14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Yang Muda Berwirausaha, Ubah Limbah Jadi Produk Beromzet Jutaan

http://lordbroken.files.wordpress.com/2010/06/nata-de-coco1.jpg

Orang mungkin sudah banyak mengenal nata de coco sebagai penganan hasil fermentasi air kelapa. Tapi, belum banyak yang mengenal nata de cassava. Kudapan baru hasil olahan limbah pembuatan tepung tapioka ini kini makin banyak diminati. Peluang usahanya pun kini terbuka.

Pernahkah Anda mencicipi nata de cassava? Jangan-jangan baru kali ini nama ini hadir di telinga Anda. Ya, dari namanya jelas bisa ditebak kalau penganan ini berbahan dasar singkong.

Bentuk dan tekstur nata de cassava mirip nata de coco. Putih dan kenyal. Hanya saja ada perbedaannya. Selain rasa nata de cassava yang berasa singkong, penganan ini dibuat dari hasil fermentasi air perasan sisa produksi tepung tapioka dengan mikroba acetobacter xylinum. Sementara nata de coco dibuat dari fermentasi air kelapa.

Siapa sangka limbah tapioka yang dianggap sampah, berbau tidak sedap, dan tidak memiliki daya guna lagi justru mendatangkan rezeki bagi anak muda bernama Nur Kartika Indah M (23).

Selama dua tahun ini, ia berhasil membuat nata de coco dari limbah tapioka yang dikombinasikan dengan serat singkong hingga terciptalah kemudian Nata de Cassava.

"Saya awalnya tertarik untuk garap bisnis ini karena saya lihat peluang pasarnya nata de coco ini tinggi. Sekarang ini baru terpenuhi 40 persen di Bantul," ujar alumnus Teknologi Industri Pertanian UGM Yogyakarta angkatan 2005 ini.

Melihat peluang besar tersebut, Yasti, panggilan akrabnya, beserta ketiga temannya pun mencari akal untuk menggarap bisnis nata de coco dengan sentuhan yang berbeda.

Ide kemudian tercetus saat mereka berempat main ke sebuah daerah bernama Pundong di Yogyakarta. "Kami ke Pundong dan ternyata di sana banyak perajin tapioka kampung. Di situ kami lihat ada limbah tapioka yang asam. Dari sini kami berpikir karena sifatnya itu, pasti bisa jadi bahan dasar buat nata," ungkap Yasti/

Akhirnya, Yasti dan teman-teman memutuskan menggunakan limbah tapioka yang dimodifikasi dengan singkong sebagai seratnya. "Untuk buatnya kami selalu gagal. Dari 12 nampan paling yang berhasil cuma satu," cerita perempuan kelahiran Surakarta ini.

Akhirnya, setelah masuk ke laboratorium selama beberapa minggu dan menemukan formula yang tepat, kini tingkat kegagalan Nata de Cassava buatan Yasti pun berangsung mengecil hingga 10 persen.

Setelah ditemukan formula yang tepat, Yasti nekat dengan berbekal tas ransel ia bertolak ke sejumlah daerah di Yogyakarta, Wonosobo, Bogor, dan Lampung untuk menawarkan nata buatannya kepada para supplier.

Alhasil, sudah ada satu perusahaan yang sudah menjadi klien tetapnya dan satu lagi yang sebentar lagi mencapai kesepakatan. Omzetnya kini memang baru Rp 5 juta dengan estimasi keuntungan Rp 1,5 juta. "Tapi aku yakin pasti aku bisa jadi besar dari sini. Keyakinan itu yang terus aku pegang selama dua tahun," ujarnya mantap.

Keyakinan ini bukan tanpa alasan, pasalnya perusahaan berbasis industri rumah tangga yang dibuat Yasti ini juga tengah didekati supplier yang meminta nata darinya sebanyak 20 ton per minggu. "Nah ini yang sedang kami kejar, sekarang baru bisa 2 ton yang dikerjakan bertujuh," tandasnya.

Untuk itu, ke depannya ia akan segera membesarkan ruang produksi dan meningkatkan jumlah pegawai yang juga adalah petani tapioka di Bantul tersebut.

Usaha Yasti bukan berarti terus tanpa hambatan. Pada Maret 2010, usahanya mengalami gagal produksi sampai perlu tiga bulan untuk bangkit kembali. Akibatnya, teman-teman yang awalnya bersama merintis pun akhirnya berguguran meninggalkan Yasti seorang diri.

Di saat itulah, ia berencana meninggalkan mimpinya sebagai wirausahawan sukses dan melamar pekerjaan ke suatu perusahaan. "Doa orangtua sangat berpengaruh, saat jatuh karier. Orangtua saya yang mendukung untuk bersabar. Eh taunya sekarang saya lolos Shell ini," ujar Yasti yang memenangi anugerah Green Enterpreneurship dalam Shell LiveWIRE Business Start-up Awards 2010.

