fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Bisnis Batagor, Jajanan Rasa Ala Jepang Kian Diminati

http://2.bp.blogspot.com/_U8Qyf5w7ANg/R7Bj0OM_yEI/AAAAAAAABFM/yzNQvs9YGhk/s400/batagor1.JPG

Tren jajanan lokal bernama batagor bermula dari Bandung, Jawa Barat. Sebenarnya, nama batagor ini merupakan akronim dari kata bakso tahu goreng. Wujud batagor memang tahu berbalut tepung lalu digoreng.

Dari jajanan pinggir jalan, pamor batagor naik kelas. Jajanan ini tak lagi hanya ada di Kota Kembang melainkan melebar hingga luar kota.

Batagor juga sudah ngetren di Malang, Jawa Timur. Ridwan Abadi adalah salah satu pelaku usaha kuliner yang menjual panganan ini. Bisnisnya berawal sejak tahun 2008, ketika ia mendirikan sebuah restoran bernama Dapur Unik. Restoran ini menjual aneka makanan dari berbagai daerah, termasuk batagor.

Dari Dapur Unik, bisnis Ridwan justru bergulir menjadi bisnis batagor yang dijual di atas gerobak dan booth. Namanya Batagor Jepang Takashi Mura (BJTM). "Soalnya batagor saya banyak peminat dan menjadi menu favorit," imbuh dia.

Bukan tanpa alasan Ridwan mengusung nama BJTM. Panganan buatannya berbeda dengan batagor yang banyak di pasaran. Demi menghadirkan citarasa Jepang, dia menyuguhkan bakso dengan rasa ikan dan udang serta tahu katsu. Selain bakso dan udang, ada delapan jenis makanan lagi yang dia suguhkan. Untuk sausnya, dia menyajikan pilihan lain di luar saus kacang, yakni saus teriyaki dan saus mayones.

Harganya Rp 800 hingga Rp 2.000 per item makanan. Pembeli bisa memadupadankan seporsi batagor dengan jenis makanan lain.

Saat ini, Ridwan mempunyai tiga gerai di Malang. Setiap gerainya bisa menjual 600-1.000 item makanan sehari, dengan omzet Rp 18 juta per bulan per gerai.

Dia optimistis dengan bisnis ini karena rutin mengeluarkan menu-menu baru setiap dua bulan sekali. "Supaya saya selalu di depan," imbuhnya.

Royalty setelah BEP

Berharap usahanya kian maju, Ridwan menawarkan konsep kemitraan sejak Februari tahun ini. Dia telah menggandeng 17 mitra, yang tersebar di Surabaya, Semarang, Salatiga, Ambarawa, Kudus, Demak, Tangerang, dan Depok

Ada tiga paket kemitraan BJTM, yakni Paket Gerobak dengan investasi awal Rp 25 juta, Paket Booth Rp 35 juta, dan Paket Indoor Rp 50 juta. Nilai tersebut sudah termasuk biaya jalinan kerjasama selama tiga tahun Rp 10 juta. Setelah tiga tahun, mitra bisa melanjutkan kerjasama dengan membayar Rp 10 juta.

Selama kerjasama, mitra harus membeli bahan baku dari pusat, seperti beragam makanan dan saus BJTM. Omzet Ridwan dari penjualan bahan baku ke mitra Rp 60 juta Rp 90 juta per bulan.

Syarat lainnya mengenai pungutan royalti. Ridwan bakal mengutip royalti sebesar 2,5 persen dari omzet per bulan para mitranya. "Tapi pemungutan royalti setelah mitra balik modal," katanya.

Salah seorang mitra BJTM, Tri Purwanto, mengaku respon pasar atas gerai yang dibuka belum genap sebulan tersebut cukup bagus. Dia membuka gerai di Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah. Tiap hari, dia menjual150 porsi batagor dengan kisaran harga Rp 8.000 per porsi. Artinya, omzet yang diraup Tri mencapai Rp 400.000 sehari. "Saya ambil untung 30 persen," katanya.

Jika respon pasar stabil, Tri memprediksi usahanya bakal balik modal dalam 10 bulan. Karena optimisme itu, dia sudah mulai melirik area lain untuk mendirikan gerai BJTM. Tri bakal membuka BJTM di sentra jajanan Telogo Sari dan Tembalang.

Berbisnis dapat terjadi karena iseng. Iseng-iseng berbisnis, lama kelamaan bisa menjadi besar, bisa menjadi bisnis yang menghasilkan banyak uang.

Batagor Cipayung yang  kini memiliki 10 gerai, berawal dari keisengan H Mutohar untuk mencoba-coba berbisnis. Tahun 1999, Mutohar yang saat itu masih bekerja di salah satu perusahaan pengelola jalan tol, di kawasan Sunter, Jakarta mulai mencoba berbisnis Es Cendol Bandung buatan sendiri untuk dijual di kantin kantornya. Kebetulan saat sedang adaoffice boy yang sedang menganggur. Ia memintanya untuk menjaga dan melayani para pembeli di usahanya yang baru dicobanya, Cendol Bandung.

