19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

2 Kunci Sukses Mendirikan UKM

http://www.suaramedia.com/images/stories/1berita/2_1_ekonomi/kerjasama.jpg

Hasil riset HC-Tuner Indonesia menunjukkan, 50% pemilik usaha kecil dan menengah (UKM) menyatakan bahwa sikap dan mental karyawan merupakan tantangan terbesar yang mereka hadapi dalam mengelola karyawan. Tantangan lainnya adalah komunikasi. Bagaimana gambarannya?. Beberapa bulan lalu Agus Ali membeli sebuah bengkel yang bangkrut, lalu ia benahi dan perbaiki manajemennya.

Ternyata bengkel ini utangnya banyak, demikian pula dengan pengeluarannya. Di sisi lain, pendapatan perusahaan sedikit dan karyawan sering pinjam uang. ”Karyawan dikitdikit pinjam duit. Jadi, saya bikin aturan baru, yaitu tidak ada kasbon,” ujar Agus tegas.

Selama menjalankan usaha ini, Agus mengaku sudah ada empat karyawan yang ia rumahkan karena attitudenya buruk. Sebenarnya dia tidak tega memecat karyawan. ”Tetapi terpaksa saya lakukan karena saya lihat perannya di bengkel bisa dikatakan tidak ada,” ujarnya menandaskan. Di samping mengontrol keuangan bengkel sehingga menjadi lebih baik, Agus juga mencoba membenahi budaya kerja yang sudah terlanjur tidak bagus. ”Hari ini saya bisa mengatakan bahwa pendapatan bengkel sudah bagus. Omzetnya juga naik,” ungkapnya sumringah. Berdasarkan pengalaman itu, Agus menyadari pentingnya mengelola sumber daya manusia (SDM) dengan baik dan tepat.


Penulis mengamati, kebanyakan usaha kecil dan menengah (UKM) menerapkan manajemen kekeluargaan dalam menangani usahanya. Sulitnya, pengelolaan seperti ini seringkali menimbulkan rasa ”ewuh pakewuh” manakala pemilik menemukan kesalahan pada diri karyawan. ”Di satu sisi kita harus berbicara pakai hati. Di sisi lain peraturan juga harus ditegakkan. Kadang saya merasa dilema. Kalau di-PHK kasihan. Apalagi jika sudah berkeluarga, rasanya tidak tega. Tapi membiarkan karyawan bermasalah juga tidak baik buat perusahaan,” tutur pengusaha yang juga anggota komunitas Tangan Di Atas (TDA) ini mengungkap isi hatinya.

Ternyata, Agus tidak sendirian. Banyak pengusaha lain yang mengalami dilema seperti itu. Lyra Puspa, misalnya, pernah mengalami suasana tidak enak di perusahaannya sendiri. Setelah ditelusuri, ternyata masalahnya terletak di karyawan kunci. ”Memang sih, dia tidak bermasalah dengan kami (pemilik—red), tapi dengan karyawan lain. Kami mengetahui informasi ini karena memanggil satu per satu karyawan di kantor,” ungkap Lyra yang saat ini mengelola bisnis cuci dan salon motor Gw Guyur bersama suaminya, Sonny B. Sofjan. Tentu, Lyra dan Sonny tidak tinggal diam. Mereka mengatasinya dengan memberi training kepada karyawan bersangkutan sehingga tetap bisa survive di tempat lain.

Masalah SDM di UKM juga erat hubungannya dengan keuangan. Karena alasan kehabisan uang, karyawan sering meminjam uang perusahaan dengan cara kasbon dan membayarnya pada saat gajian. Menurut Agus, dengan sedikit ketegasan, yaitu membuat aturan yang melarang kasbon – kecuali untuk kebutuhan yang sangat penting – masalah tersebut dapat diatasi. Cerita Agus, Lyra dan Sonny, terungkap saat HC mengadakan focus group discussion (FGD) di kantor kami pada Kamis, 30 April lalu. Selain mereka, masih ada 9 pelaku UKM anggota TDA lain yang hadir berbagi pengalaman dengan HC mengenai pengelolaan SDM di UKM. Mereka adalah: Iim Rusyamsi (President dan pemilik Dokter Komputer. com), Mohamad Rosihan dan istrinya Ines Handayani (pemilik jaringan toko busana muslimah, Saqina), Hadi Kuntoro (pemilik usaha grosir selimut, Raja Selimut), Triyana Atmaja (pemilik distro Raxzel Creative), Fico Humam Maulana (pemilik Tantowi Yahya Public Speaking School), Yulia Astuti (pemilik Salon Muslimah MoZ5), dan Susi Tabita (psikolog).


