22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Kemitraan Usaha Siomay Shanghai, Echo dan Bandung

Kemitraan Usaha Siomay Shanghai, Echo dan BandungFiqhislam - Siapa yang tak kenal dengan kudapan siomay? Kudapan yang sering disuguhkan dalam keadaan panas ini nikmat disantap saat cuaca lagi dingin atau kala musim hujan

Saat disajikan, siomay biasanya memiliki teman berupa tahu kukus, kol gulung, telur rebus, dan terkadang pare. Tak ketinggalan tetesan jeruk nipis serta kecap dan sambal saus.

Memang wajar, siomay banyak penggemarnya. Sebab, siomay memiliki citarasa yang gurih, bisa disajikan dengan cepat serta kandungan protein yang tinggi karena terbuat dari ikan, udang, ayam, dan sebagainya.

Sebagai kudapan favorit, tentu banyak pengusaha kuliner resto hingga pedagang biasa kelas jalanan mengadu nasib di bisnis siomay ini.

Namun, yang menarik, meski jumlah pedagang siomay sudah ada di mana-mana, peluang usaha siomay masih terbuka lebar. Tengok saja tawaran kemitraan usaha yang terus menjamur dan makin menggurita.

Untuk mengetahui lebih jauh, berikut ini ada ulasan kemitraan Siomay Shanghai, Soumay Echo, dan Siomay Bandung (Asli Kang Otong). Dua dari tiga kemitraan ini mencatat penambahan jumlah mitra tahun ini.

Berikut ini adalah perkembangan usaha mereka:


• Siomay Shanghai

Siomay Shanghai berdiri pada 2007 lalu di Semarang, Jawa Tengah. Bisnis ini pertama kali dirintis pasangan suami istri Andreas C Sugihartono dan Meita Cynthia.

Pasangan ini mulai menawarkan kemitraan pada 2009. Saat ditulis KONTAN pada 2010 lalu, mereka baru memiliki 17 mitra. Namun saat ini, jumlah mitra itu bertambah menjadi 25, yang tersebar di Jakarta, Kudus, Purwokerto, dan Palembang.

Salah satu strategi Andreas menambah mitra adalah dengan menggencarkan pemasaran dan menjaga mutu siomay. Salah satu cara pemasarannya adalah memanfaatkan dunia maya.

Siomay Shanghai memasang harga jual Rp 5.000–Rp 7.000 per potong, tergantung lokasi jualan. Di kota besar seperti Jakarta, harga siomai bisa Rp 7.000 per buah.

Siomay Shanghai sengaja menjual siomay per buah bukan per porsi sebab ukuran Siomay Shanghai lebih besar dari siomay pada umumnya. “Makan dua potong saja akan kenyang,” kata Andreas.

Selain memiliki ciri khas penyajian, Andreas juga menambah varian rasa. Ia tidak hanya membuat siomay dari bahan ikan tenggiri saja, tapi juga ada siomay daging ayam, udang, sosis, telur, makaroni, jamur, jagung manis, kismis , dan juga siomay rebung.

Untuk menjadi mitra bisnis, Andreas tidak mengubah nilai investasi. Cukup dengan Rp 7,5 juta, investor bisa mendapat kerja sama kemitraan selama lima tahun. Dengan investasi sebesar itu, Investor akan mendapatkan gerobak, kompor dua tungku, tabung gas, panci kukus, penggorengan, serta piring.

Mitra juga tak perlu repot mencari bahan baku siomay. Sebab Andreas dengan senang hati mengirimnya dari Semarang. “Mitra tinggal memasak dan menjual,” kata Andreas.


•Soumay Echo

Soumay Echo berdiri sejak September 2008 lalu. Bisnis Soumay Echo besutan Jamilah El Fajriyah itu terus mengebul. Pada 2009 lalu Soumay Echo baru memiliki 17 mitra. Namun pada tahun ini jumlah mitra telah berlipat-lipat menjadi 110 mitra. Padahal investasi kemitraan juga ikut membesar.

Jika 2009 dan 2010 paket investasi yang ditawarkan hanya Rp 5,5 juta, maka awal 2011 paket investasinya dinaikkan dan dibagi menjadi tiga paket.

