20 Safar 1443  |  Selasa 28 September 2021

basmalah.png

Gurihnya Keripik Tempe Datangkan Omzet Puluhan Juta

http://2.bp.blogspot.com/_xhiyjOtYgfA/Sk3bI7eTMTI/AAAAAAAAAoI/YjGoPFmf_80/s320/Kripik-tempe.jpg

NGAWI (SuaraMedia News) - Begitu memasuki wilayah Desa Jetis Baru, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, denyut usaha keripik tempe begitu kuat. Hampir semua rumah di pinggir jalan raya Ngawi-Bojonegoro itu mengembangkan usaha camilan berupa keripik tempe. Pelaku usaha umumnya sedang beristirahat setelah keripik tempe selesai diproduksi.

"Saat ini jam istirahat. Perajin kembali bekerja setelah pukul 15.00," kata Surati (30), perajin tempe yang sedang mengemas produk di salah satu unit usaha di wilayah itu.

Menurut Surati, usaha keripik tempe di Ngawi cukup menjanjikan karena permintaan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi menjelang Lebaran, permintaan keripik tempe mengalami peningkatan hingga 300 persen produksi normal.

Pelaku usaha rumahan itu umumnya mengaku, order berdatangan dari berbagai daerah satu bulan menjelang Idul Fitri. Dani Anggoro (37) mengungkapkan, permintaan keripik tempe tidak lagi dari Jawa Timur, tetapi juga dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Dani mengaku, pesanan bisa naik hingga 300 persen sehingga persediaan tempe harus benar-benar cukup. Tempe juga diproduksi sendiri sehingga kualitasnya tetap terjamin, termasuk rasa.

Peningkatan permintaan dari berbagai kota memaksa perajin harus melembur. Bahkan, tidak jarang mereka harus bekerja hingga 12 jam per hari agar pesanan bisa diselesaikan sesuai dengan perjanjian kontrak. Biasanya pesanan sudah beres, yang berarti tiba di alamat pemesan, paling lambat satu minggu sebelum Lebaran.

Menurut Dani, pada kondisi normal produksi keripik tempe minimal 1.000 bungkus setiap bungkus seberat 250 gram. Namun menjelang Lebaran, produksi bisa mencapai 2.160 bungkus. Sebanyak delapan perajin memproduksi tempe lebih dari 2.000 bungkus setiap hari.

Mereka dipekerjakan sekitar pukul 04.00-16.00. Bagi Ika (18), perajin, bahan baku tempe untuk keripik menggunakan kedelai impor dari Argentina.

Alasannya, kedelai impor menghasilkan tempe berkualitas ketimbang komoditas lokal. Setiap hari minimal 25 kilogram kedelai diolah menjadi tempe. Biasanya dua bulan sebelum hari raya, dia sudah mempersiapkan stok kedelai agar tidak kesulitan ketika order melonjak.

"Tempe diproduksi sendiri agar rasa keripik tidak berubah. Bumbu diolah sendiri sehingga rasanya lebih gurih" ucapnya memberi alasan menyangkut kualitas keripik tempe bermerek Dhimas yang sudah dipasarkan hingga Jabar.

Bisnis keripik tempe, bagi warga setempat, bukan hanya untuk penghasilan tambahan. Usaha rumahan ini juga digarap kaum perempuan sebagai penyangga ekonomi di daerah tersebut. Maka, mereka tetap mempertahankan kualitas. Apalagi, keripik tempe adalah salah satu produk unggulan Kabupaten Ngawi.

Gurihnya usaha keripik tempe menjadi salah satu alasan penduduk setempat terus mengembangkan kreasi camilan, termasuk mencari terobosan bahan baku. Kini pelaku usaha tidak hanya membuat keripik dari tempe, tetapi juga singkong.

Mereka tidak berhenti berinovasi agar camilan khas Ngawi tidak jalan di tempat, melainkan bisa berkibar di seantero Nusantara. Usaha camilan juga mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi kaum perempuan tanpa harus meninggalkan rumah.

Produsen keripik tempe tentu tak terhitung jumlahnya di negeri ini. Namun, bicara mengenai produksi keripik tempe, tak bisa tidak, kita juga harus menghiraukan keberadaan kampung Sanan yang berada di kota Malang, Jawa Timur.

Kampung Sanan memang merupakan sentra keripik tempe yang sudah cukup terkenal. Letaknya yang berada di pusat kota membuat keberadaan sentra ini cukup strategis. Tak sulit bagi siapapun, entah itu penduduk setempat ataupun pengunjung luar kota mendatangi tempat ini.

Kampung Sanan tepatnya terletak di Kelurahan Purwantoro. Di depan Kampung Sanan, berdiri tegak sebuah gapura yang bertuliskan "Sentra Industri Tempe Sanan". Di kanan-kiri gapura tersebut terdapat beberapa kios cantik dan relatif baru yang menjajakkan keripik tempe hasil produksi sentra tersebut.

