14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Sedikit Orang yang Paham Resiko Sistemik

http://www.detikfinance.com/images/content/2010/03/02/5/cent-dalam.jpg

Jakarta - Terus berlarutnya persoalan kasus bailout Bank Century makin menimbulkan ketidakpastian bagi para investor khususnya investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. Pemerintah pun harus bersusah payah menjelaskan kondisi tersebut kepada investor asing. Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan, perkembangan polemik kasus Century ini menjadi faktor risiko yang diperhitungkan investor asing.

"Mereka (investor asing) hanya memprihatikan soal 'domestic politics' yang sudah dianggap sebagai risk factor (faktor risiko) yang harus diperhitungkan untuk berinvestasi di Indonesia," tutur Rahmat kepada detikFinance, Selasa (2/3/2010).

Rahmat mengatakan, persoalan bailout atau penyelamatan industri perbankan sebenarnya dilakukan oleh banyak negara pada saat terjadinya krisis, guna menjaga kepercayaan publik terhadap industri perbankan.

"Saya hanya mengatakan kepada mereka (investor asing), bahwa sedikit orang Indonesia yang paham soal 'systemic risk' (risiko sistemik) dan bahkan ada tokoh yang mengatakan krisis hanya terjadi di Amerika Serikat," katanya.


Di luar kasus Century, lanjut Rahmat, para investor asing khususnya investor Surat Berharga Negara (SBN) sebenarnya melihat fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat dan kebijakan pengelolaan keuangan khususnya fiskal dan utang cukup prudent dan kredibel.


"Mereka memberikan apresiasi kepada kinerja otoritas fiskal dan moneter yang tidak hanya berhasil membawa Indonesia melewati krisis, tapi juga menempatkan Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang pertumbuhannya ekonominya positif selama krisis," papar Rahmat.


Selain investor asing, Rahmat mengakui lembaga-lembaga pemeringkat atau rating internasional juga melihat kasus Century sebagai faktor risiko berinvestasi di Indonesia.
(dnl/qom)

Detikfinance.com| Wahyu Daniel