Ide mengadakan FGD ini berawal dari keinginan HC yang ingin mengupas masalah SDM di UKM. boleh dikata, selama ini pembahasan tentang UKM melulu berkisar keuangan dan permodalan. Diskusi yang kami lakukan bisa disebut berbeda, karena tema yang kami angkat adalah SDM. Dan, memang benar, semua pelaku UKM yang kami undang sependapat bahwa menangani SDM tidak mudah. Bahkan, tak jarang mereka berhadapan dengan persoalan pelik karena perilaku karyawan.


Secara tidak sengaja penulis bertemu Sonny, yang merupakan anggota sekaligus pengurus TDA. Sonny kemudian membantu HC membuka jalan ke pengurus dan anggota TDA lainnya sehingga mereka tertarik untuk berbagi pengalaman di FGD ini. Rosihan, misalnya, mengakui bahwa sejak memilih usaha sendiri, ia tidak hanya belajar bisnis, tapi juga dituntut untuk mengerti aspek manajerial dan kepemimpinan. ”Di satu sisi saya harus mengembangkan bisnis dan di sisi lain saya dituntut untuk membangun SDM,” ujarnya serius. Sejalan dengan makin membesarnya usaha yang ditekuni, Rosihan merasa harus mempelajarinya secara bersamaan.


Sudah pasti, banyak cerita seru yang terungkap selama diskusi ini berlangsung. Kadang, gelak tawa tak dapat dihindarkan, diselingi guyonan ala pengusaha UKM. Umpamanya, kami tak dapat menahan tawa saat mendengar penuturan Agus dalam upayanya mengambil hati karyawan. ”Habis saya marahin, karyawan saya ajak makan.” Kontan saja tawa peserta meledak.


Sebuah FGD tentu kurang lengkap bila tidak dilanjutkan dengan riset kuantitatif. Sehubungan dengan itu, HC menggandeng Tuner Indonesia, perusahaan riset independen, untuk membantu menyusun panduan FGD sekaligus berkontribusi dalam menjalankan riset kuantitatif secara online. Untuk mengetahui lebih detil bagaimana riset kuantitatif ini dilakukan, silakan membaca tulisan ”Cara Memotret Pengelolaan SDM pada UKM”.


Bagaimana hasilnya?


Secara demografi, responden yang mengikuti riset ini terdiri dari 64% pengusaha pria dan 36% pengusaha wanita. Berdasarkan usia, responden dikelompokkan sebagai berikut: di bawah 25 tahun (9%), 25-30 tahun (24%), 30-35 tahun (32%), 35-40 tahun (22%), dan di atas 40 tahun (13%). Ini menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku UKM yang mengikuti riset ini berusia di bawah 40 tahun.


Riset yang diikuti 57 pelaku UKM ini juga memberi gambaran bahwa 60% responden memiliki tingkat pendidikan sarjana (S1), 22% tamatan SMA, 9% pascasarjana (S2) dan D3 (9%). Kategori usahanya pun beragam. Mulai dari aksesoris, furnitur, TI, garmen, pertanian, jasa, makanan, kerajinan tangan, sepatu dan tas kulit, dan lainlain. Sementara itu, dilihat dari jumlah karyawan, 63% responden mengaku memiliki karyawan kurang dari 10 orang, 30% memiliki karyawan berkisar 10-30 orang, dan hanya 7% yang jumlah karyawannya lebih dari 30 orang.


Secara umum, lamanya usaha yang dijalankan responden bervariasi, mulai kurang dari setahun (14%), 1-2 tahun (21%), 2-3 tahun (13%), 3-4 tahun (11%), 4-5 tahun (21%), dan lebih dari 5 tahun (21%). Yang menarik, sebelum menjadi pelaku UKM, 74% dari responden menyatakan pernah bekerja sebagai karyawan swasta, 15% pelajar/mahasiswa, 2% pegawai BUMN, dan 9% mengaku sejak awal sudah berwirausaha.


Motivasi responden terjun berwiraswasta pun macam-macam, yaitu: karena masalah keuangan (32%), menginginkan kepuasan (21%), mencari tantangan (21%), ingin dekat dengan keluarga (16%), dan alasan lain-lain seperti hobi, melestarikan seni dan budaya (10%). Ketika ditanya sifat dan sikap apa yang harus ada dalam diri pemimpin UKM, 29% responden menjawab jiwa entrepreneurship, jujur (19%), visioner (19%), pembelajar (16%), terbuka (13), serta 5% menjawab lainlain seperti tekun, sabar, dan religius.

portalhr.com/suaramedia.com