Masuk melalui gapura tersebut, kita akan mendapati kios-kios lain yang berjajar di sepanjang jalan. Kios-kios dengan berbagai nama ini khusus menjual keripik tempe. Masuk ke beberapa gang kecil di kanan atau kiri jalan, hamparan kios keripik tempe memang tak lagi menghadang. Pemandangan akan berubah menjadi hamparan rumah-rumah biasa yang sekaligus menjadi tempat produksi keripik tempe maupun produksi tempe.

Tempe sebenarnya merupakan produk andalan Kampung Sanan. Sebelum dikenal sebagai sentra keripik tempe, Sanan telah lama dikenal sebagai sentra tempe. Hampir seluruh penduduk kampung tersebut sejak puluhan tahun lalu bergiat sebagai produsen tempe. "Usaha tempe sudah menjadi usaha turun-temurun di kampung ini," ujar Rudi Adam, salah satu pengrajin keripik tempe di sentra tersebut.

Hal ini diakui juga oleh Abdul Madjid, salah satu pengusaha keripik tempe yang sudah dianggap sebagai sesepuh di sentra tersebut. Menurut Abdul, keripik tempe sebenarnya merupakan usaha yang relatif baru di kampung Sanan.

Dulu, orang-orang kampung tersebut hanya memproduksi tempe yang dijual di pasar-pasar sekitar Malang. Jadi, pada awalnya, keripik tempe sebenarnya hanya merupakan produk sampingan kampung ini.

Rudi bilang, jika tempe-tempe yang dijual di pasar tidak laku, tempe tersebut akan dijadikan keripik tempe. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian. Tempe yang tidak laku, umur kadaluwarsanya bertambah ketika menjadi keripik. Selain itu nilai jual produk tempe ini juga ikut terangkat.

Abdul, yang mulai menjadi produsen tempe sejak tahun 1980-an, merupakan salah satu pionir pengrajin keripik tempe di Sanan. Ia menuturkan, pada pertengahan 1990-an, produsen tempe di kampung Sanan sudah terlalu banyak. Ia pun mulai berhenti menjual tempe dan pada tahun 1996 mulai memproduksi keripik tempe.

Pada tahun 1990-an, menurut Abdul, produsen keripik tempe masih sangat sedikit. Paling-paling sekitar dua atau tiga orang yang memang benar-benar memproduksi keripik tempe sebagai produksi utama mereka. Sekitar tahun 2000-an, pengrajin keripik mulai bertambah. Hingga kini berjumlah lebih dari 100 pengrajin.

Inovasi rasa dalam kemasan cantik

Rasa yang beraneka ragam memang merupakan salah satu kreativitas para perajin keripik tempe Sanan. Mereka tahu betul, rasa keripik tempe yang semata gurih akan membuat orang bosan. Rasa keripik yang membosankan tentu saja akan menurunkan minat pembeli. Ujung-ujungnya, omzet mereka bisa turun.

Awalnya, keripik tempe Sanan memang cuma diproduksi dalam satu rasa, yaitu gurih. Tak berbeda dengan keripik tempe buatan perajin di daerah-daerah lain. Tapi ketika usaha keripik tempe di Sanan semakin menggeliat, para perajin mulai membuat berbagai inovasi rasa. Menurut Rudi Adam, perajin keripik tempe dengan merek Burung Swari, gagasan membuat tempe dengan rasa yang bermacam-macam muncul dari adanya produk-produk makanan ringan yang memiliki beragam cita rasa. "Inspirasinya dari berbagai cemilan di supermarket yang rasanya macam-macam," ujarnya.

Rudi sendiri kini menjual keripik tempe dengan 18 macam rasa. Ada keripik tempe rasa ayam bakar, ayam kecap, ayam bawang, bumbu rujak, jagung manis, pedas manis, dan sambal udang. Ada juga inovasi rasa keripik tempe yang mencoba meniru rasa masakan luar negeri. Contohnya, keripik tempe rasa beef barbeque, jagung amerika, pepperoni, lada hitam, dan rasa pizza.

Menurut Rudi, yang paling laris di tempatnya adalah keripik tempe rasa barbeque dan lada hitam. Rudi mengaku, bumbu-bumbu untuk keripik tersebut harus diimpor dari luar negeri. "Harga bumbunya Rp 30.000 per kilogram," imbuhnya. Namun, tak semua perajin memproduksi keripik tempe dengan variasi rasa sebanyak yang diproduksi Rudi. Menurut Abdul Madjid, ada sebagian perajin tempe yang membuat satu macam rasa saja. Lalu, perajin lain yang akan memberikan tambahan bumbu sendiri.

