pustaka.png
basmalah.png.orig


3 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 13 Juni 2021

Bisnis Pupuk Organik, Peluang Prospektif Ramah Lingkungan

http://4.bp.blogspot.com/_KQ0sW8ZG8_I/SJRObaE04yI/AAAAAAAADmg/ElnZqF3b99o/s400/14.Pupuk+Organik.jpgTingginya kebutuhan pupuk serta kenaikan harga eceran tertinggi pupuk kimia menjadi peluang bagi pupuk organik sebagai pupuk alternatif. Di Bantul, produsen pupuk organik semakin bertambah banyak karena permintaan pasar yang cenderung naik.

Suyoto, Ketua Kelompok Ngudi Mandiri, salah satu produsen pupuk organik, Senin (20/12/2010) kemarin mengatakan proses produksi pupuk organik butuh waktu 1-3 bulan. Tiap bulan produksinya mencapai 50 ton. Bahan bakunya berupa kotoran ternak dibeli seharga Rp 600.000 per truk.

"Kami yakin permintaan pupuk organik akan terus naik seiring dengan kesadaran petani. Di samping itu naiknya harga eceran tertinggi atau HET akan menjadi pertimbangan petani untuk menggunakan pupuk kimia," katanya.

Kelompok Ngudi Mandiri mulai memproduksi pupuk tahun 2007 setelah mendapatkan pelatihan dari mahasiswa pertanian Universitas Gadjah Mada. Pada awalnya, bahan baku pupuk menggunakan sampah dari pasar Bantul. Produksinya juga masih dalam skala kecil yaitu 50 kg sampai 400 kg.

Mulanya pupuk yang dihasilkan belum dikomersilkan, tetapi diberikan secara gratis kepada petani. Langkah tersebut dimaksudkan sebagai promosi untuk mengenalkan produk mereka kepada petani dan sekaligus uji kualitas pupuk yang dihasilkan.

Salah satu peluang usaha yang akan mendapat pasar dalam beberapa ke depan adalah pupuk organik. Hal ini karena kondisi tanah semakin menurun dan rendah kandungan bahan organik (BO) dalam tanah sehingga menurunkan kesuburan tanah dan pada akhirnya akan menurunkan produksi. Di sisi lain makin mahal dan langkanya harga pupuk dan pestisida, sehingga banyak petani yang mengeluh dan gundah dengan kondisi demikian.

Banyak cara telah diupayakan sehingga banyak pupuk organik dan pestisida organik. Guna menekan keperluan pupuk dan pestisida dan menggunakan bahan lokal yang banyak tersedia di sekitar kita, salah satu contohnya adalah menggunakan limbah cair tahu.

Limbah tahu dapat dipakai sebagai pupuk dan pestisida bahkan fungisida organik dengan bantuan tambahan dari bahan yang lain, antara lain menggunakan bahan empon-empon atau tanaman herba melalui proses fermentasi, sehingga bahan aktif dapat terurai dengan sempurna, sedangkan limbah cair tahu banyak mengandung sisa protein dan asam cuka sehingga mampu mendukung efektifitas fermentasi.

Adapun teknik pembuatannya sebagai berikut :
Bahan yang digunakan: air limbah tahu 70 liter, air kelapa 30 liter, alkohol 70% 1 liter, temulawak 4 kg, sereh 1 kg, dekomposer (EM) 2 liter.

Cara pembuatannya: Cuci bersih semua tanaman herba lalu lakukan penghancuran dengan pemblenderan atau penggilingan, masukkan dalam air limbah tahu yang sudah dimasukkan dalam drum plastik ukuran 100 liter kemudian tambahkan alkohol dan tambahkan kembali dekomposer (EM), kemudian ditutup dan disimpan selama 10 hari.

Bila larutan berbau menyengat pertanda bahwa pupuk dan pestisida organik jadi dan bila belum menyengat ada dua kemungkinan reaksi fermentasi belum sempurna atau tidak jadi. Sebagai catatan bahan tersebut di atas tidak menggunakan asam cuka karena limbah tahu sudah mengandung asam cuka (kecutan) dan untuk meningkatkan efektifitas pestisida dan fungisida organik bisa ditambahkan berbagai macam tanaman herba misal kunir, daun mindi, dll.

Cara penggunaan: 1 liter bahan dilarutkan dengan 10 liter air kemudian disemprotkan pada tanaman. Pupuk dan pestisida ini dapat digunakan untuk tanaman padi, jagung, kedelai, buah dan sayuran. Efektifitas telah terbuktikan bahwa tanaman padi yang terserang jamur Spedomonas dapat dikendalikan dengan cairan tersebut dan tanaman menjadi hijau subur. Produk ini telah diproduksi di Probolinggo oleh kelompok tani dan telah diedarkan kepada petani dengan harga Rp. 20. 000,-/liter.

Sebelumnya, Kementerian Koperasi dan UKM akan merintis usaha untuk memproduksi pupuk organik. "Produksi diupayakan koperasi, selain untuk mengembangkan usaha juga untuk memenuhi kebutuhan pasokan pupuk bagi petani, kata Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya "UMK, I Wayan Dipta, kemarin.

Menurut dia, sasaran akhir program ini adalah mewujudkan program koperasi agar bisa mengelola dan memproduksi pupuk organik yang semakin meningkat. "Program ini sudah kami jalankan di Bangli (Bali), Malang (Jatim) serta Bogor dan Cianjur (Jawa Barat). Meski sifatnya masih uji coba, akan tetapi sangat membantu," ungkapnya.

fn/km/jpmi/bv/suaramedia.com