18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Bisnis Roti Usaha Rumahan Berpotensi Tinggi

http://4.bp.blogspot.com/_kIJPhgaI1A0/SQkps4fl_KI/AAAAAAAABXQ/TntLDPmLcys/s320/Fokus+-+Pengantar.jpg

Karena perubahan gaya hidup, roti menjadi tren tersendiri di dunia kuliner. Bahkan, para pengusaha roti berlomba-lomba untuk menciptakan varian atau jenis baru yang tentunya berbeda dengan varian yang sudah ada. Tujuannya sudah pasti, apalagi kalau bukan untuk menarik minat para penggemar roti.

Selain mi, roti sudah menjadi kudapan yang digemari masyarakat di Indonesia. Tak heran, usaha roti terus menjamur. Dari sekadar jajanan di pinggir jalan hingga berkonsep restoran.

Salah satu pemain di bisnis ini adalah Barley Bread. Sejak mulai beroperasi tahun 2003, kini usaha ini memiliki tiga cabang di Jakarta. Yakni di Tanjung Duren, Bendungan Hilir, dan Cilandak.

Barley Bread menawarkan berbagai varian roti dan kue. Produk rotinya yang cukup digemari pelanggan, adalah roti tawar gandum, choco banana, dan roti tuna.

Belum lama ini Barley Bread mengeluarkan 12 varian cake baru untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Di antaranya, kue chocoholic dan chocotrufle. "Keunggulan produk kami memakai bahan natural, tanpa pengawet dan pewangi. Jadi lebih fresh," kata Widjanarka, pengelola Barley Bread.

Sebanyak 70 persen bahan baku roti dan kue Barley Bread berasal dari pasar domestik. Sementara itu, 30 persen sisanya masih diimpor. Bahan baku yang masih diimpor itu, antara lain, gandum, cokelat, dan filing atau isi rotinya.

Dalam memasarkan produknya, Barley Bread menyasar kalangan menengah atas. Karena itu, harga roti dan kuenya tergolong premium. "Untuk roti, harganya Rp 6.000 dan kue Rp 100.000 per porsi," kata Widjanarka.

Selain berjualan di toko, Barley Bread menerima pesanan pembuatan roti dan kue khusus acara pesta. Seperti ulang tahun dan pernikahan. Demi memperluas jaringan pemasarannya, sejak dua tahun lalu Barley Bread membuka tawaran waralaba kepada masyarakat. Saat ini, Barley Bread baru memiliki satu mitra waralaba di Timika, Papua. "Pada 10 Juli lalu, mitra kami itu baru membuka tokonya," kata Widjanarka.


Ia mengaku, pertumbuhan waralabanya terhitung lambat. Sebab, kata Widjanarka, manajemen Barley Bread sangat selektif memilih mitra, lantaran melihat waralaba lain banyak yang tutup. "Kalau memang niatnya serius, kami baru menanggapi," imbuh dia.


Franchise fee Rp 25 juta

Sebenarnya, masih kata Widjanarka, banyak pemodal berminat menjadi calon mitra Barley Bread. Permintaan itu berdatangan dari Riau, Padang, dan Aceh. "Sejauh ini, permintaaan waralaba lebih banyak dari luar Jakarta," ujar Widjanarka.

Kepada calon mitra terwaralaba, Barley Bread mematok investasi awal Rp 100 juta. Dengan investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan peralatan produksi. Di antaranya, mesin pendingin, rak, sistem kas, freezer, dan chiller.


Tapi investasi sebesar itu belum termasuk lokasi usaha. Karenanya, Barley Bread lebih memprioritaskan calon mitra yang memiliki lahan usaha sendiri. Luas lahan toko minimal 15 meter persegi.


Selain investasi awal, Barley Bread mematok franchise fee sebesar Rp 25 juta. Biaya ini untuk penggunaan merek Barley Bread selama lima tahun dan pernak-pernik interior di toko terwaralaba.


Widjanarka memperkirakan, omzet yang bisa dipetik terwaralaba dari bisnis ini Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per hari. Dengan omzet sebesar itu, terwaralaba bisa balik modal dalam satu tahun.


Menurutnya, terwaralaba di Jakarta dan daerah sekitarnya, bisa memilih membuat produk sendiri atau dikirimkan pasokan roti dan kue. Selama ini, ketiga cabang Barley Bread mendapat pasokan dari kantor pusat di Tanjung Duren. Adapun untuk terwaralaba di luar Jakarta, produk bisa dibuat di lokasi karena kendala jarak. "Sehingga harus ada dapur untuk tempat memasak," kata Widjanarka.


Konsep ini pula yang dipakai di Timika. Lokasinya yang jauh membuat terwaralaba di sana harus membuka sendiri dapur untuk pengolahan roti dan kue Barley.


Sementara itu, di tengah semakin ketatnya persaingan di bisnis roti, dibutuhkan kreativitas para pelaku bisnis untuk merebut pasar, yakni mulai dari cara menyajikan produk, keunikan produk, hingga tampilan etalase.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang dalam seminar ”Peran Desain Interior dalam Usaha Bakery” di Jakarta.

Menurut Franciscus, kreativitas pelaku bisnis roti saat ini masih terkesan sangat terbatas. ”Banyak pengusaha yang asal-asalan memproduksi dan mengabaikan desain interior untuk menarik minat pembeli,” tuturnya. Padahal, lanjut Fransciscus, pasar bisnis roti terus berkembang. Ini setidaknya tampak dari konsumsi terigu sebagai bahan baku utama roti.

Tren konsumsi terigu di Indonesia pada tahun 2000 hanya 13,7 kilogram per kapita, tetapi pada tahun 2007 mencapai 17,1 kilogram per kapita.

