pustaka.png
basmalah.png.orig


3 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 13 Juni 2021

Peluang Usaha Prospektif, Pengganti Plastik Dari Kulit jagung

http://1.bp.blogspot.com/_LqOQ821VxfU/TCnHXwaS1VI/AAAAAAAAAKI/x2H02jc3ZG4/s400/100622akulit-jagung.jpg

Kulit jagung juga bisa menjadi bahan baku pengganti plastik. Mohamad Fasiol menggunakannya sebagai bahan baku dalam pembuatan gelas dan botol. Selain kualitasnya tak kalah dengan bahan plastik, gelas atau botol bekas itu bisa diserap tanah dan menjadi pupuk.

Permintaan gelas plastik terus meningkat dari tahun ke tahun. Maklum, banyak produk barang-barang konsumsi yang menggunakan plastik sebagai bungkusnya.

Tengok saja, setiap gerai dari jenis booth hingga restoran yang menyediakan minuman soda, teh, kopi, maupun sirup, memakai gelas plastik sebagai wadah.

Namun, tanpa disadari, proses pembuatan gelas dari plastik ini bisa menghasilkan limbah berbahaya. Begitu juga sampah yang dihasilkan dari gelas plastik lantaran tak bisa didaur ulang tanah.

Asal tahu saja, 10.000 gelas plastik berukuran 240 mililiter bisa membuat tumpukan sampah 2 m³-3 m³. Meski daur ulang plastik banyak dilakukan, tak semua sampah plastik itu bisa diolah kembali.

Mohamad Faisol, pemilik Mitradata Plastic Packaging, produsen plastik di Surabaya, Jawa Timur, menyadari betul dampak negatif tersebut. Karena itulah, dia mencoba bahan baku alternatif pengganti plastik, yakni kulit jagung dan biji ketela.

Menurutnya, kedua bahan tersebut sangat cocok karena memiliki serat yang cukup kuat. "Sebenarnya banyak sekali bahan yang bisa dipakai, namun yang ekonomis dan tersedia dalam jumlah banyak adalah kulit jagung," katanya.

Faisol mulai membuat gelas dari kulit jagung sejak tiga tahun silam. Namun, lanjutnya, peminat gelas dari kulit jagung masih minim. Maklum, harga gelas kulit jagung lebih mahal ketimbang gelas plastik.


Satu gelas dari kulit jagung berukuran 10 gram berharga Rp 600, sedangkan bandrol gelas plastik hanya Rp 250. "Harga gelas kulit jagung belum bisa bersaing," katanya.


Alhasil, meski Faisol sudah mencoba memasarkan ke berbagai pihak, respon konsumen masih minim. "Saya baru memasarkan 5.000 gelas," ujarnya. Artinya, dia hanya mendapatkan pemasukan sekitar Rp 3 juta dari gelas kulit jagung itu.


Lain halnya dengan gelas berbahan plastik. Sebagai produsen gelas plastik, dia bisa menjual sekitar satu juta gelas setiap bulan. Omzet dari penjualan gelas plastik tersebut mencapai Rp 250 juta setiap bulan. "Pembelinya 80% produsen minuman teh," kata Faisol.


Pembuatan tiga pekan

Untuk mempromosikan gelas kulit jagungnya, Fasiol menyebarkan contoh ke sebagian besar produsen consumer goods. Mulai dari yang skala kecil hingga berskala multinasional. Bahkan, produk sampel itu tak hanya berupa gelas, tapi juga berbentuk botol. "Saya juga menawarkan dalam bentuk setengah jadi ke produsen boneka. Biar mereka mengolah sendiri," tuturnya.

Kualitas gelas maupun botol dari kulit jagung tidak kalah bagus dengan gelas yang terbuat dari plastik. Selain antibocor, penampilan gelas dari kulit jagung ini juga menawan. Karena, sisi luar gelas tetap bisa didesain atau dibubuhi merek-merek tertentu dengan cara di-print alias dicetak.


Hanya, proses pembuatan gelasnya membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar tiga pekan. Pasalnya, kulit jagung harus melalui beberapa tahapan proses. Mulai dari dihancurkan hingga menjadi biji kulit jagung yang sama seperti biji plastik. "Kalau sudah menjadi biji seperti biji plastik proses pembuatannya sama seperti gelas plastik," katanya.


Tak hanya proses pembuatan yang mirip, mesin yang digunakan pun sama seperti mesin pembuat gelas plastik. Yang paling penting, ketika menjadi sampah, gelas dari kulit jagung bisa diserap tanah dan menjadi pupuk.


