13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Laba Tenun Lidi Capai Puluhan Juta Rupiah Diminati Mancanegara

http://4.bp.blogspot.com/_gH39oEQY8CE/SdcMUHSy1iI/AAAAAAAAABs/vGWkbznuTzw/S692/mm222222221111111111111111111.bmp

YOGYAKARTA (SuaraMedia News) - Selama ini lidi identik dengan sapu yang berfungsi untuk membersihkan sampah. Namun di tangan para ibu di Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, bisa menjadi berbagai hiasan menarik. Anda mungkin mengenal kerajinan tersebut sebagai tenun lidi. Beberapa benda yang dapat diciptakan dari kumpulan lidi di antaranya kotak perhiasan dan tempat tisu. Ada juga taplak, tas jinjing, bahkan cermin.

Kerajinan rumah tangga tersebut dibuat dengan cara ditenun. Sama dengan tenun kain, awalnya benang dipintal menjadi gulungan besar. Selanjutnya, batang lidi kering yang sudah dibersihkan dipintal bersama benang.

Dibanding produk lain, tenun lidi tak pernah kehabisan bahan baku. Kegiatan para ibu tersebut didukung dengan keberadaan pengepul sehingga mereka bisa memilih, mau mengerjakan di rumah atau di tempat pengepulan.


Pernak-pernik dari tulang daun kelapa ini sudah dipamerkan sejak 2006. Konsumennya beragam, dari skala nasional hingga internasional.

Tak kalah dengan Bantul, Tasikmalaya juga dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan perajin handal yang hasil karyanya bukan saja membanjiri pasar lokal tapi juga mancanegara. Maka tak perlu heran kalau banyak dari pengusaha-pengusaha kerajinan muda sekarang ini di sana, umumnya berasal dari keluarga perajin.

Sebut saja Titin Dastini juga Eris Trisnawati, yang berasal dari keluarga pengusaha kerajinan. Sejak kecil mereka ikut terjun membantu orangtua menekuni usaha kerajinan. Karena itu setelah besar, usaha tersebut pun berlanjut. Usaha keluarga Titin adalah kerajinan dari lidi maka ketika menikah dengan Ade Dahyan, Titin pun mengambil bidang usaha yang sama. Bersama suaminya, Titin mengembangkan kerajinan lidi tersebut menjadi perlengkapan rumah tangga yang cantik juga tas-tas wanita.

Untuk dua item ini, produknya cukup mendapat tempat di kalangan buyer luar negeri. Sementara Eris, yang berasal dari keluarga yang menekuni usaha bordir, pun setelah menikah mengembangkan usaha tersebut. Bordir tidak hanya pada baju-baju, khususnya baju muslim, tapi juga blus-blus biasa. "Saya yang mendesain sendiri," ujar wanita muda berusia 26 tahun tersebut.

Kebetulan sejak kecil, kata Eris, dia sangat suka menggambar. Maka ketika tamat SMU, dia pun mengambil jurusan desain di Sekolah Tinggi Desain Indonesia, Bandung. Sayang kuliahnya tak sampai tamat, karena menikah. Namun demikian, teknik dasar mendesain telah didapatnya. Dan itu menjadi bekal baginya dalam mengembangkan usaha di bidang bordir. "Untuk memperdalam, saya juga belajar secara otodidak dari buku-buku juga majalah. Kunci dari desain adalah jeli mengamati perkembangan trend yang ada saat ini. Itu yang saya lakukan," tambah Eris yang memulai usahanya tahun 2002 lalu.

Sayangnya, belakangan, seiring dengan perkembangan perekonomian yang melesu, usahanya agak drop. Permintaan menurun bahkan mencapai 50 persen.

Padahal biasanya, kata Eris, permintaan baju muslim, dan perlengkapan sembahyang yang dibordir, lumayan bagus. Beruntung menjelang Ramadhan dan Lebaran ini, permintaan kembali naik. Tapi dia sadar bahwa hal ini hanya semusim saja, karena memang sebenarnya perekonomian belum bagus. Meski secara makro dikatakan pemerintah perekonomian sudah membaik, tapi nyatanya ditingkat real tidaklah demikian. Daya beli masyarakat masih tetap turun. Bulan Ramadhan memang memiliki kekhususan sendiri di mana tingkat konsumsi masyarakat naik lebih dari biasanya, termasuk dalam pembelian perlengkapan Lebaran.

