19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

Manisnya Laba "Bee Pollen" Tak Kalah Dari Madu

http://1.bp.blogspot.com/_Eas_t9jdynA/Su6FcU9L9iI/AAAAAAAAALk/3W6iM5Pm6oo/s320/bee.jpg

JAKARTA (SuaraMedia News) - Siapa tak kenal madu, cairan manis dari sarang lebah. Rasanya yang manis dan khasiatnya yang besar bagi kesehatan tubuh, membuat madu digemari semua kalangan, mulai kanak-kanak hingga orang dewasa. Karena peminatnya banyak, nilai ekonomis madu juga tinggi. Alhasil, banyak orang beternak lebah demi mendapatkan rezeki dari madu sang lebah. Tapi, sejatinya, produk yang dihasilkan dari peternakan lebah bukan hanya madu.

Ada berbagai produk lain yang bisa dihasilkan, salah satunya adalah bee pollen. Khasiat bee pollen bagi kesehatan tidak kalah manjur dibandingkan madu atau royal jelly.

Menurut Rakhmat Subiyanto, pengusaha peternakan lebah Bina Apriari di Jakarta, pollen merupakan bagian dari reproduksi lebah jantan. Pollen berasal dari serbuk bunga yang halus dan berwarna kuning keemasan, yang dikumpulkan lebah jantan.

Pollen terdapat pada benang sari bunga tanaman dan memiliki kemampuan reproduksi membentuk tumbuh-tumbuhan. Selain menghisap madu, lebah juga mengumpulkan pollen.

Caranya, dengan mengikis bubuk pollen dari benang sari bunga dengan menggunakan rahang dan kaki depannya. Setelah pollen dibasahi dengan madu, maka kaki belakang lebah yang dilengkapi sisir pollen akan menyisir pollen dan memasukkannya ke kantong pollen yang ada di kaki belakang lebah. Biasanya pollen berasal dari beberapa jenis bunga, seperti bunga jagung, randu, maupun bunga hutan.

Menurut Rakhmat, untuk memanen pollen lebah, ia harus memasang perangkap khusus yang biasa disebut pollen trap di depan pintu masuk kotak lebah. Dengan cara itu, pollen akan jatuh sebelum dibawa masuk ke dalam sarang lebah.

Pollen terkenal sebagai makanan alami dengan kandungan gizi lengkap. Produk lebah yang berbentuk butiran kuning kecoklatan ini mengandung asam amino, 12 vitamin, termasuk B kompleks, 28 mineral, enzim, koenzim, 14 asam lemak penting, 11 karbohidrat, dan 30% protein.

Salah satu manfaat utama pollen lebah adalah kemampuannya membantu mengendalikan berat badan. Alhasil, bee pollen bisa menunjang diet seseorang yang ingin menurunkan kelebihan berat badannya.

Khasiat lain bee pollen, konon, adalah mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit, seperti serangan kanker, impoten, menopause dini, ketidaksuburan, kolesterol, diabetes, tekanan darah tinggi, anemia, dan asma.

Selain itu, "Pollen lebah yang memiliki nutrisi tinggi sangat bagus untuk pertumbuhan dan kecerdasan otak anak jika dikonsumsi secara teratur," imbuh Hariyono, pemilik Peternakan Tawon Rimba Raya di Malang, Jawa Timur.

Sayang, lanjut dia, manfaat pollen lebah belum sepopuler madu atau royal jelly. Selain itu, banyak orang tidak tertarik dengan pollen lebah karena rasanya yang tawar bahkan cenderung kurang enak dibandingkan dengan rasa madu.

Maka, hingga kini Hariyono masih menjadikan bee pollen sebagai produk sampingan. Produksi bee pollen hanya 5% dari total produksi ternak lebahnya. Produksinya pun masih tergantung pemesanan dan cuaca. "Permintaannya masih kalah dibandingkan madu," katanya.

Permintaan Makin Tinggi, Penawaran Terkendala Lahan
Memang, permintaan bee pollen untuk konsumsi pribadi tidak cukup besar. Hariyono, pemilik Peternakan Tawon Rimba Raya di Malang, Jawa Timur, mengatakan, sekitar 80% lebih penyerap bee pollen adalah perusahaan-perusahaan kosmetik. Biasanya, bee pollen menjadi bahan campuran untuk produk diet maupun suplemen.

Dalam satu bulan, Hariyono bisa memproduksi bee pollen maksimal mencapai 300-500 kilogram (kg). Pollen lebah tersebut biasanya berasal dari beberapa jenis bunga, seperti bunga jagung, randu, maupun bunga hutan.

Hariyono menjual pollen lebahnya dengan harga bervariasi, tergantung dari jenis bunga yang menjadi sumber pollen tersebut. Untuk pollen dari bunga jagung, dia mematok harga Rp 40.000 per kg. Sedangkan harga pollen dari bunga randu Rp 50.000 per kg, dan Rp 90.000 per kg untuk pollen dari bunga hutan. Hariyono mengatakan, pasar terbesarnya berada di Jawa, Bali, Makasar, dan Lampung.

Dari penjualan pollen lebah, Hariyono yang memiliki 1.200 kotak lebah ini bisa meraup omzet rata-rata Rp 20 juta dalam satu bulan. "Kalau untuk margin keuntungan, ya, lumayan lah," kata Hariyono, mengelak.

Rakhmat Subiyanto, pengusaha peternakan lebah Bina Apriari di Jakarta, hanya memproduksi bee pollen ketika musim bunga, yakni antara Juni hingga Oktober untuk daerah Jawa. Di luar musim itu, produksinya hanya dilakukan untuk bunga jagung yang waktunya menyesuaikan dengan musim tanam jagung.

Setiap kotak lebah, bisa menghasilkan bee pollen sekitar dua kilogram. Saat ini, Bina Apriari memiliki 1.000 kotak lebah. Artinya, dalam sekali musim bunga, Bina Apriari bisa menghasilkan bee pollen hingga dua ton.

Dalam menjual bee pollen, Rakhmat mengaku terbiasa membersihkan pollen terlebih dahulu sebelum mengemasnya. Dia membungkus bee pollen ke dalam botol berukuran 100 gram dan 200 gram.

Harga jual sebotol pollen berukuran 100 gram Rp 50.000 dan Rp 90.000 untuk botol 200 gram. Untuk penjualan grosir, Bina Apriari biasanya mau memberi potongan harga antara 30%-50%.

Hasil produksi di musim bunga, ungkap Rakhmat, biasanya menjadi persediaan selama satu tahun. Dia mendistribusikan produk ini ke seluruh Indonesia. Dengan begitu, Bina Apriari bisa meraup omzet dari penjualan bee pollen dalam setahun mencapai sekitar Rp 1 miliar dengan keuntungan sekitar 20%.

Rakhmat mengaku, bisnis bee pollen sebenarnya memiliki prospek yang cerah. Semua produk lebah tidak akan pernah sepi peminat. Demikain juga dengan produk bee pollen. Rakhmat menuturkan, persediaan bee pollen di tempatnya selalu habis terjual. Bahkan, menurutnya, Indonesia masih membutuhkan impor bee pollen dari Thailand.

Namun, lanjut Rakhmat, tantangan ke depan adalah produksi bee pollen yang kian menurun dalam tiga tahun terakhir ini. Penyebabnya, persoalan iklim dan tanaman yang kian berkurang. Sekarang, menurut Rakhmat, luas hutan di daerah Jawa semakin mengecil dan populasi tanaman kapuk yang menjadi andalan Bina Apriari di beberapa daerah seperti Pati, Probolinggo, dan Pasuruan makin sedikit. (fn/knt)