pustaka.png
basmalah.png.orig


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Bermodalkan Mesin Ketik Kantongi Hingga Rp.1 Jt Seminggu

http://id.media1.88db.com/DB88UploadFiles/2008/10/20/0C2FDBAC-463A-4DB1-B946-CE9D23670342.jpg

BANDUNG (SuaraMedia News) - Jari-jari Lasin (45) tampak lincah menekan tuts huruf pada mesin tik bermerek Brother yang berada tepat di depannya. Tanpa melihat tuts mesin tik, bapak tiga anak itu terus bekerja mengerjakan pesanan tugas kuliah mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad). Kedua matanya begitu serius menatap teks yang berada di sebelah tangan kiri.

Selama 20 tahun, pria asal Tasikmalaya ini menggantungkan hidup dari bekerja sebagai tukang ketik manual di Jalan Singaperbangsa, tidak jauh dari kampus Unpad Jalan Dipatiukur. Dinaungi kios bercat biru ukuran sekitar 5x1 meter, Lasin pun sekaligus membuka jasa service mesin tik.

"Saya sudah sejak tahun 1990 bekerja di sini menjadi tukang ketik manual. Lima tahun kemudian, saya buka servis mesin tik," kata Lasin ketika disambangi di kiosnya, Pionir 09, Jalan Singaperbangsa, Bandung.


Tarif yang ditawarkan Lasin untuk satu lembar ketikan bermacam-macam. Semua tergantung jenis kertas, spasi, dan waktu pengerjaan. Untuk mengetik di kertas ukuran kwarto, Lasin mematok harga Rp2.000 per lembar dengan jarak dua spasi, Rp3.000 untuk jarak 1,5 spasi dan Rp4.000 untuk satu spasi.


Sementara untuk pengetikan di atas kertas berukuran A4, harganya lebih mahal lagi. Lasin biasa mematok harga Rp2.250 per lembar dengan jarak satu spasi, Rp3.250 untuk 1,5 spasi, dan Rp4.500 untuk dua spasi. Bahkan, tarif bisa berubah menjadi dua kali lipat,  manakala konsumen meminta jasanya pada malam hari, dan memerlukannya dengan cepat. "Maklum, kan kalau malam waktunya istirahat, makanya ongkos pengerjaannya lebih mahal," kata Lasin.


Di Jalan Singaperbangsa, Lasin tidak sendirian menawarkan jasa ketik. Setidaknya terdapat 80 kios lainya, baik manual maupun komputer. Dia sendiri merupakan generasi ketiga setelah sebelumnya berdiri kios-kios serupa di Jalan Singaperbangsa, sejak tahun 1973.


"Dulu tahun 1990, tarif jasa pengetikan masih murah. Kalau tidak salah, saya dulu mematok Rp75 untuk satu lembar ketikan. Seiring perkembangan zaman, harga jasa pengetikan pun ya disesuaikan," kata Lasin.


Lebih jauh Lasin mengatakan, pada tahun 1990, kios-kios jasa pengetikan manual tersebut dikoordinir oleh koperasi. Namun, kata dia, saat ini sudah tidak aktif lagi. "Kalau dulu suka ada rapat- rapat dengan koperasi. Sekarang sudah tidak aktif lagi," ujarnya.


Lasin pun kembali melanjutkan pekerjaan. Sepuluh jarinya kembali aktif menekan tuts mesin tik tua yang dia miliki sejak bujangan. Keahlian Lasin (45) mengetik manual ternyata tidak diperoleh dengan cara mudah. Sebelum membuka jasa pengetikan di Jalan Singaperbangsa, Lasin sempat kursus selama dua bulan di salah satu tempat kursus di Bandung. Selama itu pula, dia mengasah kemampuannya meski harus kena marah pengajarnya.


"Saya sempat ikut kursus selama dua bulan, baru kemudian memberanikan diri membuka kios jasa pengetikan. Waktu itu, gurunya galak. Saya tidak boleh melihat ke tuts mesin tik, dan terus fokus ke teks yang ada di depan. Kalau lihat mesin tik, langsung dipukul tangannya," kata Lasin di kiosnya di Jalan Singaperbangsa, Bandung.


Setelah mengikuti kursus selama dua bulan, Lasin pun nekat membuka kios jasa pengetikan. Awalnya, dia sering kena semprot pelanggan karena hasil ketikannya kurang memuaskan. Namun lama-lama, Lasin terbiasa juga dan jarang melakukan kesalahan selama mengetik.


"Saya berpikir, kalau saya tidak berani mencoba, tentu tidak akan pernah bisa. Akhirnya, saya buka jasa pengetikan, mulai dari mengetik kuitansi, sampai tugas-tugas kuliah atau sekolah," kata Lasin.


Lama-lama, Lasin pun terbiasa mengetik 10 jari dengan lancar. Dari 8 lembar tugas pengetikan yang dia kerjakan, kesalahan paling hanya satu sampai dua lembar ketikan. Sisanya, bersih tanpa coretan apa pun.


Tapi itu dulu. Sekarang keahlian Lasin sudah mulai berkurang. "Ya meski tidak terlalu banyak, ada saja kesalahan ketik. Sekarang sudah tua," kata Lasin sambil terkekeh.


Meski bertahan dengan mesin tik, Lasin ternyata tidak buta perkembangan zaman. Sejak sekira tahun 2000, dia pun melengkapi kiosnya dengan sebuah komputer. Walhasil, tidak hanya jasa pengetikan manual, Lasin pun membuka jasa pengetikan komputer.


Namun, meski sudah membuka jasa pengetikan komputer, tetap saja masih ada pelanggan yang membutuhkan pengetikan mesin tik. "Dari 15 pelanggan yang datang, 10 di antaranya lebih memilih jasa mesin tik, sedangkan lima lainnya memilih komputer," kata Lasin. Bagi Lasin (45), membuka jasa pengetikan merupakan bisnis yang menjanjikan. Dari jasa pengetikan manual tersebut, Lasin bisa menghidupi istri dan ketiga anaknya yang tinggal di Tasikmalaya.


"Penghasilan ya lumayan. Pernah dalam seminggu, saya bisa membawa uang Rp1 juta ke rumah. Tapi tidak tentu juga," kata Lasin di kiosnya Jalan Singaperbangsa, Bandung.

Lasin mengatakan, anak pertamanya kini sudah sekolah SMP kelas 3, sementara anak kedua sekolah di SD kelas 3, dan anak ketiga sekolah di TK. Semuanya bersekolah dari penghasilan Lasin membuka jasa pelayanan mengetik manual.

"Ya sekarang sudah ditambah dengan jasa pengetikan komputer sama service mesin tik, jadi penghasilan lumayan," kata Lasin.

Jasa service mesin tik sendiri, kata Lasin, dimulai sekitar tahun 1995, atau 5 tahun setelah dia membuka jasa pengetikan manual. Berbeda dengan mengetik yang sempat kursus dua bulan, Lasin mengaku belajar sendiri cara memperbaiki mesin tik.

"Kalau service mesin tik, saya belajarnya otodidak. Dari situ, saya berani membuka jasa service mesin tik," kata Lasin.

Tarif yang dipatok Lasin untuk jasa service mesin tik bervariasi, dari Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Menurut Lasin, jasa pengetikan dan service mesin tik rata-rata penuh dari Selasa sampai Jumat.

"Seminggu sekali saya pulang kampung naik sepeda motor. Biasanya, kios-kios jasa pengetikan selalu penuh setiap Selasa sampai Jumat. Sabtu tidak terlalu banyak. Makanya, saya biasanya pulang Sabtu sore," kata Lasin. (fn/z3k)

88db.com