Abdul Madjid sendiri memproduksi empat rasa keripik tempe. Yang paling laris, menurutnya, adalah keripik tempe rasa balado. Untuk bumbunya, Abdul cukup membelinya di pasar lokal. Meski ada berbagai macam rasa, bukan berarti keripik tempe yang biasa atau sering disebut keripik tempe original tak laku. Menurut Hidayat Wicaksono, produsen keripik tempe dengan merek Melati, keripik tempe original pun tetap memiliki peminatnya sendiri. Apalagi, harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan keripik tempe aneka rasa.

Selain punya aneka rasa unik, sentra keripik tempe Sanan juga terkenal dengan kemasan produknya yang inovatif. Beberapa perajin tempe di Sanan mengemas keripik tempenya dalam kemasan aluminium foil. Rudi mengklaim, dirinyalah pelopor kemasan keripik tempe menggunakan aluminium foil itu. "Awalnya, saya menggunakan aluminium foil supaya keripik tempe lebih tahan lama. Bukan untuk gaya," ujarnya.

Rudi menambahkan, bila mengemas keripik tempe dengan plastik biasa, keripik tempe hanya sanggup bertahan tiga bulan. Sementara jika menggunakan lembar aluminium, rasa dan kerenyahan keripik tempe bisa tahan sampai enam bulan. Ternyata penggunaan lembar aluminium itu bukan hanya menjadi lebih tahan lama saja, tapi juga menjadikan kemasan keripik tempe menarik dan terkesan elit.

Tergantung lokasi usaha

Yang namanya menjalankan sebuah usaha, tentu membutuhkan modal. Tak terkecuali bagi para perajin keripik tempe di sentra keripik tempe Sanan, Malang. Contohnya Hidayat Wicaksono. Perajin di sentra keripik Sanan ini mulai menekuni usahanya sejak tahun 2000 dengan modal Rp 1 juta. Meski modalnya tak bisa dikatakan besar, Hidayat mampu mengembangkan bisnisnya dengan baik.

Kini, dibantu 14 orang karyawannya, Hidayat bisa memproduksi 1 kuintal keripik tempe per hari. Ia menjual keripik tempenya seharga Rp 25.000 per kilogram (kg). Dengan harga segitu, dia bisa meraup omzet sekitar Rp 67,5 juta per bulan dengan margin 16%. "Keuntungan per hari sekitar Rp 400.000," imbuh lelaki berusia 35 tahun tersebut.

Namun tidak semua perajin di sentra keripik tempe Sanan memiliki kemampuan dan keberuntungan seperti Hidayat. Abdul Madjid, misalnya. Kendati terbilang salah satu pionir keripik tempe di sentra ini, kini Abdul hanya bisa memproduksi keripik tempe sebanyak 5 kg per hari. Mirisnya lagi, dalam sehari, ia hanya bisa menjual 20 bungkus keripik tempe dengan harga Rp 2.500 per bungkus. Tak pelak, omzet yang diraup Abdul pun cuma Rp 50.000 per hari atau sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Laba yang dipetiknya pun tak terlalu besar. "Yang penting cukup buat bayar listrik, air, dan biaya sekolah anak," ungkap Abdul.

Berbeda lagi dengan yang dialami Rudi Adam. Meski ia berjualan keripik tempe di sentra ini, sejatinya Rudi bukanlah produsen. Dengan kata lain, ia tidak memproduksi keripik tempe sendiri. Rudi hanya mengambil pasokan keripik tempe yang belum diberi bumbu dari para tetangganya. Keripik tempe original tersebut lalu diberi bumbu sendiri untuk selanjutnya dikemas dengan merek Burung Swari.

Rudi memiliki dana yang cukup untuk membiayai usahanya. Makanya Rudi bisa mendirikan dua kios. Kios pertama berada di depan rumahnya. Yang kedua di pinggir jalan raya, persis di samping gapura masuk ke kampung Sanan. Dengan letak kios yang sangat strategis, Rudi bisa meraup omzet yang lebih banyak ketimbang kebanyakan pengusaha keripik tempa lain di Sanan.

Apalagi, harga jual keripik tempenya lebih mahal, yakni Rp 5.000 per bungkus untuk keripik tempe original dan Rp 6.500 per bungkus untuk keripik tempe rasa. Rudi mengaku, saban hari ia bisa menjual 500-600 bungkus keripik tempe dengan omzet sekitar Rp 4 juta per hari. Jadi, dalam sebulan dia bisa membukukan omzet sekitar Rp 120 juta. "Margin laba sekitar 15%," ujarnya.

Sesungguhnya, besar atau kecilnya volume penjualan seorang pedagang juga ditentukan oleh lokasi kios usahanya. Contohnya, ya Rudi Adam. Dia memiliki kios di lokasi yang strategis sehingga pengunjung mudah menyambanginya. Yang kurang beruntung tentu saja para perajin yang rumah atau kiosnya terletak di gang-gang sempit di dalam kampung tersebut. Dalam kondisi seperti ini, biasanya mereka menitipkan keripik tempe buatannya kepada para penjual yang memiliki kios di pinggir jalan atau memasarkan di tempat lain.

