14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Telur Asin Brebes yang Tetap Abadi

http://ceritakulucu.files.wordpress.com/2009/08/telur-asin-custom-custom.jpg

Tak lengkap rasanya apabila menyebut Brebes tanpa telur asin. Ya, telur asin telah menjadi ikon dan ciri khas kabupaten yang terletak di ujung barat Provinsi Jawa Tengah tersebut. Ratusan pedagang telur asin tersebar di hampir semua wilayah Kabupaten Brebes.

Pusat oleh-oleh tampak berderet di sepanjang jalur pantura, antara lain di wilayah Kecamatan Wanasari, Jalan Pemuda, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Jenderal Sudirman di Kecamatan Brebes. Ratusan ribu, bahkan jutaan, butir telur asin siap menanti kehadiran pembeli, termasuk para pemudik pada arus Lebaran tahun ini.

Keberadaan telur asin di Kabupaten Brebes sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Orang yang dipercaya sebagai salah satu pionir pembuat telur asin di Brebes adalah In Tjiauw Seng dan istrinya, Tan Polan Nio.

Menurut penuturan anak tertua mereka, Hartono Sunaryo (68), In Tjiauw Seng meninggal pada 1971 dan Tan Polan Nio meninggal pada 1991. Menurut dia, ayahnya berjualan telur asin sejak tahun 1950-an. Meskipun demikian, telur tersebut tidak dijual di Brebes, tetapi dipasok ke Jakarta.

Dari empat anak In Tjiauw Seng, hanya dia yang masih berjualan telur asin. Namun, dia tidak memproduksi sendiri, melainkan membeli dari perajin lain. Hartono mengaku terkendala modal untuk memproduksi telur asin. "Soalnya untuk proses pengasinan saja butuh waktu setengah bulan," katanya.

Pedagang lain yang dipercaya sebagai pionir pembuat telur asin Brebes adalah Tjoa Kiat Hien dan istrinya, Niati. Usaha telur asin keluarga itu masih berjalan dan diteruskan anak keempat mereka, Tjoa Kiem Tien (55) dengan merek telur asin Tjoa.

Menurut Tjoa Kiem Tien, ibunya mulai berjualan telur asin sekitar tahun 1960. Namun, usaha ibunya mulai dikenal masyarakat sekitar tahun 1965. Seingat dia, saat itu baru ada dua pedagang telur asin di Brebes, yaitu In Tjiauw Seng dan orangtuanya.

"Dahulu jualnya pakai keranjang seperti sangkar burung yang ditaruh di atas meja atau digantung," katanya. Saat ini, penjualan telur asin sudah jauh lebih berkembang, yaitu dengan menggunakan kemasan kardus yang cantik.

Awalnya, telur asin dibuat untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Telur bebek dipilih karena lebih mudah diperoleh apabila dibandingkan telur lain. Ternyata, masakan tersebut juga disukai masyarakat luas sehingga berkembang sebagai komoditas khas Brebes.

Tjoa Kiem Tien mengatakan, saat awal berjualan, pembeli telur asin tidak sebanyak saat ini. Pasalnya, belum banyak masyarakat yang lewat Brebes. Jalan pantura Brebes juga belum selebar saat ini.

Pedagang telur asin lainnya di Brebes mulai bermunculan sekitar tahun 1980 dan semakin marak pada tahun 1997. Telur asin memang menjadi salah satu daya tarik masyarakat luar kota untuk singgah ke Brebes. Setiap Lebaran, komoditas ini selalu habis diserbu pemudik untuk oleh-oleh.
Bagi usaha Tjoa, tahun keemasan telur asin berlangsung sekitar tahun 2007. Saat itu, penjualan telur asin dalam setahun mencapai sekitar 1,3 juta butir. Namun, akibat semakin banyaknya pedagang serta ketatnya persaingan, penjualan telur asin cenderung turun. Untuk menyambut pemudik pada Lebaran tahun ini, ia menyiapkan sekitar 200.000 butir telur asin. (Siwi Nurbiajanti | Editor: Dini | Sumber: Kompas Cetak)