fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Bisnis Aqiqah, Peluang Usaha Segala Zaman Omzet Ratusan Juta

http://2.bp.blogspot.com/_o0UsggO0pT8/SQXzsUXls0I/AAAAAAAAAUs/mpbVIKINu8s/s400/aqiqah+1.JPG

Kambing sering diidentikkan dengan ibadah kurban. Pasar untuk kambing otomatis dicantolkan dengan perayaan kurban pada ldul adha. Akan tetapi, sebenarnya ada pasar lain yang tak kalah menarik bagi pengusaha kambing dan berlangsung terus-menerus adalah aqiqah.

Meski bukan ibadah wajib, kesadaran masyarakat muslim untuk menyelenggarakan aqiqah anak-anaknya semakin meningkat. Namun, di sisi lain mereka ogah repot. Tentu ini mendatangkan rezeki bagi para pengusaha jasa layanan aqiqah.

Bagi umat muslim, wujud syukur menyambut kelahiran bayi ditunjukkan dengan menggelar ritual aqiqah. Sang orangtua jabang bayi menyembelih domba atau kambing, mengolah dagingnya, lalu membagikan kepada tetangga kanan kiri dan handai tolan.

Dulu kebanyakan orang menyembelih dan mengolah sendiri daging kambingnya, tapi kini tidak lagi. Lantaran kesibukan, banyak orangtua tak punya cukup waktu menyiapkan sendiri aqiqah buat si permata hati. Kini banyak orang cenderung praktis, tinggal memesan segala kebutuhan ke katering aqiqah.

Jasa ini melayani semua kebutuhan aqiqah, mulai dari mencari kambing, memotong, sampai mengolah menjadi hidangan siap santap. Meski jasa katering aqiqah menjamur, prospek usaha ini masih bagus. “Selain karena kesadaran aqiqah meningkat, kebanyakan orang ingin yang serba praktis,” ujar Ahmad Tamami, pemilik Al Amien Aqiqah Praktis, di Depok, Jawa Barat.

Karena potensi pasar masih luas, menurut Ahmad, bisnis layanan aqiqah ini masih terbuka lebar bagi pemain baru. Jadi, kalau Anda tengah mencari-cari ide bisnis, barangkali usaha layanan aqiqah ini bisa menjadi pilihan menarik.

Anda tak harus memiliki keahlian khusus untuk menjalankan bisnis ini. Yang penting Anda memiliki tenaga pemotong dan pengolah daging kambing jempolan.


Ahmad adalah salah satu pebisnis jasa layanan katering aqiqah yang sudah merasakan nikmatnya rezeki dari usaha ini. Biasanya, pengusaha yang merintis bisnis aqiqah pada 2003 ini memanen rezeki besar saat liburan sekolah dan lebaran haji. Pada periode peak season itu, ia bisa memotong 20 ekor kambing sehari, dengan omzet sampai Rp 20 juta. Di luar musim itu, Ahmad hanya memotong dua ekor kambing sehari. Omzetnya pun Rp 2 juta per hari. Dari omzet tersebut, laba bersih yang masuk ke kantong Ahmad sekitar 20%. “Hasilnya lumayan,” ujar dia.


Berkah usaha katering aqiqah juga dinikmati Salamah Aqiqah yang dikelola Mitra Tani Farm (MT Farm), sebuah usaha penggemukan kambing di Bogor, Jawa Barat. Berkecimpung di bisnis layanan aqiqah sejak 2006, kini Salamah Aqiqah meraup omzet hingga Rp 30 juta per bulan. Budi Susilo Setiawan, Manajer Pemasaran MT Farm, bertutur laba bersih Salamah sekitar 30% dari omzet.


Rumah Aqiqah juga mendulang laba besar dari usaha ini. Dengan dukungan 14 kantor cabang, Rumah Aqiqah yang berdiri pada 2004 bisa memotong 800 sampai 1.000 ekor kambing per bulan. Dari situ omzetnya Rp 800 juta–Rp 1 miliar. “Laba bersih kami 30% dari omzet,” kata Dede Hilman, Kepala Divisi PT Agro Niaga Abadi, perusahaan pengelola dan penyedia hewan ternak yang menaungi Rumah Aqiqah.


Berminat? Sabar dulu, sebelum menjajal usaha ini, ada baiknya Anda menyimak beberapa kiat bisnis ini terlebih dulu.


