fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Menimang-nimang Laba Bisnis Pakaian Bayi

http://1.bp.blogspot.com/_kOnd4vuR6fc/TSf99rg7ogI/AAAAAAAAAB0/xyMJMhlubDc/s320/BAJU+1.jpg"Selama bayi terus lahir, selama itu pula pakaian dan aksesori bayi terus dibutuhkan," kata Aswan Nasser, pemilik toko perlengkapan bayi La Vindhy. Itulah yang mendasari Aswan untuk membuka konfeksi pakaian bayi.

Aswan melihat bisnis pakaian bayi tidak pernah sepi. Alasannya, pertumbuhan angka kelahiran yang tinggi di Indonesia membuka peluang bisnis ini. Setiap bayi yang lahir membutuhkan pakaian. Meskipun ada yang masih bisa menggunakan warisan saudaranya, saat ini lebih banyak orangtua yang memilih untuk membeli baju baru.

Selain itu, belum banyak produsen pakaian yang secara spesifik menghasilkan pakaian bayi. Selama ini, pakaian bayi hanya merupakan diferensiasi dari produk pakaian anak-anak sehingga pemain yang khusus memproduksi pakaian dan perlengkapan bayi relatif masih sedikit.

La Vindhy adalah merek perlengkapan dan pakaian bayi didirikan Aswan Nasser dan istrinya, Sri Gamawati di Bandung, Jawa Barat. Mereka mencoba fokus khusus memproduksi pakaian dan perlengkapan bayi mulai dari pakaian lengkap, gendongan, popok, bantal, guling, hingga jenis kebutuhan untuk perlengkapan bayi lainnya, termasuk sepatu, gurita, hingga kaus kaki. "Kami hanya fokus memproduksi kebutuhan bayi usia 0 hingga enam bulan," ujar Aswan.

Sri Gamawati mengklaim, ia memproduksi pakaian dan perlengkapan bayi dengan kualitas yang lebih baik dari produsen lain sehingga harganya pun berbeda. "Kami memilih segmen konsumen menengah atas dengan kualitas yang lebih baik," kata Sri.

Saat ini, distribusi produk-produk La Vindhy sudah mencapai Tasikmalaya, Cirebon, Solo, Semarang, dan Surabaya. Bahkan produk sepatu bayi La Vindhy sudah merambah Afrika Selatan.

Aswan menawarkan konsep kemitraan mulai tahun 2010. Hingga saat ini sudah empat mitra dari Bandung dan Jawa Barat yang bergabung.

Ia menawarkan kemitraan konfeksi dengan investasi awal Rp 43 juta. Mitra akan memperoleh dua unit mesin jahit, satu mesin potong kain, bahan baku awal, serta pelatihan dan pendampingan usaha. Mitra perlu ruangan sekitar 25 meter persegi (m²) untuk lokasi produksi berbagai pakaian bayi ini.

Dengan perkiraan penjualan 1.400 unit, mitra bakal mencetak pendapatan mitra sekitar Rp 33,6 juta per bulan. Setelah dikurangi ongkos produksi, mitra bisa balik modal sekitar delapan bulan.

Mitra bisa menjual produk-produk bayi ini langsung ke konsumen atau menjualnya ke La Vindhy pusat kalau mitra masih kesulitan memasarkan produknya. La Vindhy siap menampung produk-produk ini mengingat mereka masih kesulitan memenuhi permintaan. "Sekarang kami baru mampu melayani 25% permintaan," ujar Aswan.

Dari mitra yang ada, sekitar 40% dari produksi mereka dijual ke konsumen langsung dan sisanya diserahkan ke La Vindhy. Harga barang yang dijual ke La Vindhy lebih murah sekitar 15%-20% daripada penjualan ke konsumen.

Salah satu mitra La Vindhy di Garut, Amil mengaku mampu bersaing di tengah menjamurnya usaha konfeksi. "Karenanya kami selalu menjaga kualitas barang, misalnya untuk jahitan pakaiannya harus rapi," kata Amil. Ia pun telah memiliki pelanggan tetap.

Amir memilih tipe investasi Rp 25 juta dengan satu mesin jahit. Ia sudah menambah dua mesin lagi dari hasil usaha. Kini Amil meraih pendapatan Rp 30 juta per bulan. Meski pesanan tinggi, ia belum mampu memenuhi seluruh permintaan. "Saya terkendala kain. Karena sering telat jadi produksi sedikit terhambat," ungkap Amil. Kadang, ia perlu menunggu sepekan untuk mendapatkan kain.

La Vindhy

kontan.co.id