20 Safar 1443  |  Selasa 28 September 2021

basmalah.png

Bisnis Kursi Bekas Bisa Jadi Sandaran Hidup

Bisnis Kursi Bekas Bisa Jadi Sandaran HidupFiqhislam.com - Bisnis rekondisi atau perbaikan kursi saat ini mulai hidup. seiring dengan banyaknya kantor atau tempat lain yang membutuhkan kursi dengan harga miring dengan kualitas baik.

Semakin banyaknya kebutuhan akan hal tersebut, ternyata tak luput dari pengamatan Ebe Romli yang sejak 11 tahun lalu menekuni bisnis perbaikan dan penjualan kursi kerja rekondisi, di Jalan Saharjo Raya, Jakarta Selatan.

"Sebelumnya saya punya usaha spare part kendaraan, motor dan mobil, bisnis ini pada saat krisis moneter 1998 dahulu mulai mengalami pasang surut, pada akhirnya di pertengahan tahun 2000 dengan keterampilan yang saya punya akhirnya saya memilih usaha ini," ujar bapak 55 tahun ini, di bengkel miliknya, Kamis (6/10/2011)

Pak Ebe, sapaan akrab bapak empat anak ini, saat ditemui di bengkelnya sedang asyik membongkar kursi yang akan di perbaikinya. Saat ini Pak Ebe telah mempunyai dua bengkel di kawasan yang sama.

“Alhamdulillah, saya sudah mempunyai dua bengkel saat ini, yang satu di Jalan Minangkabau, Manggarai, Jakarta Selatan,” ungkap Pak Ebe sambil menunjuk.

Pak Ebe yang mengaku sebagai orang pertama yang mempunyai usaha reparasi dan penjualan kursi di kawasan ini mengatakan, pemasok utama kursi-kursi yang dijualnya adalah kantor-kantor di Jabodetabek.

“Pemasoknya dari kantor-kantor daerah Jabodetabek, yang melelang alat-alat kantornya, biasanya kantor-kantor yang bangkrut atau mau ganti meja dan kursi baru. Kita hanya ambil kursinya, meja sih jarang kita ambil,” ujar bapak keturunan Sunda yang sangat kental dengan logat Jakarta itu.
 
Bahan-bahan dasar yang digunakan dalam bisnis ini juga tidak terlalu sulit untuk didapat, seperti busa dan bahan pelapis kursi berupa kain ataupun kulit.


Bisnis Kursi Bekas Bisa Jadi Sandaran HidupBanyaknya pemain dalam bisnis ini terutama di kawasan tersebut tidak terlalu membuat Pak Ebe khawatir mengenai persaingan dalam mendapatkan barang dari pemasok atau mengenai pendapatan usaha yang dia geluti sekarang ini

“Kalau untuk pasokan barang asalkan kita rajin jalan, setiap hari sudah pasti ada yang melelang barang mereka, biasanya mereka menghubungi kita atau bisa juga lihat melalui internet. Masalah pendapatan saya tidak terlalu khawatir, kita sudah punya langganan yang cukup loyal sama kita,” ujar pak Ebe.

Kursi yang dijual pak Ebe cukup beragam mulai dari kursi yang biasa dipakai pada resepsi-resepsi pernikahan hingga kursi yang biasa dilihat di ruangan para manager di kantor, harga kursi-kursi ini mulai dari Rp85 ribu-Rp5 juta.

“Dengan dua toko yang saya punya saat ini dalam sebulan saya dapat menghasilkan Rp10 juta,” tutur bapak yang saat ini telah mempunyai lima orang karyawan dengan upah Rp50 ribu per harinya.  

Pemain lain di kawasan yang sama dalam bisnis reparasi dan penjualan kursi bekas ini adalah Yudi, pria asal Klaten, Jawa Tengah. Sebelum konsen dengan Bisnis ini Yudi yang dahulu merupakan seorang depkolektor sebuah bank swasta di Jakarta, ikut mencium aroma yang menggoda dari bisnis kursi ini.

“Target pasar kami bukan hanya kantor-kantor di Jakarta, bahkan tidak jarang kami mendapat pesanan dari luar Jakarta seperti kemarin kami baru mendapat order dari Kalimantan,” ujar pria 35 tahun itu.

Harapan dari Yudi saat ini tidaklah terlalu muluk, dia hanya ingin memperluas bisnis ini dengan membuka cabang agar dapat memberi lapangan pekerjaan bagi kawan-kawan dan saudaranya di daerah asalnya.

Andina Meryani/Brata
sindonews.com