12 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 18 Oktober 2021

basmalah.png

Kerajinan Pelepah Pisang Melanglang Hingga Ke Luar Negeri

http://2.bp.blogspot.com/_G-shv5KL7C8/SRUS24w_Q1I/AAAAAAAAAB8/8r4AfsqAsog/s320/IMG0224A.jpg

JAKARTA (SuaraMedia News) - Menjadi ibu rumahtangga bukan berarti hanya terbenam dengan urusan rumah dan keluarga, tapi bisa juga mengembangkan diri dengan berbagai kegiatan bermanfaat. Kuncinya hanya, pandai-pandai membagi waktu. Seperti yang dilakukan oleh istri Prof Dr Soebandiri SpPD KHOM, Ny Tien Soepartini yang pada awalnya mengisi waktu luangnya dengan menekuni hobi di bidang kerajinan dan ketrampilan, namun akhirnya malah terjun ke bisnis.

"Pada awalnya, tidak ada niat sama sekali untuk terjun ke bisnis. Saya hanya melakukan hobi mengisi waktu luang. Berbagai kursus ketrampilan saya ikuti, kemudian menekuninya di rumah, setelah urusan rumah tangga selesai. Saya tak sangka kalau akhirnya berkembang seperti ini," papar Tien Soepartini saat dijumpai di sebuah pameran kerajinan di Jakarta.

Mantan Ketua Asosiasi Membuat Bunga Kering dan Bunga-bunga Buatan (Aspringta) Jawa Timur ini bertutur, ketika menikah suami menghendakinya tidak bekerja di luar rumah. "Nanti anak-anak tidak ada yang mengurus. Saya sendiri merasa, kalau suami sudah sibuk, sebaiknya saya sebagai istri menjaga anak-anak dan mengurus rumah tangga saja," tuturnya.

Namun begitu, ia pun mengisi waktu luang, dengan mengambil sejumlah kursus ketrampilan, mulai dari merias pengantin, dekorasi hingga merangkai bunga segar (floris) maupun bunga kering. "Meski saya ikut aneka kursus, bukan berarti saya menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Saya kursus hanya satu dua jam, kemudian menekuninya di rumah," tambahnya. Setelah lulus, Tien mulai disibukkan dengan panggilan-panggilan merias pengantin.

Gara-gara itu, anak-anaknya protes. Dengan penuh kesadaran dia pun berhenti sebagai perias pengantin, dan lebih memusatkan kegiatan di dalam rumah. "Paling saya hanya menjadi tenaga penguji kalau ada ujian pengambilan sertifikat perias pengantin, tapi itu kan tidak lama, hanya beberapa jam saja," tambah ibu empat orang anak ini.

Di rumah, karena memang hobi, dia pun mulai belajar buinga kering. Tak jarang kreasinya dia hadiahkan kepada teman-teman dan saudara-saudaranya. Kreasi Tien mendapat pujian karena dinilai indah dan unik. Sejak itu satu persatu pesanan mulai datang. "Karena mengerjakannya di rumah, ya, saya terima saja. Tak terasa pesanan jadi semakin banyak, sehingga saya minta bantuan beberapa teman. Tapi sejauh itu, kegiatan tersebut masih saya lakukan sebatas hobi. Bukan berorintasi profit seperti bisnis pada umumnya. Hanya untuk kepuasan batin saja," paparnya.

Situasi mulai berubah ketika oleh teman-temannya dia dipilih menjadi Ketua Aspringta Jawa Timur periode 1996-2004. Sejak itu dia menjadi sangat sibuk, mulai memberi pelatihan-pelatihan, mengadakan event-event, dll. "Tapi ketika itu anak-anak sudah besar, sudah kuliah, jadi tidak masalah," ujarnya. Sejumlah kegiatan kursus pun diselenggarakan di rumah, antara lain kursus bunga kering, merangkai bunga segar, painting, dll. Pesertanya cukup banyak, mulai yang sekadar hobi sampai yang ingin terjun ke bisnis.

Sebagai Ketua Asosiasi, dia juga diminta anggotanya membantu memasarkan hasil karya para peserta. Maka mulailah Tien mencari pasar bagi hasil kreasi anggotanya. Satu ruangan di rumahnya pun disulap menjadi ruang pamer, sehingga bila ada pembeli yang tertarik bisa langsung melihat produk. Usaha yang tak sengaja itu ternyata berkembang bagus.