Banting harga demi memikat pelanggan

Semakin hari, semakin banyak warga Sanan yang beralih profesi menjadi perajin keripik tempe. Lantaran semakin banyak pemain, pasokan keripik tempe Sanan pun berlimpah. Para perajin saling bersaing berebut pelanggan. Alhasil, muncul persaingan yang tidak sehat. Buntutnya, perang harga pun tak terhindarkan.

Sentra keripik tempe Sanan, Malang, dalam beberapa tahun telah berkembang dengan pesat. Jika di awal tahun 2000 hanya ada beberapa perajin keripik tempe, sekarang jumlah perajin bertambah berlipat-lipat. Hidayat Wicaksono, yang menggeluti kerajinan keripik tempe sejak awal 2000, menuturkan, jumlah perajin keripik tempe kini telah mencapai sekitar 40% dari jumlah penduduk kampung Sanan. Jumlah ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi hanya dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan jumlah perajin yang semakin banyak, tingkat produktivitas pun ikut meningkat. Namun di sisi lain, jumlah perajin yang seabreg ini pun menimbulkan masalah yakni mengenai persaingan harga. Hidayat mengakui, persaingan harga keripik tempe di tingkat perajin semakin tak sehat. Menurutnya, banyak perajin rela membanting harga supaya omzet yang diraup lebih besar. Tak jarang, beberapa perajin merebut pelanggan perajin lainnya dengan menawarkan harga keripik tempe yang jauh lebih murah.

Hal ini juga diakui oleh Rudi Adam yang memiliki dua kios keripik tempe di bagian depan kampung. Menurut dia, para perajin keripik tempe seringkali rela memperoleh untung sedikit asal barang dagangannya laku keras. Hal ini dilakukan untuk menarik minat konsumen dan demi mendapatkan pelanggan setia.

Rudi bilang, memang wajar bagi konsumen mencari produk yang sama dengan harga lebih murah. Meski demikian, katanya, perajin tak perlu membanting harga sehingga memperkecil margin. Rudi sendiri mengaku menjual keripik tempe dengan harga yang cukup tinggi dibanding perajin keripik tempe yang memiliki kios di dalam kampung. Dengan lokasi yang strategis, dia memang bisa lebih mudah menjaring pembeli. Jika ada konsumen yang mencari harga lebih murah, ia selalu merekomendasikan konsumen menemui para perajin di dalam kampung.

Menurut Rudi, dia sengaja melakukan hal tersebut untuk mengangkat harga keripik tempe para perajin yang ada di dalam kampung. Sehingga, harapannya, harga keripik tempe buatan perajin yang berlokasi di dalam kampung juga ikut terangkat. Namun, nyatanya niatan itu tak mendapat respon. Menurut Rudi, beberapa perajin tetap bersaing membanting harga. "Ujung-ujungnya kualitas keripik tempe menurun," imbuhnya.

Imam Domiri, perajin keripik, menuturkan, jika penjualan sedang sepi, para perajin kerap iri terhadap perajin lainnya yang penjualannya cukup ramai. Dari situ, beberapa perajin kemudian merusak harga yang kemudian diikuti oleh perajin lainnya. Tak pelak, harga keripik tempe pun merosot gara-gara rasa iri satu sama lain.

Munculnya persaingan harga yang kadang tidak wajar ini, timpal Hidayat, karena tidak adanya paguyuban atau wadah bersama bagi para perajin di Sanan. Tanpa paguyuban, para perajin tak akan bersatu sehingga harga keripik tempe tak bisa seragam.

Sebetulnya, di sentra Sanan sudah ada koperasi, yakni Primpopti Bangkit Usaha. Mashuri, Sekretaris Primpopti Bangkit Usaha, menuturkan, koperasi tersebut memang merupakan wadah bagi para perajin, baik perajin tempe maupun perajin keripik tempe. Namun, koperasi tersebut hanya mengurusi masalah pasokan kedelai, bukan masalah pemasaran.

Hidayat mengaku tak mau mengikuti arus banting-membanting harga tersebut. Sebab, ia punya pangsa pasar sendiri di luar Sanan. Ia memasarkan keripik tempe buatannya ke luar seperti ke Surabaya, Kalimantan, Bali dan kota-kota lain. Menghadapi permasalahan perang harga tersebut, Hidayat dan beberapa temannya kini berencana membuat sebuah paguyuban sebagai wadah bagi para perajin keripik tempe Sanan. Dengan wadah tersebut, diharapkan para perajin lebih guyub dan rukun. (fn/km/knt)