fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Syawal 1442  |  Jumat 14 Mei 2021

Harumnya Laba Usaha Kopi Aroma Buah Tak Perlu Modal Besar

http://www.kampoengcoffee.com/images/Coffee_cup.jpg

SuaraMedia News - Siapa orang yang tak kenal pada minuman hitam ber­nama kopi? Semuanya pasti tahu, bahkan pernah mencecap­nya. Memang, mungkin, itulah minuman paling populer sedu­nia. Sampai-sampai, pertemuan pagi hari pun disebut coffee morning, bukan tea morning. Saking populernya, varian pe­nyajian minuman kopi pun ber­aneka macam. Rasa kopi pun bisa dimodifikasi sedemikian rupa. Misalnya, mencampur kopi dengan susu, cream, cara­mel, dan lain-lain.

Ragam sajian kopi ini memun­culkan peluang bisnis mengun­tungkan. Sebut saja misalnya, Starbuck, Coffebean, dan masih banyak lagi. Namun, untuk men­dirikan kedai kopi berskala in­ternasional seperti di atas, tentu butuh banyak modal. Harga jual minuman ini cukup tinggi, seki­tar Rp 30.000 per cup. Dengan harga setinggi itu tak semua orang bisa membeli

Bisnis minuman kopi merupakan bisnis yang berumur panjang. Sebab, penggemar kopi sudah ada sejak dulu dan terus ada hingga sekarang. Apalagi, masyarakat semakin kreatif meracik varian kopi.

Salah satu varian yang mulai tren akhir-akhir ini adalah kopi bercampur ekstrak buah. Adalah Ala'din F&B Management yang mencoba mempopulerkan kopi rasa buah di Bandung, sejak Januari lalu.

Salah satu pemilik Ala'din F&B Management, Taufik Effendi, menuturkan, ide bisnis ini berawal dari keinginannya menikmati kopi beraroma buah seperti yang dilakukan penduduk di Lampung. Ketika coba meracik kopi dengan sirup, dia gagal mendapatkan rasa yang pas. "Rasa buahnya kalah tertutupi kopi," kisah Taufik membuka obrolan.

Lalu, dia menggandeng rekannya yang merupakan pedagang sekaligus peracik kopi di Lampung. Maka, ia berhasil mendapatkan komposisi kopi dan buah yang pas. Lantas, dia berpikir membisniskan bubuk kopi rasa buah itu.

Dia mulai menyusun konsep usaha kopi buah bertipe booth dengan brand Fruit Coffee Ala'din. Nama ini dipakai karena masih satu grup dengan kemitraan Pisang Ijo Ala'din. Ada tujuh varian kopi yang disediakan, yaitu original, stroberi, durian, melon, moka, lychee, dan anggur.

Dia menawarkan paket kemitraan ini sejak Januari lalu. Saat ini sudah ada tujuh mitra di Bandung, lima mitra di Jakarta dan Tangerang, dan lima mitra di Sumatera Barat.

Menurut Taufik, pihaknya tidak mengoperasikan gerai sendiri supaya fokus mengembangkan dan memasarkan produk, serta mengelolanya. "Dengan cara ini kami berharap brand berkembang lebih cepat, tanpa harus keluar modal besar," jelasnya.

Produk tak mudah basi

Tidak sulit menjadi mitra Fruit Coffee Ala'din. Mitra cukup menyiapkan lokasi, karyawan dan investasi Rp 7,5 juta. Modal itu mencakup satu unit booth, shaker, termos es, pemanas air, seragam, pelatihan pegawai, dan initial fee selama lima tahun.

Keunggulan bisnis ini karena produk yang dijual tidak mudah basi. Bahan bubuk kopi siap saji bisa tahan sampai tiga bulan. Selain itu, belum banyak pesaing sehingga pasar masih terbuka. Taufik juga memastikan pasokan bahan baku bagi mitra. "Kami mengemas dalam sachet supaya menjaga kualitas produk di setiap gerai," ungkapnya.

Harga secangkir fruit coffee minimal Rp 5.500. Mitra boleh menjual lebih mahal, sesuai lokasi. Setidaknya, mitra mengantongi keuntungan bersih Rp 2.500 per cup.

Menurut Taufik, kopi aroma buah ini sebaiknya dipasarkan di sekitar sekolah atau kampus. Cuma, kelemahannya, saat liburan, mitra harus mencari tempat alternatif.

Taufik memperkirakan penjualan harian setiap gerai sekitar 50 cup atau sachet. Alhasil, mitra bisa balik modal dalam hitungan 4 bulan.
Salah satu mitra Fruit Coffee Ala'din di Bandung, Desy Amaliati Setiawan menuturkan, ia memilih kemitraan ini karena produknya unik. Apalagi, nilai investasinya cukup terjangkau.