Menurutnya, menjadi wirausahawan adalah pilihan hidup. Dengan berwirausaha, ia bisa memiliki waktu lebih dengan keluarga sekaligus mampu berbagi rezeki dengan sesama.

Keyakinan akan bisnis Nata de Casaava menghantarkan Yasti pada sebuah mimpi untuk memasarkan produknya hingga pelosok Nusantara, bahkan dunia dan juga Nata de Cassava dikenal sebagai brand tersendiri bukan brand supplier. "Hidup itu seperti salak. Dia berduri, kadang kena gesekan dengan sekelilingnya tapi benturan itu akan buat dia jadi luwes durinya hilang. Jadi, lebih luweslah menghadapi permasalahan hidup. Dengan itu, kita jadi bisa lebih bersyukur terhadap apa yang kita punyai," ujar Yasti mengungkapkan filosofi hidupnya.

Adalah Warsinah, seorang pengusaha tepung tapioka di Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang mengembangkan nata de cassava  sejak Mei 2009. Perempuan sederhana ini berhasil memproduksi nata de cassava berkat bantuan sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengadakan praktik kuliah kerja nyata (KKN) di daerahnya, satu setengah tahun silam.

Mahasiswa KKN tersebut mengajarinya cara mengolah limbah cair produksi tepung tapioka menjadi sesuatu yang berguna. Padahal, “Tadinya limbah itu cuma saya buang karena baunya tidak sedap,” terang Warsinah.

Warsinah sendiri merupakan generasi ketiga pembuat tepung tapioka di Pundong. Ia mewarisi usaha pembuatan tepung tapioka dari sang nenek.

Kini, usaha pembuatan nata de cassava menjadi pemasukan tambahan bagi keluarganya di samping usaha pembuatan tepung tapioka.
Setiap hari, Warsinah mengaku bisa menjual nata de cassava dengan omzet Rp 150.000 per hari atau sekitar Rp 4,5 juta sebulan. Sebuah penghasilan yang sangat lumayan untuk ukuran taraf hidup di Pundong, Bantul.

Sementara dari usaha tapiokanya, Warsinah setiap hari bisa memproduksi 40 kilogram tepung tapioka. Dalam sebulan, ia bisa meraup omzet penjualan tepung tapiokanya sebesar Rp 6 juta.  Harga jual tepungnya sendiri Rp 5.000 per kg.

Cara pengolahan nata de cassava sebenarnya tak sulit. Hanya saja, pengolahannya butuh proses selama enam hari. Hari pertama, limbah cair tapioka direbus bersama dengan ampas singkong. Hari kedua, rebusan tersebut disaring lalu dituang dalam nampan. Hari ketiga, bibit nata dicampurkan ke dalamnya. Cairan fermentasi tersebut akan menjadi nata pada hari kelima atau keenam.

Karena saban hari Warsinah harus mengolah tepung, proses pembuatan nata de cassava selalu berjalan setiap hari di pabriknya. Dalam sehari, 250 liter limbah tapioka bisa diolah menjadi 150 lembar nata yang disimpan dalam nampan khusus. Harga jualnya masih miring, yaitu Rp 1.000 per nampan. "Saya jual ke seorang penadah di Bantul," kisah nenek 63 tahun ini.
Tak disangka, respons pasar sangat positif. Bahkan, tak jarang Warsinah kewalahan memenuhi pesanan sang penadah tersebut.

Saat memulai usaha nata de cassava, Warsinah mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp 35 juta. Dana ini dipakai untuk membeli peralatan dan 30 lusin nampan. "Uangnya dari uang tabungan dan dari pinjaman bank," ujarnya.

Untuk penyajian, Warsinah menganjurkan, setelah nata dipotong-potong kecil sebaiknya direbus dua kali dengan air yang berbeda. Tujuannya agar nata benar-benar bersih dan bau bibit natanya hilang. Setelah itu, nata bisa segera direbus dengan air gula atau dicampur dengan air sirop.

Warsinah sendiri mengaku tidak takut akan kekurangan bahan baku singkong, karena daerahnya kaya akan ubi kayu ini. Harga jual singkong pun hanya Rp 700 per kilogram.

Tentu saja ada yang patut diperhitungkan dalam bisnis ini. "Kendala usaha ini adalah musim hujan," katanya. Jika tidak telaten menyelimuti bahan fermentasi, akan tumbuh jamur yang merusak produk. "Paling bagus, fermentasi disimpan dalam suhu 30º-31º Celsius,” ungkap ibu tiga anak ini. (fn/km/ce/suaramedia.com)