fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Sulap Kulit Jeruk Bali Jadi Manisan Beromzet Menggiurkan

http://4.bp.blogspot.com/_UWnrkf-lAhc/TDuiPgKwmUI/AAAAAAAABho/ZYi0cr2GeaE/s320/2-stroberi.jpgSiapa yang tidak mengenal jeruk, buah yang identik dengan vitamin C. Jika selama ini memakan jeruk selalu isinya. Namun, di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. kulit jeruk ternyata juga dapat dijadikan makanan olahan yang tak kalah enak dengan isinya. Ya...kalua atau manisan kulit jeruk.

Makanan khas Ciwidey itu sudah dibuat turun temurun dan bisa menjadi buah tangan. Proses pembuatan kalua tidak terlalu sulit. Bahan utama yang diperlukan adalah jeruk yang mirip dengan jeruk Bali dan banyak tumbuh di Ciwidey. Jeruk kemudian dibelah, dibersihkan kulitnya, dan dibuang isinya.

Meski tak lazim, namun cabai, pare, ataupun kulit jeruk bisa dijadikan manisan, lho. Selain rasanya unik, harganya pun tergolong tinggi. Tantangannya, terdapat pada cara menyingkirkan rasa pedas, pahit atau asam dari bahan mentahnya. Tertarik mencoba?

Kalua & Sonco Yang Khas

Di Ciwidey, Jawa Barat, terdapat manisan unik bernama kalua dan sonco. Kedua produk ini mudah ditemui tak jauh dari terminal bus Ciwidey. Kalua yang rasanya manis itu terbuat dari kulit jeruk bali. Warnanya cokelat, putih, merah, dan hijau. Sementara sonco, bentuknya seperti agar-agar warna-warni yang dilumuri gula putih dengan rasa sedikit masam.

Salah satu pedagang kalua yang masih bertahan di Ciwidey adalah Ida (32). “Sejak 1970 Bapak saya sudah jualan kalua. Dulu, sih, penjual kalua tidak sebanyak sekarang, hanya 1-2 warung saja yang jualan. Sekarang, yang jualan kebanyakan pengusaha baru,” jelas Ida saat ditemui di warungnya di kawasan Suka Kasih, Ciwidey.

Manisan kalua sebenarnya tak selalu harus dibuat dari kulit jeruk bali, melainkan bisa memakai bahan kulit jeruk lainnya. Yang penting, jeruknya berukuran besar. “Jeruk yang kecil kulitnya lebih tebal, jadi agak lama mengolahnya. Kulit jeruk bali, kan, berkulit tipis, jadi lebih gampang diolah. Kalau bahan bakunya sedang banyak, per kilo harganya cuma Rp 300. Sebaliknya, kalau sedang susah bisa mencapai Rp 3.500.”

Tetap Lestari

Cara membuat kalua sangat mudah dan cepat. Minimal 3 jam prosesnya. Pertama, kulit jeruk dikupas hingga tinggal berwarna putih. Lalu dipotong-potong dan direndam dalam air kapur sirih semalaman. Setelah dicuci bersih, warnanya akan berubah agak kekuningan. Kemudian direbus sampai matang dan dicuci lagi sampai berwarna seperti jeruk. Lalu rebus bersama gula merah atau putih tanpa pakai air lagi. “Karena jeruknya sudah mengandung air, sehingga airnya akan keluar dengan sendirinya. Jangan lupa diaduk sampai gulanya lumer,” papar Ida.

Namun, asal tahu saja, kalua yang dibuat dengan gula merah, kurang tahan lama dan hanya bisa bertahan selama sebulan. Sementara kalua yang dibuat dengan gula putih akan tahan lebih lama, sekitar dua bulan. “Tapi kalua gula merah lebih disukai karena lebih enak, lembut, dan manis.

Ida menjual per kilo kalua seharga Rp 25 ribu. Diakui Ida, kalua buatannya akan laku dalam jumlah banyak ketika ada pesanan dari rumah makan di sekitar Ciwidey yang sedang kedatangan banyak tamu.

Karena kalua merupakan kudapan khas Ciwidey, kata Ida, keberadaannya harus tetap dipertahankan. Sehingga, bila ada pengusaha kalua yang bangkrut, biasanya usahanya itu akan dibeli si pemilik modal besar. “Tujuannya, ya, biar kalua tetap ada.”

Cabai Pun Renyah dan Manis

Rasa cabai tak selamanya harus pedas. Mau bukti? Kunyahlah manisan cabai merah asal Medan ini. Aromanya memang masih terasa bau cabai. Namun saat digigit, terasa renyah dan manis. Renyahnya manisan cabai ini lantaran teknik pembuatannya yang baik, sehingga tak menyebabkan gula menempel pada cabai dan tak menyebabkan lengket. Bentuk dan warnanya pun tetap menawan seperti cabai segar yang baru saja dipetik dari kebun.

Bila musim haji tiba, orang Medan biasanya menghidangkan manisan cabai sebagai suguhan untuk para tamu. Manisan cabai juga sering dipersembahkan para pemilik acara sebagai suvenir bagi para tamu. “Ibu-ibu pejabat yang mau mengawinkan anaknya akan minta saya merangkai manisan cabai jadi bentuk pohon. Jadi kalau tamu mau mencicipi, tinggal tarik saja. Satu pohon manisan cabai harganya Rp 400 ribu. Sementara saya jual per kilo, Rp 100 ribu,” jelas Kharimah (40) atau Ima pembuat manisan cabai di Medan sejak 2004.

Orang Melayu menyebut manisan dengan istilah kalua. Kalua (manisan) cabai ini makin sedap rasanya bila disimpan dulu beberapa saat dalam kulkas. Bahkan, kalua cabai bisa tahan hingga 2-3 tahun, bila diproses dengan baik.

Harga Tinggi

Untuk mendapatkan rasa yang pas di lidah, Ima mengaku harus melalui serangkaian percobaan terlebih dahulu hingga mendapatkan rasa yang benar-benar pas. Sedangkan untuk pemasarannya, awalnya Ima hanya mengikuti pameran, tapi kemudian dibantu Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), Sumut, sehingga usahanya bisa semakin berkembang pesat.

Setelah bergabung dengan Dekranasda, Ima merasa dagangannya makin dikenal dan dicari orang. ”Peminat manisan cabai ini masih kalangan high class karena harganya masih tergolong tinggi,“ terangnya. Namun, Ima berani membuat manisan cabai sekitar 10–100 Kg per hari, meski kadang belum tentu habis dalam sekejap. Apalagi bila menghadapi hari-hari besar keagamaan, ia meningkatkan jumlah produksinya.

Pembeli dari luar Kota Medan pun akan dilayani Ima. “Manisan cabai akan sampai di tangan bisa sudah mentransfer uangnya,” jelasnya.

Setelah itu, kulit jeruk dipotong dan direndam dalam air kapur sirih agar rasa pahitnya hilang. Proses perendaman berlangsung selama semalam. Setelah direndam, kalua dibersihkan dengan air dan direbus dengan air mendidih. Proses itu berulang dua kali. Selesai, kalua lalu dicampur dengan gula dan pewarna. Harga per kilogram kalua bervariasi, mulai dari Rp 26 ribu hingga Rp 30 ribu.

fn/tn/lp/ www.suaramedia.com

Klik video dari Kantor Berita Liputan 6