22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Ubah Barang Bekas Jadi Berkelas

http://mebeljati.files.wordpress.com/2008/12/teak_modern_furniture1.jpg?w=510&h=299

ilustrasi

Didi Diarsa Adiana, 36 tahun, tak pernah belajar ilmu sulap. Namun, dari tangan pemilik Furniture Aktif yang bermarkas di Cimanggis, Depok, ini lahir produk berkelas dengan bahan dari barang-barang bekas.

Dengan memanfaatkan kayu bekas peti kemas, ia menghasilkan mebel-mebel berstandar internasional yang ramah lingkungan. Didi menekankan pada pertukangan yang cermat. Selanjutnya, ia cukup memberi sentuhan pernis mengkilap karena tekstur kayu jati belanda (pinewood) yang dipakai sebagai bahan dasar sudah memiliki daya jual tinggi.

Awalnya, Didi lebih menargetkan sekolah-sekolah karena pernah bekerja di dunia pendidikan. Dengan harga yang lebih murah ketimbang produk sejenis, mebel Didi diminati banyak sekolah berstandar internasional di Jakarta dan sekitarnya.

Selain harga yang murah, produk Didi juga dinilai mempunyai nilai desain unik dan modern. Misalnya, meja setengah lingkaran dengan kursi-kursi yang mengelilinginya. Meja ini sangat cocok dipakai di TK dan SD yang menerapkan sistem belajar aktif. “Konsepnya, produk saya mendukung proses belajar menjadi lebih menyenangkan,” kata Didi.

Desain Didi mengantarkannya menjadi finalis Asia Europe Classroom Award pada 2004. Selain itu, ia juga menjadi finalis untuk International Young Creative Entrepreneur 2009 yang digelar British Council.

Ide Eropa

Ide desain karya Didi diperoleh Sarjana Geografi lulusan Universitas Negeri Jakarta itu, saat ia berkunjung ke Eropa. Di Finlandia misalnya, ia menjumpai produk mebel bekas pakai.

Hanya saja, tantangan pertama yang ia jumpai di Tanah Air justru pencarian bahannya. Kayu bekas peti kemas yang diincarnya kebanyakan sudah ditadah pengusaha barang bekas di pelabuhan Tanjung Priok. Alih-alih bisa membeli, ayah tiga anak ini malah lebih sering ketemu preman pelabuhan. Untungnya, rumahnya di Cimanggis, Depok, berdekatan dengan pabrik-pabrik yang menyediakan limbah kayu melimpah. “Ketimbang jadi sampah, mending saya manfaatkan,” kata Didi.

Kreativitas Didi tak terbatas di dunia bisnis furnitur. Pria yang gemar berorganisasi ini juga memiliki taman bacaan dan warnet, serta aktif antara lain di koperasi dan persatuan alumni program persahabatan Indonesia-Jepang.

Saat ini, ia juga sedang mengembangkan satu website bernama www.greenschool.web.id. Di situs ini, para murid sekolah dari belasan negara sudah menulis status dan opini mereka tentang penyelamatan lingkungan di negara masing masing.

Pada November depan, situs Didi akan untuk berkompetisi di India memperebutkan hadiah  5 ribu dollar AS, bersaing dengan peserta dari 65 negara lain. Pengalaman ini tentunya bakal memperkaya wawasan Didi, sebagaimana halnya berkesempatan bertemu langsung dengan putra mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles saat ia menjadi salah seorang wakil Indonesia dalam pertemuan pemuda Muslim sedunia "Mosaic International Summit 2010".

Meskipun demikian, Didi mengaku pilihannya sebagai wirausahawanlah yang menjadi puncak pengalaman hidupnya. Ia menyebut Tangan di Atas (TDA), komunitas wirausahawan, yang mengubah pola pikirnya. TDA mendorong Didi berani bersikap dan mengambil tindakan dalam situasi yang tidak normal. “Mereka seperti pahlawan, tindakannya lokal tetapi imbasnya global,” kata Didi.


Didi saat ini aktif di Divisi Networking TDA Depok. Ia mengenang betapa komunitas yang dulu dibangun segelintir orang kini sudah beranggotakan 17.000 orang. Dengan jumlah anggota yang bertambah sepesat ini, TDA sekarang fokus pada penguatan basis internal seperti pengadaan pelatihan dan bimbingan. Namun, penciptaan wirausahawan berkualitas sebanyak-banyaknya tetap tak ditinggalkan. “Tantangan utama adalah mengubah mindset masyarakat yang masih beranggapan PNS jauh lebih baik,” kata Didi.

Konsep dan ide yang menarik bisa jadi barang jualan yang laris manis. Hal ini yang dirasakan Didi Diarsa Adiana, pengusaha mebel berbasis ramah lingkungan asal Cimanggis, Depok bernama Furniture Aktif.

Jika berbicara mengenai industri mebel, tentu banyak pelaku industri yang berkecimpung dengan usaha manufaktur yang satu ini.