"Saat ini memang mulai naik lagi (penjualan baju muslim dan perlengkapan sembahyang), tapi itu karena menjelang Ramadhan dan Lebaran. Tren seperti ini memang sudah biasa dari tahun ke tahun. Permintaan yang naik hanya pada masa itu saja, " ungkap Eris dan Titin yang mempunyai toko di pusat perbelanjaan Tanah Abang Jakarta untuk menampung barang-barang yang diproduksinya.

Menyiasati Kelesuan

Meski begitu, paparnya, untuk menyiasati kelesuan bisnis pokok, kedua saudara ini membuat terobosan usaha yakni mengembangkan kerajinan dari lidi. Bagi keduanya ini tak sulit, karena sebelumnya keluarga Titin pun menekuni usaha tersebut. Dan Titin pun yang sejak kecil membantu orangtua memproduksi kerajinan jenis ini sehingga dia cukup piawai dalam memproduksi. Terlebih lagi Eris yang memiliki latar belakang desain ikut bergabung sehingga jadilah produk yang dihasilkan tampil berbeda. Produknya macam-macam, perlengkapan rumah tangga, box, hingga pigura untuk foto. Juga tas wanita.

Ternyata respon pasar atas kerajinan ini cukup luar biasa, bahkan sudah ekspor ke manca Negara. "Mereka (buyer mancanegara) ternyata suka sesuatu yang bersifat alami. Usaha ini justru berkembang bagus. Jadi untuk sementara, usaha difokuskan pada produk baru itu," tambah Titin. Beberapa buyer yang telah mengambil produk mereka adalah dari Singapura, Dubai dan Malaysia. Selain ke manca Negara, kerajinan lidi ini juga dipasok ke sejumlah daerah wisata seperti Yogyakarta, Solo dan Bandung.

Untuk pengadaan material, Eris dan Titin, tidak menemukan hambatan karena sudah mendapat pasokan bahan mentah dari pedagang khusus bahan mentah lidi. Selanjutnya, bahan mentah tersebut diolah lagi untuk mendapatkan bahan sesuai standard dan kebutuhan. "Kalau sedang banyak pesanan, biasanya kami melibatkan banyak perajinan di kampung sekitar.

Bahan dari kami, begitu juga desain, mereka yang mengerjakan. Sedang saya hanya melakukan pengecekan, kalau perlu juga melakukan finishing. Tapi sejalan dengan perkembangan usaha ini, kami juga sudah melatih pekerja-pekerja tertentu yang bisa membantu melakukan finishing. Sebab, kan, tidak mungkin saya menghandle sendiri kalau pesanan terlalu banyak," tambah Titin.

Wadah-wadah cantik yang terbuat dari bambu untuk aneka perlengkapan rumah tangga masih tetap bertahan hingga kini. Bahan dari bambu  apus  kemudian dibelah kecil-kecil menyerupai lidi dari daun kelapa lalu dianyam membentuk pelbagai barang perlengkapan meja makan, seperti tutup nasi dan lauk pauk, tempat tisu, wadah kue, tempat buah. Kerajinan lidi bambu ini juga bisa dibuat kopiah, topi lebar, tempat pensil,  kap lampu meja, dan lain-lain.

Kerajinan lidi bambu yang dihias pula dengan lidi aren, merupakan kerajinan  khas daerah Lampung. Perajin lidi bambu dan lidi aren yang tetap eksis hingga sekarang adalah  Prayitno, lelaki paruh baya yang menekuni kerajinan ini sejak tahun 1989. Dengan nama usaha Sanggar Sumber Rejeki, Pak Yitno, demikian sapaannya, mengaku usahanya ini banyak dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya Desa Giri Klopo Mulyo, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung.

Semua bahan  yakni  bambu yang sudah dibentuk menjadi lidi serta  lidi aren, dan belahan papan kayu  yang sudah dipotong sesuai kebutuhan, dibawa oleh pekerja  ke rumah masing-masing yang kebanyakan ibu-ibu. Yang menentukan desain atau model adalah Pak Yitno, lalu para pekerja tinggal merakit atau menganyamnya.