"Akhirnya saya berpikir, kenapa tidak sekalian saja saya terjun secara total dalam bisnis kerajinan ini. Jadi bukan sekadar memasarkan produk hasil karya orang lain, tapi juga memproduksi sendiri," ujar istri Prof Dr Soebandiri yang juga salah satu pendiri Yayasan Kanker Surabaya.

Dengan beberapa teman, mereka pun mendirikan perusahaan. "Saya memilih teman-teman yang seide dan sejalan sehingga bisa enak kerja samanya," katanya lagi. Maka berdirilah TIEN Handicraft yang merupakan singkatan dari namanya sendiri Tien, Ida, Etik dan Nani. Selain itu, kata Tien, masih ada beberapa lagi, namun pendiri dari TIEN Handicraft adalah empat orang termasuk dirinya.

Untuk memproduksi aneka kreasi ketrampilan, dia melibatkan banyak orang, mulai dari famili sampai para pensiunan. Namun paling banyak adalah para pensiuan, yang bukan saja wanita tapi juga laki-laki. Material kerajinan TIEN Handicraft, semuanya berasal; dari dalam negeri, dan umumnya diambil dari alam. Seperti misalnya, boneka dari pelepah pisang.

Ini salah satu produk unggulan TIEN Handicraft yang sangat diminati oleh buyer asing. "Pernah kami mendapat pesanan sampai ribuan, maka, kami pun mengerahkan segala daya untuk mengerjakannya," paparnya. Bukan itu saja, dia juga membuat kolase dari biji-bijian yang hasilnya sangat menarik. Kreasi lainnya, adalah kertas semen, disulap menjadi bunga-bunga kertas yang indah.

Orang pasti tidak menyangka kalau bahan dasarnya adalah kertas semen yang biasanya hanya dibuang saja. Meskipun sudah banyak peminat dari luar negeri yang membeli produknya, namun kata Tien, sesungguhnya obsesinya bukanlah ekspor, melain ingin agar produk-produk unggulannya bisa masuk ke semua gallery di seluruh propinsi di Indonesia.

Sejauh ini, kata Tien lagi, usahanya berjalan bagus. Dari segi keuntungan pun lumayan sehingga semua yang terlibat dalam TIEN Handicraft sangat bersemangat untuk terus mengembangkan usaha tersebut.

"Saya senang ini bisa berjalan baik. Sebab yang penting bagi saya, bukan keuntungannya saja, tapi bagaimana agar bisa membantu memberdayakan orang lain. Seperti misalnya ibu-ibu tua atau para pensiunan yang tentunya sangat membutuhkan kegiatan ini. Mereka itu justru rajin dan telaten-telaten, lho. Selain itu, lewat kegiatan ini saya bisa juga membina anak-anak di sekitar. Mereka masih sekolah, tapi mengisi waktu luangnya dengan mengerjakan ketrampilan di tempat saya, itu bisa jadi bekal mereka kelak," ungkap wanita kelahiran 14 Maret 1945 ini.

Ny Tien sendiri merasa apa yang dikerjakannya itu menyenangkan baginya, sekalipun kalau dari segi keuntungan materi yang didapat boleh disebut tidak terlalu besar. "Ini hobi saya, maka saya enjoy saja melakukannya," kata nenek dua cucu ini. Sekarang, ungkap Ny Tien, dia tidak lagi terlibat banyak di bagian produksi, karena konsentrasi pada pemasaran. Namun untuk produk-produk tertentu, ia masih turun tangan untuk finishing dan desain.

Pelepah pisang bisa dijadikan bahan dasar kerajinan. Biasanya bagian pohon pisang yang dimanfaatkan adalah daun dan buahnya.

Seperti yang dilakukan Tukimin, warga Dusun Tanggulangin, Tanjungharjo Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Pelepah dipilin seperti tali tambang dengan panjang sampai beberapa meter. Setelah itu pelepah bisa dibuat tatakan piring hingga keset.

Kerajinan ini ternyata diminati pasar luar negeri yang senang dengan kerajinan ramah lingkungan. Saat ini Tukimin membuat minimal 2.500 buah kerajinan per bulan untuk dikirim ke Spanyol. Pasar lain yang juga melirik produk Tukimin adalah Hongkong dan Amerika Serikat.

Tukimin bekerjasama dengan pihak ketiga untuk memasarkan kerajinannya. Harga kerajinan produk Tukimin dijual mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 100 ribu per buah. (fn/mb/Clik Video Dari Kantor Berita Liputa 6 )