/_jxQMQ9CQcJw/SgHkWrigu1I/AAAAAAAAADs/YapiYlv-BP4/s400/manisan.jpg

Memilih jajanan yang sehat untuk buah hati kerap jadi persoalan tersendiri bagi para ibu. Muhammad Cholid melihat ini sebagai peluang usaha. Ia mengolah rumput laut menjadi permen manisan aneka rasa. Biar lebih menarik anak-anak, Cholid menyajikannya dalam kemasan berwarna-warni. Rumput laut sudah menjadi bahan makanan yang jamak. Biasanya, rumput laut diolah menjadi bahan pembuat agar-agar, puding, atau sebagai campuran air ketika menanak nasi agar lebih pulen. Tapi, Cholid punya gagasan lain. Ia mengolah rumput laut menjadi permen manisan aneka rasa. Jajanan ini, selain menyehatkan dan murah meriah, juga menghasilkan fulus baginya.

Gagasan itu lahir lantaran Cholid melihat bahan baku rumput laut yang melimpah di sepanjang pesisir pantai Madura, Jawa Timur, tempat ia berasal. Ia lantas menciptakan produk yang unik berbahan rumput laut atau Euchema cottoni.

Setahun lalu, Cholid mencoba memproduksi permen manisan rumput laut dengan rasa jeruk. Rupanya, produk ini mendapat sambutan manis dari pembeli. Ia kemudian mengembangkan aneka rasa lainnya, yakni rasa melon, sirsak, dan stroberi.

Cholid mengklaim permen rumput laut yang ia produksi aman bagi kesehatan. Sebab, bahan dasarnya hanya rumput laut yang telah dikeringkan, plus air, perasa makanan, serta gula.
Pembuatannya juga relatif mudah. Pertama-tama, rumput laut kering direndam selama tiga hari, lalu dipotong kecil-kecil dan ditiriskan. Selanjutnya, Cholid membuat adonan dengan memasak campuran perasa makanan, gula, dan air di atas api sedang hingga mengental. Terakhir, potongan rumput laut dia masukkan ke dalam adonan ini dan didiamkan selama 10 menit hingga air tiris. "Jika membuat empat rasa permen, langkahnya pun sama," ujarnya.

Saat memulai bisnis ini, Cholid hanya membutuh modal tidak lebih dari Rp 20.000. Modal ini untuk membeli rumput laut seharga Rp 3.000 per keranjang dan aneka perasa makanan botolan. Untuk memasak, ia cukup memakai peralatan yang sudah ada di dapur rumahnya.

Cholid memilih membeli rumput laut yang telah dikeringkan ketimbang yang masih basah. "Dengan begitu, kita akan mendapat rumput laut dengan jumlah yang lebih banyak," bebernya.
Dengan kiat itu, Cholid bisa menghasilkan permen sebanyak 15 stoples dari sekeranjang rumput laut. Satu stoples penuh ia jual seharga Rp 10.000. Ia juga menyediakan permen di wadah yang lebih kecil seharga Rp 3.000 per stoples.

Berbekal modal mungil itu, ia bisa mengantongi omzet Rp 5 juta sebulan. "Pengeluarannya tidak banyak, sehingga laba bersih tak jauh dari omzet," imbuhnya.
Cholid yakin, penghasilannya dari bisnis permen manisan rumput laut bakal meningkat berkali lipat jika memiliki jalur distribusi massal. Sayang, saat ini ia baru bisa menyalurkan ke toko-toko kulakan dan koperasi di sekitar Madura.

Yang menarik, Cholid juga memasarkan produknya secara online. "Tahun depan, saya juga akan membentuk sebuah CV agar lebih berkembang," tandasnya.

Pemanfatan rumput laut di Indonesia dibanding negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang masih terbilang terbatas. Selain Cholid, ada pula pengusaha yang memilih terjun ke bisnis ini, salah satu contohnya adalah Maria Singgih. Ia mulai memperkenalkan manisan dari rumput laut. Hal itu dilakukan menyusul sukses sebelumnya, yakni manisan kolang-kaling dan lidah buaya di pasaran.

Maria memulai usahanya di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat. Usaha manisan rumput laut ini sudah Maria rintis selama 10 tahun. Berbekal obsesi agar kudapan asli Indonesia dikenal masyarakat luas, Maria tekun mengembangkan kolang-kaling, lidah buaya, dan rumput laut menjadi penganan yang bisa dikonsumsi tanpa bahan pengawet. "Saya perhatikan rumput laut ini baik sekali, gizinya sangat tinggi," ujar Maria di Depok, baru-baru ini.

Bahan baku rumput laut diperoleh Maria dari Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Soal pembuatannya, cukup sederhana. Setelah dibersihkan, rumput laut itu kemudian direndam selama beberapa jam. Selanjutnya, bahan baku tadi diberi gula khusus impor dan diproses menjadi manisan lalu dikemas ke dalam plastik berbagai ukuran. Mulai yang 300 gram, 400 g, dan cup ukuran 250 g.


Usaha yang dirintis Maria pun berkembang. Kini, ia telah meluncurkan dua merek manisan rumput laut: Geres-Gres dan Katoni. Variasinya bermacam-macam pula, antara lain rumput laut fresh (rumput laut yang siap diolah menjadi berbagai masakan) dan manisan rumput laut dengan cita rasa frambozen, leci, melon, dan cocopandan.


Adapun soal rasa, produk manisan Maria telah diacungi jempol sejumlah konsumen. Corry Tampubolon, misalnya. "Yang paling saya suka dari Katoni ialah tidak mengandung bahan pengawet dan tak mengandung gula buatan," ujar Corry.


Keberhasilan Maria selama ini tak lepas dari dukungan pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kota Depok yang membantu mengarahkan promosi dan investasi. Hal ini diakui Dwi, dari Disperindag di Bidang Investasi dan Promosi. "Disperindag berusaha berikan bantuan misalnya untuk bantuan permodalan, pelatihan-pelatihan manajemen kemudian pemasaran," kata Dwi menjelaskan.


Soal produktivitas pun tak diragukan lagi. Dalam satu bulan, Maria yang dibantu 13 karyawannya mampu membuat hingga 40 ribu kemasan. Produk-produknya itu kemudian didistribusikan ke pasar swlayan maupun hypermarket di seluruh Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.


Usaha yang ditempuh Maria ini memberikan dampak positif bagi lingkungannya. Selain membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, Maria memberi nilai tambah bagi tanaman yang sepintas dipandang sebelah mata oleh banyak orang. (fn/knt/lp/suaramedia.com)