14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Mengenal Manajemen Investasi Untuk Pertahankan Investor

http://pinkyangga.files.wordpress.com/2010/02/investasi-emas1.jpg

SuaraMedia News - Manajemen investasi adalah manajemen profesional yang mengelola beragam sekuritas atau surat berharga seperti saham, obligasi dan aset lainnya seperti properti dengan tujuan untuk mencapai target investasi yang menguntungkan bagi investor.

Investor tersebut dapat berupa institusi ( perusahaan asuransi, dana pensiun, perusahaan dll) ataupun dapat juga merupakan investor perorangan, dimana sarana yang digunakan biasanya berupa kontrak investasi atau yang umumnya digunakan adalah berupa kontrak investasi kolektif (KIK) seperti reksadana.

Lingkup jasa pelayanan manajemen investasi adalah termasuk melakukan analisa keuangan, pemilihan aset, pemilihan saham, implementasi perencanaan serta melakukan pemantauan terhadap investasi.

Diluar industri keuangan, terminologi "manajemen investasi merujuk pada investasi lainnya selain daripada investasi dibidang keuangan seperti misalnya proyek, merek, paten dan banyak lainnya selain daripada saham dan obligasi.

Manajemen investasi merupakan suatu industri global yang sangat besar serta memegang peran penting dalam pengelolaan triliunan dollar, euro, pound dan yen.

Sejak akhir tahun lalu, harga saham maupun obligasi meningkat pesat. Namun, jangan mengira para manajer investasi (MI) girang melihat hal ini. Kini, kami, para MI, justru menghadapi masa yang berat.

Benar, indeks harga saham gabungan (IHSG) naik tinggi. Namun, gairah bursa semata terjadi karena aksi belanja para investor asing. Sementara, investor reksadana yang sebagian besar merupakan investor lokal justru mengambil langkah sebaliknya. Banyak di antara mereka memanfaatkan momen seperti sekarang ini untuk memetik untung. Para investor, yang memang cenderung masih berorientasi jangka pendek, menarik dananya dari reksadana.


Kondisi ini jelas membuat para MI tidak senang. Sebab, kalau pun dana kelolaan meningkat, hal itu hanya karena tertolong kenaikan harga aset. Sementara itu, secara riil, dana investor sebenarnya berkurang.


Dalam keadaan seperti ini, sebuah perusahaan manajer investasi membutuhkan tim yang solid untuk tetap menjaga kinerja perusahaan. Beruntung, First State Investments Indonesia memiliki modal semangat kekeluargaan dan kebersamaan untuk menghadapi kondisi seperti ini.


Sejak lama, saya telah menempatkan humanity sebagai prioritas utama. Karena itu, ketika ikut mendirikan First State di Indonesia, saya tidak ingin membangun sebuah kantor yang semata-mata berorientasi pada uang. Memang benar, target atau sasaran keuangan harus ada. Demikian pula, kami harus memiliki strategi investasi, pemasaran, dan berbagai strategi lainnya. Reward dan punishment juga harus tetap dijalankan.


Namun, lantaran yang menjalankan semua strategi itu adalah manusia, sisi manusia ini tidak boleh terlupakan. Karenanya, alih-alih menerapkan budaya kantor yang resmi, saya memilih mengadopsi nuansa “keluarga” di kantor. Saya sendiri menempatkan diri sebagai orangtua dan, seperti orangtua mengenal anak-anaknya, saya mengenal secara pribadi 95% kolega yang ada di First State. Saya juga berusaha mengenal keluarga mereka, dan pintu ruangan saya selalu terbuka bagi semua karyawan.


Beberapa budaya sederhana juga kami terapkan untuk membangun suasana kekeluargaan. Misalnya, kami memiliki budaya makan siang bersama di kantor. Perusahaan yang menyediakan menunya dan setiap karyawan menikmati menu yang sama. Saat seperti ini menjadi momen bagi kami untuk membangun relasi yang lebih dekat.


Tak kalah pentingnya, selain etos kerja, integritas, human relationship, dan team work, tim direksi juga menularkan spiritualitas dalam menghayati pekerjaan kepada para karyawan. Di antara beberapa lukisan yang ada di kantor, kami sengaja memasang lukisan seorang anak kecil di tempat yang paling strategis. Sebab, kami ingin mengajak karyawan menghayati pekerjaannya seperti halnya sikap seorang anak kecil. Ia tidak pernah khawatir, menjalankan semua aktivitas dengan gembira, bebas, tetapi tetap kreatif. Jadi, pertama-tama, setiap karyawan harus mencintai pekerjaannya dan menjalaninya dengan gembira. Enjoy the work! Dan, prestasi atau pencapaian target akan menjadi buah dari sikap ini.