Akan tetapi, ada yang menarik dari usaha pria kelahiran Jakarta 35 tahun lalu ini. Mantan tenaga riset dan pengembangan ini kreatif memanfaatkan bahan baku kayu Jati Belanda bekas bongkaran kontainer yang disulap jadi barang produk mebel berstandar internasional.

Tekstur kayu Jati Belanda atau disebut juga kayu oak yang mirip kayu jati dianggap menjadi daya jual produk Furniture Aktif.

Hanya dengan sentuhan pernis mengilap, model, dan pengerjaan tukang yang cermat, membuat produk-produk Furniture Aktif langsung laku di pasaran meski usianya masih 2 tahun.

Beberapa kategori produk board furniture yang merupakan papan belajar dalam kelas, furnitur sekolah, dan business furniture, jadi pilihan Furniture Aktif dalam berbisnis yang sejak semula sengaja hanya membidik pasar sekolah.

"Saya kan berasal dari lingkungan sekolah, jadi strategi dagang saya lebih mudah. Selain itu ada visi menyediakan produk berkualitas dan berstandar internasional untuk sekolah-sekolah di Indonesia," Didi menambahkan.

Siapa sangka jika ide kreatifnya itu mampu menghasilkan produk mebel berkualitas yang ramah lingkungan dan memiliki visi positif untuk dunia pendidikan.

Tidak heran jika produk Furniture Aktif masuk dalam jajaran nominasi kompetisi International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Design Award yang akan digelar di London September tahun ini.

Nantinya dia akan bersaing dengan sembilan finalis lain yang juga memiliki profil serupa dengannya. Muda, wirausahawan, pelaku industri kreatif, yang datang bukan hanya dari Jakarta melainkan juga beberapa kota di Indonesia.

Dalam kompetisi itu akan dipilih satu orang yang dianggap terbaik dalam hal menggabungkan keterampilan artistik, kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, sekaligus kemampuan mengelola bisnis untuk berkompetisi secara internasional di London September nanti.

Selama 14 hari dia akan berpromosi di festival 100% Design, berjejaring dengan tokoh-tokoh desain internasional, serta memperebutkan hadiah utama.


Kayu bekas

Perjalanan usaha Didi dimulai dengan pencarian kayu bekas pakai yang bisa digunakan. Pilihannya langsung jatuh pada kayu Jati Belanda, bekas bongkaran peti kemas barang-barang impor di pelabuhan.

Bukan persoalan mudah mencari bahan baku kayu yang dibutuhkan, karena bongkaran kayu itu biasa ditadah oleh para pengusaha barang bekas asal Madura yang telah memiliki jaringan khusus di pelabuhan selama bertahun-tahun.

Akhirnya jalan keluar yang dipilih adalah membeli kayu-kayu itu dari beberapa penadah asal Madura yang hingga kini sudah jadi pemasok tetapnya.

"Dulu pernah nyoba cari di pelabuhan, malah ketemu dengan para preman pelabuhan. Akhirnya pendekatan saya lewat penadah saja," ujar lulusan sarjana Universitas Negeri Jakarta 1993 ini.

Selain melalui penadah pelabuhan, Didi juga memanfaatkan kondisi geografis Cimanggis yang dekat dengan beberapa pabrikan. Kayu-kayu bongkaran impor barang itu akhirnya bisa dia dapatkan secara berkala tanpa harus keliling kota mencari pemasok.

"Biasanya kayu-kayu itu dibuang begitu saja, daripada terbuang percuma dan jadi sampah, lebih baik saya manfaakan."

Kini rumah hunian yang berlokasi di Desa Sukamaju Baru kawasan Cimanggis Depok disulap jadi bengkel kerja Furniture Aktif bersama 10 tukang kayu.

Di rumah ini, Didi mulai mengumpulkan, mengolah, membentuk, hingga memoles kayu bekas kontainer ini jadi mebel yang layak jual.

Hasilnya, sebuah meja belajar dalam ruang beragam bentuk menarik sudah masuk beberapa kelas di sekolah-sekolah internasional seperti misalnya SDIT Darul Abidin Depok, SDI Al Azhar Duren Sawit, SD Nasional Pondok Gede, Sekolah Azhari Cikini, Sekolah Global Islamic Labschool Depok, dan masih banyak lagi.

"Target kami memang sekolah-sekolah standar internasional karena model dan kualitasnya juga diambil dari bentuk ruang kelas sekolah-sekolah di luar negeri," ujar bapak tiga anak ini.

Meski sudah memiliki beberapa pelanggan dari jaringan lembaga pendidikan bertaraf internasional, Didi tidak begitu saja mengabaikan unit pengembangan dan pemasaran produk.

Oleh karena itu, Didi tengah berkonsentrasi untuk mengembangkan produk yang menurutnya masih memiliki model standar, agar mampu bersaing dengan usaha mebel sejenis baik lokal maupun impor.

Meski diakui, bahan baku mebel berkualitas dari kayu bekas pakai ini membuat harga pasaran produk-produknya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan mebel sejenis dari produsen lain. (fn/km/cbn/suaramedia.com)