Booth miliknya beroperasi sejak Februari silam. Ia menempatkan booth di salah satu rumah makan yang aksesnya dekat dengan kampus. Namun, karena produk baru, dia harus rajin mempromosikan dagangannya, seperti lewat facebook dan membuat sampel dalam cangkir kecil. "Dengan penjualan berkisar 30-60 cup sehari, saya berharap balik modal dalam hitungan lima bulan," katanya..

Nah, untuk membidik celah pasar, ada juga kedai kopi yang berdandan bak kafe di mal, tapi mematok harga lebih populis. Cobalah mampir di Misterblek Coffe, sebuah kafe mungil, bah­kan sebagian gerainya hanya berupa gerobak, mampu menya­jikan minuman kopi blended bercita rasa internasional.

Cukup dengan membayar Rp 6.000, pembeli mendapatkan satu cangkir kopi blanded. Rasa dan aroma minuman ini tidak kalah dengan sajian di kedai kopi berkelas. “Rasa dan aroma sama. Soalnya, bahan-bahan dan proses pembuatannya juga tidak berbeda,” kata Basri Adhi, pemilik Misterblek Coffe.

Misterblek Coffe memang masih baru dalam bisnis ini. Basri baru mendirikannya pada November 2007. Variasi kopi yang dia saji belum banyak. baru terdiri tiga rasa. Yakni, tiramisu, caramel, dan cappucino. “Se­mua rasa, harganya sama Rp 6.000 per cup,” katanya.

Walau demikian, meski ku­rang dari setahun, usaha ini te­rus berkembang. Di kawasan Jabodetabek, Misterblek sudah tumbuh di delapan tempat. Satu tempat lagi ada di Bandung. “Ini saya jalin melalui kemitraan de­ngan orang lain,” kata Basri.

Saat ini Basri mempunyai lima outlet dan satu kafe yang ia ke­lola sendiri. Selain itu, ia juga sering membuka outlet dadakan dalam acara-acara tertentu. Mu­lai dari arisan PKK hingga pen­tas seni (pensi) di kalangan pe­lajar. Satu kali event, Basri mengaku bisa menjual ratusan cup kopi.

Mitra tanpa syarat

Menurut Basri, perkembang­an bisnis ini sangat bagus. Me­mang banyak berdiri kedai-ke­dai kopi, namun Misterblek ma­sih mampu bersaing. Apalagi, dengan rasa dan aroma yang sama, harga Misterblek juga terbilang miring. “Orang tidak perlu lagi mengeluarkan uang puluhan ribu hanya untuk mera­sakan kopi blanded,” katanya.

Basri sengaja tidak mematok harga yang mahal seperti di tem­pat lain. Pasalnya, ia ingin mem­bidik kalangan menengah ke bawah. Menurutnya, masyara­kat kalangan ini mempunyai potensi yang besar untuk dijadi­kan target pasarnya, karena jumlahnya yang banyak. "Meski pengeluaran sedikit, tapi jumlah konsumen potensial dari ka­langan menengah sangat besar jumlahnya," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, untuk memulai usaha ini tidak perlu mengeluarkan modal ba­nyak. Selain itu, untuk bermitra dengan Misterblek, Basri juga tidak menentukan syarat yang macam-macam. Ia juga tidak memungut fee dari tiap mitra. “Malah kami yang memberikan bantuan alat kerja berupa blen­der,” kata Basri.

Menurutnya, syarat utama bagi pemitra adalah mempunyai lahan usaha dan minat untuk bekerja. Ia menjelaskan, untuk bermitra dengan Misterblek, calon mitra cukup memesan minimal 50 sachet kopi campur­an segala rasa.

Khusus untuk mitra di Jabo­detabek, pemesanan pertama minimal 25 sachet. Tiap sachet, harganya dipatok Rp 3.000. “Un­tuk menyajikan kopi ini perlu blender. Kami akan meminjam­kan blender itu,” katanya. Selain blender, ia juga meminjamkan banner Misterblek.

Basri menambahkan, peme­sanan kopi tersebut minimal 25 hari sekali. Bila dalam dua bulan tidak memesan, blender akan ditarik kembali. Namun, kata Basri, kondisi ini belum pernah terjadi. “Biasanya mitra malah pesan ulang (repeat order) tiap hari minimal 10 sachet,” jelas Basri, panjang lebar.

Menurut Basri, dengan modal yang terbilang kecil, usaha ke­mitraan Misterblek akan lang­sung memberikan balik modal dalam satu kali pemesanan. Mengingat harga jual tiap satu cup kopi cuma Rp 6.000. (fn/k2nt)