Berbekal suasana kekeluargaan itu, kini, kami tim direksi secara intensif merangkul para manajer investasi, tenaga penjual (sales), dan karyawan yang lain untuk mengenali secara lebih dekat dan mendetail masalah-masalah yang mereka hadapi. Alhamdulillah, peta yang ada di hadapan kami sekarang sudah semakin jelas dan kami siap maju. Dalam kalender bursa, saat-saat ini merupakan masa paling sibuk bagi perusahaan atau emiten. Mereka menggelar hajatan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bagi para pemegang saham.


Meski telah menjadi ritual tahunan, musim RUPS ini selalu ditunggu-tunggu oleh investor. Maklum, RUPS merupakan manifestasi penghargaan tertinggi emiten kepada para investor selaku pemegang saham. Di sini, kita bisa melihat pesta demokrasi sejati ala pasar modal, di mana vox populi, vox dei berlaku. Karenanya, pantaslah RUPS memiliki kedudukan tertinggi dalam perusahaan.


RUPS adalah ajang untuk mewujudkan penghargaan perusahaan terhadap tanggung jawab, profesionalisme, dan kerja keras. Wajar jika manajemen yang berhasil meningkatkan kinerja perusahaan mendapatkan tantiem yang sebanding.


Emiten juga memberikan penghargaan bagi pemegang saham yang telah memberikan kepercayaan berupa dana investasi. Sebagai imbal hasil, mereka memperoleh pembagian kenduri berupa dividen. Jadi, dividen sudah seharusnya merupakan conditione sine qua non, keharusan mutlak.


Apalagi bagi investor yang berorientasi jangka panjang. Mereka, biasanya, tidak mengejar capital gain di bursa. Mereka mengharapkan kepercayaan investasinya dihargai dengan dividen yang sebanding.


Kenyataannya, keharusan mutlak itu sering tak terwujud. Dengan berbagai alasan, tak sedikit emiten – meski membukukan laba positif – tak membagikan dividen. Seandainya ada, nilai dividen tidak sesuai dengan besaran yang dijanjikan sebelumnya dalam prospektus.


Pada umumnya, manajemen perseroan berdalih hal itu demi kepentingan nilai pemegang saham di masa mendatang. Sebab, laba ini akan digunakan untuk membiayai ekspansi usaha.


Ironis. RUPS yang seharusnya menjadi wahana manifestasi penghargaan kenyataannya justru sering menjadi manifestasi perampasan hak maupun manifestasi lemahnya perlindungan investor kecil (publik). Otoritas bursa pun hanya melihatnya sebagai business as usual.


Padahal, dividen sebagai keharusan mutlak bukan hanya soal ada pembagian atau tidak, melainkan juga soal nilainya. Pasalnya, dalam prospektus saat perusahaan menggelar penawaran umum saham perdana atau IPO, sudah dijanjikan nilai dividen. Bila perseroan membukukan laba sekian, besarnya dividen (pay out ratio) telah ditetapkan sebesar sekian.


Memang, secara hukum, kasus cidera janji kontrak dalam prospektus itu tidak salah. Pasalnya, sesuai undang-undang, RUPS merupakan keputusan tertinggi dalam perusahaan.


Masalahnya, di sini, biasanya saham mayoritas masih dipegang oleh pendiri. Artinya, investor publik (minoritas) hanya bisa gigit jari melihat cidera janji emiten yang menjadi keputusan RUPS. RUPS sering menghadirkan sebuah tirani suara mayoritas terhadap minoritas.


Posisi tawar investor minoritas kian lemah karena kedudukan yuridis prospektus itu sendiri tidak jelas. Setelah selesai IPO, prospektus dilupakan bak pepatah habis manis sepah dibuang.


Padahal, secara filosofis, prospektus berarti dokumen yang memuat kontrak antara perusahaan (issuer) dan investor (prospektor). Prospektus ini harus mampu memberikan harapan nyata atas harta (keuntungan investasi) yang bisa dan harus dipenuhi oleh penerbitnya kepada investor.


Melihat fakta ini, investor perlu mempertimbangkan untuk berinvestasi di saham perusahaan yang pemegang saham pengendalinya lebih professional dan bertanggungjawab. (fn/k2n/wp)