Pasokan kambing

Jika ingin menjajal usaha ini, Anda tidak harus memiliki usaha ternak penggemukan kambing. “Pasokan kambing bisa beli dari peternak atau pasar hewan,” ujar Ahmad.

Anda cukup menyediakan lahan penampungan ternak. Tidak perlu terlalu luas, dengan lahan seluas 20 meter persegi Anda sudah bisa membuat kandang penampungan.


Menurut Ahmad, kambing yang akan dipakai untuk aqiqah harus memenuhi sejumlah syarat. Misal, kambing harus sehat dan tidak cacat. Kambing juga harus sudah masuk usia layak potong, yakni berusia minimal enam bulan atau memiliki berat 16 kilogram.


Selama ini, Ahmad membeli kambing langsung dari para peternak di Bogor, Jawa Barat. Sebagian juga ia beli dari pasar hewan Parung, Bogor. Jika pesanan lagi ramai, setiap seminggu sekali ia membeli kambing sebanyak 120 ekor. Harga kambing berkisar Rp 400.000–Rp 500.000 per ekor. “Kadang kalau beruntung, ada juga seharga Rp 300.000 per ekor,” ujar Ahmad.


Cara yang ditempuh Salamah Aqiqah lain lagi. Ia tidak perlu membeli kambing dari para peternak atau pasar hewan. Semua kebutuhan kambing sudah bisa dipenuhi dari MT Farm. Peternakan MT Farm kini memiliki 700 ekor domba dan 50 ekor kambing.


Sama halnya Salamah Aqiqah, Rumah Aqiqah juga mendapat pasokan kambing dari PT Agro Niaga Abadi. Setiap kantor cabang mendapat pasokan 100 ekor kambing untuk stok selama sebulan.


Variasi menu dan paket aqiqah

Variasi menu penting untuk menarik minat konsumen. Al Amien Aqiqah Praktis, misalnya, menyediakan berbagai jenis olahan kambing, seperti sate, gulai, kambing guling, semur, tongseng, dan steik. “Prinsipnya, apa pun yang dipesan konsumen akan selalu kami penuhi,” tutur Ahmad.

Setiap jenis olahan kambing ia tawarkan dalam beberapa pilihan paket. Harga setiap paket berbeda, tergantung dari ukuran kambing. Ahmad mematok paket termurah Rp 1 juta dan paket termahal Rp 2,5 juta.

Bagi pemeluk agama Islam, kurban dan aqiqah sama-sama anjuran yang mendekati wajib. Kurban dilakukan setahun sekali, yaitu ldul adha atau hari tasyrik yang mengiringinya. Adapun, aqiqah dilakukan pada setiap kelahiran anak. Dalam aqiqah, porsinya adalah dua ekor kambing untuk kelahiran anak laki-laki, serta satu ekor kambing untuk kelahiran bayi perempuan. Jika pasar untuk kurban hanya setahun sekali, maka pasar untuk aqiqah bersifat kontinu karena kelahiran bayi terus-menerus terjadi sepanjang tahun. Selain aqiqah, pasar yang bersifat kontinu untuk kambing adalah acara syukuran, keperluan rumah makan, restoran, atau pedagang sate yang setiap hari membutuhkan daging kambing. Pasar semacam inilah yang dibidik oleh Andri Fajria melalui usahanya, harmonia Saga Makmur.

Andri, 39, adalah alumnus Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebenarnya usahanya tidak langsung dimulai dari bisnis kambing. Pada April 2004 Andri mengumpulkan beberapa orang temannya yang tertarik di bidang usaha mikro di Tangerang. Dia memandang Kota Tangerang merupakan kota industri karena banyak terdapat pabrik. Pada saat itu ada beberapa pabrik yang mulai tutup. Muncullah idenya untuk mendorong masyarakat ke arah kewirausahaan. Bersama sejumlah teman dia mendirikan Lembaga Pengelolaan, Pembinaan dan Pengembangan Wirausaha (LP3W) Harmonia. Kegiatannya berupa seminar kewirausahaan. Lalu membuat training bisnis dengan mengundang para praktisi bisnis dan juga mengoperasikan berbagai macam unit usaha.

