fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Tamatan SMA Mampu Jadi "Sopir" Ribuan Pegawai

http://profile.ak.fbcdn.net/object3/508/80/n74889054306_6355.jpg

SOLO (SuaraMedia News) - Danarsih Santoso adalah sosok kartini modern. Dengan ketekunannya, Danarsih berhasil menjadi sopir dari 10.000 pegawai yang berada pada induk PT Danarhadi Santoso. Awalnya istri dari Santoso Doelllah ini, tidak membayangkan akan menjadi saudagar batik yang sukses dengan puluhan ribu pegawai. Bahkan memiliki pabrik pengolahan batik dari hulu hingga hilir.

Perusahaan yang kini telah memiliki 20 gerai yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia, berawal dari kecintaan dan keuletannya menggeluti batik.

"Danarhadi berdiri tahun 1967. Saya bersama dengan setia dan penuh cinta menekuni batik. Meski kami berada pada kondisi di ‘bawah’, tapi saya yakin ini jalan hidup saya. Saya begitu mencintai batik," cerita Danarsih, di Solo, Rabu, 21 April 2010.


Kondisi yang jatuh bangun pun dilewati oleh Danarsih. Meski demikian keteguhan hatinya tetap tak tergoyahkan. Kednati tak memiliki latar belakang pendidikan di dunia bisnis atau seni batik, Danarsih memiliki keyakinan bisa menjadi 'orang' dengan menekuni bisnis batik.


Danarsih sendiri sebenarnya tumbuh dari keluarga pedagang batik. Tapi kecil-kecilan. Dari situlah ia belajar bagaimana membesarkan usaha batik dengan caranya sendiri.

Meski hanya memiliki ijazah SMA 1 Marhoyudan, salah satu SMA favorit di Solo, karena kecerdasan dan kepintarannya mengolah usaha, ia berhasil menghidupi banyak orang dari usaha batik.

"Sebenarnya, saya pernah kuliah di Jurusan Teknik Kimia UGM. Tapi sayangnya, saya tidak lulus. Karena pada tahun 1965 waktu ada Gestapu saya diminta oleh ibu untuk pulang ke Solo. Kemudian saya kuliah di Jurusan Hukum di Saraswati, juga tidak lulus. Akhirnya pada tahun 1967, saya menikah, dan berhenti kuliah," tuturnya.

Saat itulah, dia bersama suaminya merintis usaha batik dengan mengembangkan berbagai kreasi. Era perintisannya dimulai dari pembuatan Batik tulis Wonogiren. Dengan prinsipnya bekerja keras dan mencintai pekerjaan, ia pun berhasil membuka toko.


Usahanya mulai maju. Ia pun membuka toko di Jakarta pada tahun 1975 yang bekerja sama dengan Fashion Consultant antara lain Harry Darsono dan Prayudi. Selanjutnya gerai-gerai ia buka di Bandung, Medan, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang.


Bahkan, dengan tangan dinginnya, Danarsih berhasil mengembangkan usaha ke arah hulu pada tahun 1981 dengan mendirikan usaha pertenunan dan finishing continous.


Perluasan ke arah hulu kemudian dilengkapi dengan usaha industri pemintalan benang PT Kusuma Putra Santosa tahun 1988. Sedangkan perluasan, usaha ke arah hilir dilakukan dengan membuka usaha garmen PT Kusuma Putri tahun 1989.


"Usaha perluasan industri ini sebenarnya atas dorongan dari Aburizal Bakrie yang saat itu menjabat sebagai HIPMI," tuturnya.


Meski terbilang sukses, dengan branding batik Danarhadi, bukan berarti perempuan yang gemar jogging ini kemudian lupa mengurus keluarga. Buktinya, putra-putrinya pun berhasil menjadi orang sukses.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah merenovasi bangunan-bangunan kuno, diantaranya Kampung Batik Kauman di Pasar Kliwon, Solo.

"Bangunan-bangunan tersebut akan direnovasi dalam kerangka mewujudkan 'Solo Masa Depan adalah Solo Tempo Dulu'," kata Kepala Dinas Tata Ruang Kota Solo, Agus Djoko Witiarso dalam keterangan persnya. (fn/v2v)