“Semua mereka kerjakan di rumah masing-masing karena  membuat kerajinan seperti ini merupakan sambilan bagi mereka, “ papar Pak Yitno. Karena sebagai sambilan maka Ibu-ibu yang  biasa mengerjakan rajutan ini, sehari hanya bisa merampungkan tempat buah atau wadah makanan lain dua buah.

Ongkos per satu tempat buah Rp 6 ribu. Untuk jenis model lainnya yang lebih rumit, tentu ongkosnya beda karena harga jualnya pun beda. Tutup nasi yang cukup besar seharga Rp 300.000, lampu meja  yang artistik seharga Rp 250.000, tempat tisu yang berbentuk persegi panjang Rp 50 ribu, dan yang kecil berbentuk kipas hanya Rp 20 ribu.

Jumlah tenaga kerja  tidak tetap yang biasa dilakukan ibu-ibu sebanyak 10 orang, sedangkan  karyawan tetap di bagian finishing dan lainnya 6 orang. Finishing agak rumit karena setelah barang kerajinan itu sudah berbentuk, baik tempat tisu, tempat pensil dan lainnya ditaruh  pada tempat yang cukup luas untuk diasap di atas daun jerami.

“Supaya muncul warna seperti ini, “ Pak Yitno menerangkan. Warna yang dimaksud adalah kuning kecoklatan atau bergradasi antara warna kuning, coklat, dan hitam. “jadi ini warna alami, “ tambah Pak Yitno pula.

Kendala Pemasaran

Semua bahan yang diperlukan untuk produksi selama ini tak ada kendala. Bambu apus, lidi aren, serta jerami, tak sulit diperoleh di daerah Lampung. Hanya pemasaran yang masih terbatas di wilayah Lampung. Di propinsi bagian selatan Pulau Sumatera ini, wadah-wadah perlengkapan rumah dari lidi bambu dan lidi aren sudah memasyarakat. Di rumah-rumah, bahkan dalam suatu jamuan resmi perlengkapan meja makan dari lidi bambu ini biasa digunakan. Bahkan dalam suatu pesta pernikahan, miniatur dari perlengkapan rumah tangga dari lidi bambu ini kerap dijadika souvenir bagi para tamu.

Yang  menjadi  pemikiran  Pak Yitno adalah bagaimana bisa memasarkan kerajinan ini secara lebih luas. Memang, dari pelbagai daerah, di luar Lampung, seperti Bali, Surabaya. Bandung pernah memesan wadah-wadah tersebut, tapi jumlahnya hanya ratusan biji, sesuai rata-rata produsksinya yang sebulan sekitar 350  biji..

Dari luar negeri pernah ada pesanan 3 ribu biji untuk beragam bentuk, tapi harga yang diminta masih dinilai rendah oleh Pak Yitno Ongkos produksi sudah  tak bisa ditekan lagi karena  proses pembuatan memang tidak simpel. Itu pun sudah dibuat sederhana karena pekerja cukup mengerjakan rajutan di rumah masing-masing.

Wadah-wadah berbahan lidi bambu dan lidi aren ini sekilas tampak sulit perawatannya. Namun, kata Pak Yitno, sebenarnya gampang saja. Cara membersihkannya cukup dilap dan hindari mencucinya dengan air.

"Saya punya wadah buah sejak saya bisa membuat anyaman ini  masih bagus sampai sekarang, " kata Pak Yitno.

Diakuinya, kreasi model  rajutan  atau anyaman lidi bambu dan lidi aren tak banyak mengalami perubahan. Tapi Pak Yitno yang pernah ikut pameran di Bali, Surabaya, Lumajang, dan Jakarta ini sedang mempersiapkan kreasi baru dari bahan eceng gondok

Apa yang membuatnya bertahan dengan usaha lidi bambu dan lidi aren ini meski hasil bersih per bulan rata-rata Rp 5 juta?

Menurut Pak Yitnya, selain barang tersebut masih menjadi kebutuhan masyarakat di daerahnya, kerajinan ini sudah memasuki beberapa supermarket. Tapi bukan yang besar (hipermarket). Karena itu Pak Yitno sering mendapat pesanan-pesanan khusus, lebih-lebih lewat pameran yang bisa dipastikan selalu  terjadi transaksi. Apalagi pameran berskala nasional seperti  yang diadakan Smesco di Jakarta pertengahan Oktober 2009. (fn/lp/m2b)