15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Distro, Tidak Takut Dengan FTA

Puluhan pembeli berjubel memenuhi toko berukuran sekitar 4 x 15 meter. Di luar, di depan pintu masuk, belasan calon pembeli antre dengan wajah cemas. Mereka khawatir kehabisan stok clothing yang akan dibeli. Itulah pemandangan utama yang terlihat di Distro Ouval Research, Jalan Sultan Agung, Bandung, Sabtu (2/1/2010).

Saking banyaknya calon pembeli, sementara kapasitas ruangan kurang memadai, satpam setempat terpaksa melakukan buka tutup .

Selama sebulan terakhir ini, Ouval yang memiliki tujuh cabang (toko) dan ratusan distributor di seluruh Indonesia ini tengah mengadakan pesta diskon hingga 70 persen. Tidak ayal, para penggemar fanatik produk mereka maupun wisatawan dari Jakarta berbondong-bondong menyerbu toko.


Kondisi tidak jauh berbeda telihat di distro-distro lainnya yang berada di kawasan Jalan Trunojoyo dan Sultan Agung. Di akhir pekan atau liburan panjang, distro hampir selalu penuh sesak pembeli. Menandakan distro telah tumbuh, menjadi tuan rumah di negeri sendiri.


Ketika mayoritas industri garmen di tanah air tengah meradang dilanda kecemasan menyusul pemberlakuan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) ASEAN-China mulai 2010 ini, mereka yang menggantungkan hidupnya pada usaha distro sama sekali tidak khawatir.


"Soalnya, dengan modal ciri khas dan kualitas, produk kami memiliki pasar tersendiri yang loyal. Buktinya, akhir pekan kemarin toko kami ramai dikunjungi," tutur M. Rizki Yanuar (32), pengusaha distro dan salah satu pendiri Ouval Research. Bahkan, ia percaya, FTA justru memberi hal yang positif, yaitu menurunkan harga bahan baku.

Menurutnya, ciri khas produk dan loyalitas konsumen terbangun berkat dua kunci, yaitu inovasi dan kreativitas. Setiap tahun, puluhan desain baru t-shirt, kemeja, celana, tas, dan aksesoris lainnya diciptakan. Semangat inovasi dan kreatif inilah yang melahirkan nama Research di logo produk mereka.

Setiap desain dibatasi hanya diproduksi maksimal 200 buah demi menciptakan kesan eksklusif. Tidak pasaran seperti produk-produk massal lain, terutama dari China.


Rizki pun merasa bangga, produk-produk yang dibuatnya kini tidak hanya menjadi raja di negeri sendiri. Bahkan, sudah merambah ke negara-negara lain. Misalnya, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Jerman.


"Syukurlah, kita sekarang bisa merubah mindseat anak-anak muda sekarang. Tidak seperti di zaman saya dulu yang gandrung dengan produk impor, branded, kini mereka bangga memakai produk dalam negeri," tutur alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini.


Kebangkitan sektor riil


Ketua KICK (Kreative Independent Clothing Kommunity) Tubagus Fiki Satari (33) menuturkan, fenomena pesatnya industri clothing di Bandung adalah contoh dari kebangkitan sektor riil dan usaha kecil menengah.


"Bisnis clothing umumnya tidak dikuasai pemodal besar. Beda dengan FO ( factory outlet ) yang perlu modal besar. Di usaha distro, semangatnya adalah kolaborasi lintas sektor. Mulai dari desain, produksi, dan distribusi bisa dikerjakan beda orang," tutur pendiri Distro Airplane System ini.


Di Indonesia, saat ini terdapat sekitar 1.000 distro, dimana separuh diantaranya ada di Bandung. Industri ini pun menghidupi belasan ribu tenaga kerja. Tidaklah heran jika distro dan clothing sungguh menjadi ikon industri kreatif yang patut dibanggakan warga Bandung!(kompas.com/
www.suaramedia.com)