fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Mi Strawberry Antarkan Kuli Panggul Jadi Jutawan

http://www.suaramedia.com/images/resized/images/stories/2berita/1_3_ekonomi/mie_stroberi_ba_200_200.jpg

BEKASI (SuaraMedia News) - Memakan semangkuk mi stroberi di Bakmi Alim membuat saya penasaran. Potongan buah stroberi, sayuran toge dan sayuran hijau, potongan ayam, serta mi warna merah muda beraroma stroberi langsung menyergap indera mulut dan hidung saat gulungan mi masuk ke mulut. Ditemani Semangkuk kecil kuah bakmi bertabur goreng bawang di ruangan sejuk berpendingin dengan warna, sungguh berbeda.

Adalah Alim, pemilik Bakmi Alim yang merintis usaha Bakmi Herbal Alim. Pria berusia 45 tahun bernama asli Suhanto memang memiliki keinginan mengelola usaha bakmi kendati sukses mengembangkan usaha martabak.

“Mi itu makanan orang Indonesia dan akan selalu punya tempat pada konsumen. Pasarnya selalu besar,” katanya di tempat usahanya di outlet mi herbal Alim, di Ruko T6 Villa Nusa Indah, Jatiasih, Bekasi, akhir pekan lalu.

Alim bercerita, walaupun keluarganya di daerah asalnya, Bangka, turun temurun bekerja sebagai penjual bakmi dan martabak, ia tak tertarik. Profesi karyawan ia lakoni selama bertahun-tahun.

Lepas dari pekerjaannya di tanah kelahiran, ia pindah ke ibu kota. Sempat menjadi kuli panggul dan sales di sebuah showroom mobil. Pekerjaan Alim selanjutnya penjual mi ayam selama 10 tahun. Pada 2007, setelah berkali-kali bangkrut, sisa tabungannya hanya Rp 13 juta.

Dengan modal bakat dan hasil belajar dari keluarganya, ia kemudian banting setir menjadi penjual martabak. “Saya sudah gagal berkali-kali. Tekad saya usaha kali ini harus berhasil kalau tidak, hidup saya bersama istri dan anak-anak saya taruhannya.” Ia berjanji pada diri sendiri.

Alim menyimpulkan, kalau hanya menjual martabak rasa standar, ia tak punya kelebihan apa-apa dibanding pedagang martabak lainnya.

Dengan bakat dan kemampuanya mengolah makanan, ayah lima anak ini kemudian bereksperimen dengan rasa martabak. Hasilnya, martabak dengan rasa unik muncul dari tangannya. “Saya selalu menjaga rasa dengan kualitas bahan yang pas, dari mentega, terigu, dan bahan lainnya. Rasa martabak tidak boleh dipengaruhi bahan baku,” kata pria yang sehari-hari senang berpakaian santai itu. Karena sekali saja mengurangi kualitas bahan baku, rasa makanan juga berbeda.

Varian martabak manis dengan isi selai dan buah stroberi, durian, apel, pisang, dan buah campuran ia ciptakan. Demikian juga dengan martabak telur buatan Alim. Dia membuat martabak telur rasa daging sapi, ayam, sosis, jagung, tuna, paprika, dan bakso.

Awalnya, Alim hanya membuat sekitar 10 rasa untuk dua jenis martabak. Pada hari pertama ia berjualan, omset Alim hanya Rp 149 ribu per hari. Tak butuh waktu lama, minat konsumennya semakin besar. Kini, setelah hampir dua tahun Alim memiliki 88 unit franchise dengan omset rata-rata Rp 3 juta per hari.

Bahkan di tempat-tempat tertentu, omset harian satu outlet mencapai  Rp 5 juta, seperti outlet yang ia kelola sendiri. Satu unit outlet franchise yang ia tawarkan Rp 150 juta kepada investor sudah termasuk tempat, delapan karyawan, jasa ahli boga, peralatan hingga bahan baku.

Merasa mapan dengan usaha martabaknya dan menciptakan 44 varian rasa serta mempekerjakan 600 karyawan, suami Nurhidayanti (30 tahun) ingin melakukan hal serupa untuk bakmi, makanan yang ia jual selama 10 tahun. Padahal ia tahu, pengusaha besar mi lainnya banyak tersungkur .

“Banyak rumah bakmi yang menjual bakmi tapi yang dibeli makanan biasa. Makanya saya berpikir bikin mi enak tapi juga memiliki rasa khas.”

Tantangan yang ia jawab dengan melahirkan mi berbahan dasar sayuran dan buah-buahan. Sebut saja mi stoberi, mi wortel, mi jagung, dan mi madu. Pangsit juga ia olah dari makanan berbahan dasar organik buah dan sayuran.

Pengolahannya harus seimbang dan memperhatikan kandungan gizi bahan baku. Serupa dengan martabak, bahan baku terigu dengan komposisi protein berbeda, hasil mi-nya akan berbeda. “Mi akan hancur kalau memakai merek yang selalu saya pakai,” katanya seraya menyebut merek terigu yang ia maksudkan.

Mi organik yang ia buat juga tak memakai bahan pengawet sehingga hanya kuat hingga satu hari kendati disimpan di kulkas.

Hanya dalam hitungan bulan, usaha mi herbal Alim merayap naik. Omset satu toko mencapai Rp 4-5 juta. Alim juga membuka sayap usaha mi herbal di empat lokasi Tangerang, dua di Jakarta, dan satu lagi di Bekasi.

Baginya, persaingan usaha adalah sekolah menguji kemampuan seseorang terus menerus. “Kuncinya memang kita harus terus berkreasi, berinovasi dengan sesuatu yang baru tetapi tetap bisa diterima konsumen,” ia bertutur.

Tak ingin berpuas diri, dalam waktu dekat Alim akan kembali berkreasi dengan menu masakan Indonesia lainnya. “Saya ingin buat bubur organik,” katanya mantap. (vivanews.com)