fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Hasilkan Ratusan Juta dari Batu Fosil

 

 

 

 

 

foto indonetwork.web.id

Khairul Huda, pria kelahiran Tanjungkarang, yang kini tinggal di Kabupaten Waykanan mengolah batu fosil dan menghasilkan ratusan juta rupiah. Suami Vera Liliana Adi ini berhasil menjadikan batu fosil yang semula dihargai rendah menjadi sesuatu dengan nilai jual tinggi.

"Ketika tidak ada yang serius mengelola potensi sumber daya alam itu, saya ambil peluang tersebut. Sekarang, selain bahan mentahnya dihargai tinggi oleh pihak luar, hasil produksinya juga digemari," ujarnya.

Huda mempelajari usaha pengolahan batu secara otodidak. Ia tidak semata-mata bertumpu pada finansial, tetapi juga keyakinan. Awalnya, ide mengelola dan menjual batu di daerah terpencil seperti Waykanan—yang hingga kini selalu lengang di setiap Sabtu dan Ahad—dinilai tidak logis oleh keluarga terkait dengan masalah pemasaran. Tetapi Huda optimistis hal itu bisa diatasi dengan berbagai jalan, salah satunya menggunakan internet..

Waktu pun terus berjalan. Saat ini, produksi kerajinan batu yang ditekuninya sejak beberapa tahun lalu di galeri Faiz da Faiz, digemari kolektor luar negeri seperti Taiwan, Korea, Jepang dan Amerika. "Selain keyakinan, kita membutuhkan kreativitas, kecermatan serta ketekunan untuk mencapai tujuan kita," kata Huda.

Dalam menjalankan usaha kerajinan batu fosil saat ini, Khairul Huda dibantu oleh lima orang tenaga kerja. Tiga orang mengolah perhiasan seperti cincin dan liontin, yang dua lainnya mengerjakan batu pajang atau perhiasan ruang tamu.

antara | republika.co.id

 

{mooblock=Perajin Batu Fosil Kewalahan Hadapi Permintaan dari ASEAN}

Perajin batu fosil dan kalimaya di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mampu menembus pasar ASEAN karena permintaan cukup tinggi di wilayah negara-negara tersebut.

"Kami saat ini merasa kewalahan untuk melayani permintaan kerajinan batu permata ke negara tetangga itu," kata Ardineswati, seorang perajin di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Rabu.

Ia mengatakan, selama ini permintaan pasar ASEAN cukup tinggi karena batu fosil dan kalimaya merupakan kekayaan alam yang ada di Kabupaten Lebak. Bahkan, bebatuan yang bernilai ratusan juta rupiah tersebut terdapat di sejumlah Kecamatan Sajira, Maja, Cipanas, Cimarga dan Muncang.

Saat ini, kata dia, perajin batu fosil maupun kalimaya jumlahnya mencapai puluhan dan mereka berkembang dalam mengembangkan usaha tersebut. "Saya sendiri sebagai perajin batu permata cukup berkembang hingga melayani transaksi melalui situs internet dengan laman 'Sandikala'," katanya.

Menurut dia, pihaknya menjual kerajinan batu kalimaya dan fosil ke beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Thailand dan Filipina. Adapun harga satuan batu fosil maupun permata kalimaya mulai dari harga Rp500 ribu sampai Rp100 juta.

Seorang perajin batu permata di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Nong mengaku saat ini batu kalimaya asal daerah itu terbaik di dunia karena memiliki aneka warna jenis dibandingkan dengan Australia, Amerika Latin dan Somalia.

Dia menyebutkan, batu kalimaya asal Kabupaten Lebak memiliki keunggulan dibandingkan dari negara lain di dunia.
Selain warna tidak menghilang juga sangat mempesona karena punya aneka warna, seperti hitam, coklat, kuning ungu, biru dengan warna pelangi.

Batu kalimaya memiliki jenis warna, di antaranya Kalimaya Putih, Kristal Hijau, Kristal Pelangi, Kristal Hijau, Teh dan Kopi, Pelangi, Kristal susu dan lain-lain.

{/mooblock}