Suatu ketika, pakar bisnis Rhenald Khasali dari IH menyarankan agar usaha LP3W Harmonia lebih fokus dengan memilih salah satu usaha. Akhirnya mereka memilih usaha pinggiran yang semua orang bisa melakukannya yaitu usaha bisnis kambing. Dalam upaya menarik perhatian pembeli, pihaknya tidak melakukan iklan di koran dan majalah, tetapi memasang mini banner di pohon-pohon, bekerja sama dengan rumah sakit dan bidan, memberikan voucher discount akikah sebagai suvenir pernikahan. Dengan strategi pemasaran tersebut, katanya, Andri yang dikenal sebagai Raja Kambing Jabodetabek pernah menjual kambing kurban terbesar, mendapatkan penghargaan Muri sebagai pelaksana aqiqah massal terbanyak. Usaha tersebut dimulai dengan modal Kpi s juta, yaitu untuk sewa tempat, membangun kandang dan membeli beberapa ekor kambing sebagai modal awal. Setelah 2 tahun menjalankan usaha tersebut, ada beberapa investor yang ingin bergabung. Setelah itu, pihaknya bisa membuka peternakan di Balaraja dan Rangkasbitung.

Tangani lonjakan

PT Harmonia Saga Makmur bergerak di bidang pemasaran serta penggemukan kambing. Pada 2006-2007, Andri pernah ekspor kambing ke Malaysia sebanyak 200 ekor per minggu, tetapi usaha itu belakangan dihentikan. Pada musim haji 2008, terjadi lonjakan permintaan yang sangat tinggi. Pada waktu itu, dia menjual kambing hingga 2.500 ekor, sedangkan pada bulan biasa dia menjual sebanyak 100 ekor per bulan. "Waktu itu kami sampai kewalahan untuk memenuhi permintaan itu," kata ayah empat anak itu. Penjualan kambing kurban itu menyusut pada 2009. Tahun lalu dia tidak melakukan promosi, karena kesulitan mendapatkan kambing, sehingga pada bulan haji hanya menjual sebanyak 500 ekor.

Mengingat fluktuasi pasok dan permintaan itu. Andri menggeser bisnisnya. Dia konsentrasi untuk menjual kambing untuk aqiqah dan menghentikan penjualan ke pasar tradisional. Usaha pemasarannya terus berkembang sampai sekarang. Pada bulan-bulan biasa, pihaknya menjual kambing khusus untuk aqiqah. Dia tidak hanya menjual kambing, tetapi juga pelayanan. Seperti, memberikan sertifikat aqiqah, katering. "Yang penting pelayanannya tepat waktu, dan rasa masakan yang enak," ungkap Andri yang mengantar pesanan itu sampai ke alamat dengan tepat waktu. Dia berpendapat usaha bisnis kambing di Jabodetabek mempunyai peluang besar untuk dikembangkan. Pada tahun ini, dia menargetkan penjualan meningkat 100% dibandingkan dengan tahun lalu, karena adanya rencana penambahan dua kantor cabang. Pada tahun lalu, pihaknya bisa menjual sekitar 150 ekor per bulan dengan rata-rata harga Rpl juta. "Pada tahun ini kami menargetkan penjualan kambing untuk akikah mencapai 300 ekor per bulan," kata Andri yang juga salah seorang dari pendiri Sekolah Alam Tangerang itu.

Pada tahun ini, pihaknya juga akan memasarkan sapi kurban ke Jawa Barat. Usaha mikro yang dirintisnya sejak 2006 itu bertindak sebagai pemasaran kambing dan penggemukan. Lokasi peternakannya berada di Balaraja, dan Rangkasbitung. Selain itu, pihaknya juga mendatangkan kambing dari berapa daerah di Jawa Barat dan beberapa daerah di Sumatra. Kambing yang dijualnya berasal dari mitranya peternak kambing di daerah Purwokerto, Garut, Indramayu, dan Solo. Di samping itu, dia membentuk koperasi di Balaraja yang anggotanya beberapa peternak kambing di daerah tersebut. Begitu pula untuk penggemukan, dia membeli kambing yang masih kecil. Dia juga sering berbagi pengalaman, baik dengan sesama peternak, calon pensiunan maupun mahasiswa yang menjelang lulus. Dia juga membentuk kelompok peternak Saga Makmur dan mendirikan Koperasi Peternak Saga Makmur yang diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM pada 8 Agustus 2008. (fn/kn/bv/suaramedia.com)