18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Wisata Halal Dunia Makin Populer

http://1.bp.blogspot.com/_a3uPngUrl-A/SQX8WGplaoI/AAAAAAAAATc/PIys64k9m4k/s400/giant+map+-+asia+with+kids.jpg

Ketika masih menjabat eksekutif perusahaan telekomunikasi, Fazal Bahardeen harus sering keluar kota. Dalam perjalanan itu, ia tidak pernah lupa membawa makanan siap santap. Banyak hotel yang ditinggalinya tidak memiliki restoran bersertifikasi halal bagi wisatawan muslim, seperti dirinya.

Fazal Bahardeen, warga Singapura kelahiran Sri Lanka berusia 47 tahun. Tahun 2006 ia mendirikan perusahaan sendiri, terfokus pada pariwisata halal yang makin populer. Perusahaannya menerapkan sistem penilaian untuk hotel terkait keramahan karyawan hotel kepada wisatawan muslim.

Sistem pemberian nilai bervariasi dari satu hingga tujuh didasarkan pada kemampuan staf menjawab pertanyaan tentang arah kiblat, jadwal sholat atau restoran halal. Nilai makin tinggi jika hotel tidak menyediakan minuman beralkohol, diskotek atau klab malam misalnya.

Bagi wisatawan muslim, ada dua hal penting, yakni tersedianya makanan halal dan arah kiblat. Jadwal waktu sholat tidak bermasalah. Di zaman modern ini, setiap orang membawa telpon genggam. Kebanyakan telpon seluler dilengkapi peranti lunak yang menunjukkan waktu sholat.

Namun di Eropa, arah kiblat dan makanan halal bisa menjadi persoalan. Kendati demikian dunia pariwisata Eropa pun sudah mulai melirik turisme halal ini.

Sejak didirikan, perusahaan Fazal terutama menerapkan sistem pemberian nilai untuk hotel-hotel di Asia dan Timur Tengah. Namun dalam empat bulan ke depan menyebarkan sayap ke Eropa dan Amerika Serikat. Menurut Fazal, peluang membuka wisata halal di Eropa sangat bagus.

Dunia pariwisata menyadari perjalanan halal bernilai sekitar 100 miliar dolar per tahun sehingga tidak bisa mengabaikan segmen baru di pasar dan harus menyesuaikan diri pada kondisi baru. Juga Stefanie van den Berg, pemilik biro perjalanan PT Berg Tour di Amsterdam, Belanda, melihat peluang besar membuka paket wisata halal di negeri kincir angin ini.

"Kemungkinannya besar banget. Soalnya kan kebanyakan penduduk di Belanda, banyak yang muslim. Atau ada juga yang Kristen, tapi mereka harus menikmati makanan yang halal juga, seperti orang Yahudi atau orang dari Kristen Adventis. Mereka juga harus makan makanan yang halal."

Menurut Stefanie Belanda berpotensi baik membuka pariwisata halal dan prasarana pun memungkinkan hal itu."Yang saya tahu, kalau di restoran-restoran Maroko, Turki, Afrika Utara,  makanan yang disediakan semua halal. Kalau di Belanda, di hotel Van der Valk, saya tahu, itu ada arah kiblatnya."

Dan untuk itu kerja sama dengan biro perjalanan di Indonesia menjadi salah satu pilihan. "Kalau misalnya ada orang muslim yang benar-benar memperhatikan hal-hal yang demikian khususnya untuk Indonesia. Untuk negara-negara lain, seperti saya tahu, negara-negara Arab sama orang Yahudi, mereka sangat perhatikan apa mereka makan. Saya pikir itu peluangnya baik sekali." (Red: Krisman Purwoko | Sumber: radio netherlands/republika.co.id)