Pilihan bisnis Cendol Bandung berawal dari pengamatannya tentang banyaknya pebisnis Cendol Bandung di pasar-pasar tradisional yang eksis dan bahkan bisa dikatakan merajai di mana-mana.

“Saya mencoba meniru bisnis yang mereka lakukan.  Alhamdullah dalam sehari Cendol Bandung yang kami jual di kantin kantor bisa laku 30-40 porsi . Jumlahnya tidak banyak, tetapi cukup melegakan,” ujar pria kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah 43 tahun lalu.

Mulai Tumbuh Isengnya

Saat bisnis Cendol Bandung mulai berjalan, keisengan berbisnis Mutohar mulai bertambah lagi. Kali ini ia juga mulai tertarik bisnis siomay. Sang mantan office boy, yang membantunya, mengaku juga dapat membuat siomay.

Maka mulailah Mutohar mencoba melihat potensi bisnis ini, dan mulai juga belajar membuat siomay. Caranya ia banyak berdiskusi dengan pedagang siomay, dan mencoba membuatnya.

“Saya mencoba membuat sendiri siomay, kemudian saya bawa ke kantor. Saya ujicobakan kepada teman-teman di kantor. Ternyata banyak yang menyukainya. Dari sanalah saya yakin bahwa setelah Cendol Bandung, bisnis siomay juga bisa dilakukan,” cetusnya.

Perjalanan bisnis terus dijalankan. Dalam perjalanannya masih banyak hal yang masih perlu diperhatikan, seperti terus menurunnya hasil penjualan Cendol Bandung dan Siomay di kantin kantor  tempat  Mutohar bekerja. Hal ini disadari karena pembeli di kantin jumlahnya terbatas, dan pelanggannya juga dari itu ke itu saja.

Ia mulai berfikir. Produk bagus, sayang kalau hanya dikembangkan atau dijual dalam area yang terbatas, hanya dalam lokasi kantin saja. Mengapa tidak dijual ke luar kepada masyarakat umum.

“Karena penjualan di kantin kantor lama-lama semakin menurun, saya mencari-cari lokasi usaha yang tepat. Akhirnya saya mendapat tempat berjualan di halaman Apotik Cipayung, lokasi yang tidak jauh dari kediaman saya. Di halaman apotik tersebut sudah ada konter handphone, dan saya mendirikan gerobak yang menjual siomay ikan tenggiri di lokasi tersebut,” ujar suami dari Siti Fatimah ini.

Perlu Perjuangan

Belum genap usahanya berjalan satu bulan, karyawan yang diserahi untuk mengelola usaha siomay ikan tenggiri mulai kendur semangatnya. Ia beralasan berjualan siomay tidak laku di lokasi tersebut.

Mendengar alasan demikian, Mutohar mulai berfikir, apa yang dapat dilakukan agar usahanya tetap berjalan. Ia, setiap pulang kerja mencoba nongkrong di tukang siomay pinggir jalan yang ramai pembeli. Selain bertanya banyak hal, ia juga memperhatikan ragam produk dan cara pelayanannya.

“Saya melihat setiap penjual siomay yang ramai disitu juga berjualan batagor. Bahkan ada yang berjualan menjadi satu yaitu berjualan siomay juga berjualan batagor, dan ramai pembelinya,” ujar Mutohar.

Setelah belajar banyak hal dari orang-orang penjual siomay dan batagor, bagaimana sih membangunnya, Mutohar mulai mengatur strategi baru lagi. Ia membuka kembali gerainya, dengan berjualan dua produk, yaitu siomay dan juga menjual batagor.

Setelah dicoba beberapa waktu, batagornya ternyata lebih laku dibandingkan dengan siomay. Ini yang membuat ia semangat. Namun batagornya belum diberi brand sehingga banyak orang yang bertanya ini batagor apa.

Karena batagor pertama kali dibuka di Apotik Cipayung, maka ia kemudian memberi nama Batagor Cipayung. Dari satu karyawan, dari satu outlet, kini Batagor Cipayung tumbuh menjadi bisnis sebanyak 10 0utlet dengan 16 orang karyawan.

Mutohar akhir tahun 2005 lalu juga telah memutuskan untuk keluar dari status sebagai karyawan dari Citra Marga Nusaphala, perusahaan yang telah memberikan tempat menggantungkan kehidupannya selama dua tahun lebih. Ia memilih menggeluti usaha Batagor Cipayung ini, yang rencananya akan dikembangkan melalui sistem bisnisfranchise di masa mendatang.

“Saya sedang merintis untuk difranchisekan. Saya kadang-kadang kepingin cepat berkembang tetapi takut tidak tertangani dengan baik. Menciptakan brand yang kuat, sistem bisnis serta support lainnya sedang saya susun,” ujarnya. (fn/km/mh/suaramedia.com)