Pertama, paket standar senilai Rp 9 juta. Paket ini mendapatkan booth, klakat (wadah pembungkus siomay dari bambu), seragam karyawan, peralatan masak siomay, peralatan jualan, serta boks untuk sumpit.

Kedua, paket booth island senilai Rp 12 juta. Paket investasi ini mendapat tambahan menu, berupa mi ayam lada hitam. Selain itu, investor dapat peralatan masak mi ayam, delapan unit kursi. Kelebihan lain paket ini adalah bebas biaya pelatihan untuk karyawan di Jakarta.

Ketiga adalah paket resto, dengan nilai investasi Rp 150 juta. Paket ini mendapat tambahan menu makanan besar seperti nasi hainam, ikan kakap asam manis, serta olahan minuman khas Soumay Echo.

Mitra juga mendapat neon box, desain interior, peralatan makan lengkap, peralatan masak serta tanggungan biaya pelatihan karyawan meskipun di luar Jawa. "Mitra tinggal sedia tempat saja, selebihnya kami yang suplai," ujar Yanuar Yusuf, Staf Pemasaran Soumay Echo.

Walaupun paket resto terbilang mahal, tetap ada yang peminatnya. Yanuar bilang, mitra paket resto Soumay Echo itu ada di Purwakarta dan Kupang. "Mereka melaporkan bisa meraih laba Rp 5 juta per bulan," imbuh Yanuar.

Soumay Echo kebanjiran tawaran setelah melakukan berbagai inovasi terutama tambahan menu. Di antara menu terbaru itu adalah siomay isi udang dan ekado, siomay ikan kakap merah, lumpia sayur, bola-bola udang, pao cokelat, pao pandan, pao talas, pao jagung, dan masih banyak lagi.


•Siomay Bandung (Asli Kang Otong)

Siomay Bandung (Asli Kang Otong) bukan berasal dari kota Bandung, Jawa Barat. Siomay milik Akhlis Mukhidin itu justru lahir di Yogyakarta pada 2006 silam.

Sejak menawarkan kemitraan pada 2008, Siomay Bandung (Asli Kang Otong) tidak menambah gerai mitra. Usaha siomay tetap memiliki lima mitra yang seluruhnya ada di Yogyakarta.

Akhlis mengaku tidak ingin latah menambah mitra. Ia berdalih saat ini sedang fokus membenahi manajemen. Tapi, "Sebentar lagi kami kami akan tambah mitra lagi kok," jelas Akhlis.

Untuk mencari mitra baru, Siomay Bandung (Asli Kang Otong) menaikkan tawaran investasi dari Rp 45 juta menjadi Rp 75 juta. Namun begitu, Akhlis bilang besaran investasi itu masih bisa berubah tergantung lokasi mitra. "Yang jelas luas lokasi minimal 48 meter persegi," kata Akhlis.

Dengan investasi Rp 75 juta, investor memperoleh peralatan memasak, displai makanan, alat promosi, serta biaya kerja sama selama lima tahun. Sang mitra juga mendapat pelatihan karyawan dan bahan baku perdana senilai Rp 1 juta, untuk 500 siomay. "Untuk mitra saya fokus cari di Yogyakarta dulu," katanya.

Akhlis memperkirakan, mitra balik modal setelah 12 bulan atau selambat-lambatnya dalam waktu 18 bulan. Asumsi itu dihasilkan jika omzet kotor setiap hari antara Rp 700.000 hingga Rp 800.000. Omzet belum termasuk pengeluaran untuk gaji karyawan, sewa tempat, belanja bahan baku, dan royalti fee sebesar 3% dari omzet.

Meski masih fokus di Yogyakarta, Akhlis ternyata punya format kemitraan baru untuk kota lain. Ia menyebutnya sebagai kemitraan tanpa merek. "Cukup Rp 5 juta saja," cetusnya. Dengan nilai investasi itu, mitra dapat paket bahan baku siomay, pelatihan produksi, penjualan siomay, sistem pemasaran dan sistem keuangan.

Akhlis bilang, paket luar kota itu untuk menguji bakat bisnis calon mitra. Jika berjalan lancar, Akhlis bisa bisa menawarkan kemitraan penuh. Akhlis yakin, paket investasi itu akan banyak digemari calon investor. "Sudah ada investor yang minat, mereka ada di di Batam, Jakarta, Semarang, sampai Makassar," kata Akhlis.

kontan.co.id