Menurut Faisol, di negara lain, terutama di negara maju, sebagian besar produsen consumer goods sudah beralih menggunakan kulit jagung sebagai pengganti plastik. Bahkan, lanjut dia, Taiwan sudah mulai menggunakan kulit jagung untuk membuat gelas plastik. "Gelas kulit jagung Taiwan sudah diekspor ke Amerika," katanya.


Fasiol berharap produsen consumer goods di negeri ini juga mulai mau menggunakan alternatif pengganti selain plastik. Semakin cepat, tentu akan kian baik.

Biobag merupakan kantong plastik ramah lingkungan yang bahan bakunya berasal dari kulit jagung dan dapat terurai di tanah dengan sendirinya.

Di Indonesia biobag pertama kali dikenalkan oleh PT Ecotech Indopratama pada akhir 2006. Menurut Mutaza Sarbini, Direktur Pelaksana Ecotech, seperti dikutip situs Radio Singapore International “Rahasia biobag terletak pada bahan baku yaitu terbuat dari kulit jagung yang disebut mates-bi”.

Biobag tidak ubahnya dengan kantong plastik lain hanya saja terbuat dari bahan alami berupa kulit jagung sehingga mudah terurai di tanah. Biobag juga cocok digunakan sebagai pembungkus daging atau ikan sebelum dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Dengan tekstur yang dimilikinya, ikan atau daging yang dibungkus biobag mampu disimpan selama dua bulan di dalam lemari pendingin, dan tidak akan lengket pada saat pencairan.

Biobag mampu meredam bau dari sampah organik. Jika digunakan sebagai kantong sampah pori-pori biobag dapat mengatur sirkulasi udara di dalamnya, membuat biobag tidak mudah berembun sehingga dapat menekan pertumbuhan jamur. Bobot sampah organik yang disimpan juga akan menyusut hingga lima puluh persen.

Keunggulan lain dari biobag adalah jika dibuang di tempat pembuangan sampah atau dipendam di dalam tanah mampu terurai secara alami hanya dalam waktu sepuluh sampai empat puluh lima hari

Biobag merupakan salah satu alternatif bagi industri retail yang banyak menggunakan kantong plastik. Alfamart contohnya, per satu Juli 2009 kemarin mengampanyekan penghematan struk belanja dan mulai menggunakan kantong plastik ramah lingkungan untuk setiap kantong belanjanya. Dengan cara ini masyarakat diajak bersama-sama untuk peduli terhadap lingkungan.

Ini merupakan solusi yang bagus dan akan lebih baik seandainya dibarengi dengan peningkatan pemahaman masyarakat untuk mengurangi penggunaan kantong belanja plastik, karena bagaimanapun juga biobag hanya mampu mengatasi sedikit permasalahan pencemaran lingkungan tapi tidak kepada sumbernya, yaitu manusia sendiri.

Alih-alih plastik ramah lingkungan, seorang teman pernah berkata kepada saya “Nih lihat!” sambil menunjukkan plastik yang dipegangnya ia mendiktekan tulisan yang tertera pada plastik tersebut “Plastik ini akan hancur dengan sendirinya!”. Teman saya ini dalam setiap istirahat siang ia pasti akan mampir berbelanja dan membawa paling sedikit dua kantong plastik ukuran sedang dan itu berlangsung terus setiap hari.

Dalam konteks ini, permasalahan kantong plastik bukan dari bahan apa ia dibuat, tapi untuk apa ia digunakan. Jika hanya sebagai kantong belanja dan setelah itu terbuang percuma maka bukan tidak mungkin penumpukan sampah biobag akan terjadi sebentar lagi, melihat volume sampah yang dihasilkan oleh kota Jakarta sangat besar yaitu6,7 ton per hari atau setara dengan 28.000 meter kubik dan 52,97 persennya berasal dari rumah tangga.

Penggunaan kantong plastik dapat diterapkan untuk keperluan lain yang sangat membutuhkan pengemasan agar tidak terkontaminasi atau membahayakan keselamatan, dan kesehatan orang banyak seperti, untuk membungkus sampah rumah tangga, pupuk, arang sekam, detergen, obat kimia, dan lainnya.

Untuk berbelanja keperluan harian, tas kain merupakan solusi yang paling bijak karena dapat dipakai berulang-ulang sehingga tidak menambah sampah baru, dan jika berbelanja dalam jumlah banyak, kita bisa meminta kardus bekas kepada penjaga toko atau swalayan.

Demi menjaga keindahan dan kebersihan lingkungan tidak ada salahnya toh kita bersusah payah? Ada satu slogan dari BiobagUSA.com yang dikutip di sini “Changing the World Without Changing the Earth” dan yakin kita BISA! (fn/kn/jgm/suaramedia.com)