Pelaku usaha roti, lanjut Franciscus, seharusnya menangkap potensi pasar yang cukup besar tersebut dengan selalu membuat inovasi yang kreatif.

Kreativitas itu yang dikembangkan restoran cepat saji ala Amerika, antara lain dengan rendang sebagai makanan khas Indonesia. ”Ada juga pengusaha bakery yang menggunakan parfum roti,” katanya.

Dengan demikian, bukan hanya indera penglihatan yang dirangsang dengan bentuk roti, tetapi juga indera penciuman, ”Yaitu disentuh dengan menggunakan parfum roti,” ujar Franciscus.

Menurut Ketua Bidang Luar Negeri Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Francis Surjaseputra, sentuhan desain interior berperan penting dalam bisnis roti. Selain itu, kualitas produk, lokasi, harga produk, dan pelayanan terhadap konsumen.

Hal senada diungkapkan Ketua Umum Pengusaha Bakery Indonesia (Apebi) Chris Hardijaya. Dijelaskan, perkembangan usaha roti saat ini telah memasuki era gaya hidup. ”Usaha bakery yang tidak mampu menyesuaikan diri dipastikan akan mengalami stagnasi,” katanya.

Rasa dan tekstur

Selain kreativitas dalam penyajian, Franciscus mengingatkan pelaku usaha roti agar juga memerhatikan kualitas produknya. ”Dampak dari peredaran tepung terigu oplosan yang marak beredar di Tangerang berpotensi membuat kualitas hasil produksi berubah,” katanya.

Rasa dan tekstur yang berubah akan mengecewakan konsumen. ”Kegagalan produksi berdampak pada modal kerja yang terbuang sia-sia,” tutur Franciscus.

Seperti kita ketahui, roti merupakan makanan utama orang barat. Namun kini, roti semakin diminati masyarakat Indonesia. Terbukti dengan banyaknya gerai usaha atau cafe yang menjual roti, baik sebagai menu pelengkap atau menu andalannya. Dan dalam kebiasaan masyarakat kita, roti sering disantap pada saat sarapan.

Bicara tentang bisnis roti, kue atau cake, sudah pasti siapa saja bisa masuk ke bisnis ini. Meski begitu, untuk bergelut di bidang ini harus punya keberanian yang luar biasa. Apa sebab? Sudah pasti karena persaingan. Pelaku usaha bisnis roti dan kue beragam stratanya, dari pembuat roti kelas rumahan hingga mereka yang bermodal kuat dan mampu menyewa tempat di mal-mal bergengsi.

Persaingan di bisnis roti dan kue saat ini lebih ketat lagi. Mundur ke belakang, jika dulu hanya ada pemain lokal, kini pemain asing pun agresif menyerbu Indonesia. Maka, agar tak sekadar hidup atau untung dari bisnis ini, masing-masing pebisnis roti dan kue wajib memiliki amunisi andalan seperti rasa enak, harga murah, inovasi atau gaya hidup.

Pelaku bisnis roti dan kue jika ingin bertahan harus cerdik melihat peluang usaha sebagai kesempatan. Memang tidak setiap pebisnis mampu menerapkannya. Pengalaman dan naluri bisnis yang tajam amat membantu mereka untuk membaca situasi di mana harus masuk. Ini berlaku bukan hanya bagi pengusaha besar, namun juga pengusaha kecil. Hal yang seringkali dianggap sepele, namun hasilnya bisa dahsyat sebab pengusaha kecil dalam waktu singkat bisa menjadi besar.

Banyak gerai usaha roti dan kue hadir di komunitas kita. Lokasinya pun terpencar, mulai dari gerai di dalam mal, ruko pinggir jalan, hingga usaha rumahan. Masing-masing dari mereka menawarkan cita rasa roti dan kue yang mantap. Perbedaannya, hanya ada pada segmen pasar yang dituju.

Belakangan, dalam satu tahun terakhir, beberapa gerai baru roti dan kue bermunculan di kawasan Serpong dan sekitarnya ini. Ini menandakan, bisnis roti dan kue memiliki potensi untuk dikembangkan. Melihat pangsa pasarnya yang begitu luas, roti dan kue tetap akan diminati meski bukan makanan utama.

Sekilas tentang roti

Seperti disebutkan dalam laman harian-lobal.com, roti di dunia mulai dibuat tahun 2600 SM oleh bangsa Mesir. Mereka juga mengenal ragi sejak 3500 SM sebagai bahan utama roti. Bangsa Romawi pun membuka sekolah spesial roti pada abad 98-117 M.

Berbagai catatan sejarah membuktikan bahwa roti dan ragi merupakan bahan makanan utama bangsa Mesir dan Romawi. Bangsa Mesir mengenal sebutan “roti matahari” karena mereka selalu menjemur adonan roti yang sudah dicampur dengan ragi di bawah sinar matahari agar mengembang sempurna.

Bangsa Romawai tak kalah serius untuk urusan roti, karena roti merupakan makanan utama mereka. Bangsa Romawi mempunyai sekitar 260 pembuat roti yang hebat pada masa 100 SM. Mereka sudah membuat roti untuk dijual. Karena itu para tukang roti itu mengembangkan aneka roti dengan sentuhan beragam cita rasa.

Dua ribu tahun lebih, ternyata teknik membuat roti tetap dikembangkan dengan penyesuaian teknologi. Sekarang banyak sekali bahan dan alat yang bisa mendukung proses pembuatan roti hingga enak dan empuk. Seperti halnya roti tawar, kini tampil dalam beragam racikan tepung gandum dan paduan aneka bahan. (fn/k2m/ig/suaramedia.com)