fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Omzet Pedas Menyengat dari Usaha Pembuatan Bumbu Pecel

Fiqhislam.com - Jangan pernah anggap remeh bisnis pembuatan bumbu pecel yang terbuat dari kacang. Bila mengemasnya dengan apik, pembeli bumbu pecel ini bisa datang dari berbagai penjuru daerah. Hasilnya, dari bumbu pecel bisa mendulang omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Kudapan aneka sayuran belum bisa disebut pecel kalau belum dilengkapi dengan bumbu yang terbuat dari kacang tanah. Karena itu, untuk merasakan lezatnya mengudap pecel, kuncinya hanya terletak pada bumbunya itu.

Semakin berkualitas racikan bumbu kacang yang mengguyur tumpukan sayur tersebut, maka semakin nikmatlah rasa pecel itu ketika mendarat di lidah.

Adalah Aditya Pramudita Susilo di Blitar, Jawa Timur, yang menyadari bahwa kudapan pecel tak akan pernah ada bila tanpa ada bumbu kacang ini. Karena itu, sejak 2009 silam, Aditya memutuskan untuk menjadi produsen bumbu pecel ini.

Dengan mengusung merek Bumbu Pecel Kemangi, Aditya menjual bumbu pecel itu ke Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Denpasar, Mataram, Samarinda, Pekanbaru, Palembang bahkan hingga Aceh. Namun demikian, "Pesanan terbanyak masih datang dari seputaran Jakarta atau Jabodetabek," kata pria berusia 39 tahun itu.

Omzet Pedas Menyengat dari Usaha Pembuatan Bumbu Pecel Untuk melayani penggemar pecel itu, Aditya mengemas bumbu pecel itu dalam empat varian rasa, yaitu bumbu pecel tidak pedas, sedang, pedas serta bumbu pecel rasa ekstrapedas. "Yang terlaris adalah bumbu kacang pedas dan ekstrapedas," terang Aditya. Aditya mengaku kewalahan melayani permintaan pasar itu. Setiap bulan ia mampu mendulang omzet hingga Rp 50 juta dari bumbu pecel.

Untuk memasarkan bumbu pecel itu, Aditya mengemasnya dalam botol plastik ukuran 250 gram. Setiap botol dijual Rp 12.500. Namun begitu, Aditya juga melayani pembelian kiloan dengan harga Rp 49.500 per kilogram (kg).

Selain ukuran 250 gram, Aditya memiliki bumbu pecel dalam kemasan mungil, hanya 100 gr. Tapi kemasan terkecil ini hanya untuk bumbu pecel ekstra pedas. "Saya menjual ukuran bumbu pecel 100 gram seharga Rp 5.000 per kemasan," terang Aditya.

Selain pembeli dalam negeri, Aditya memiliki pelanggan tetap dari turis asing yang datang ke Indonesia. Aditya bilang, bahkan sekarang sudah memiliki pelanggan dari Amerika Serikat, Kanada, dan Belanda. "Kalau mereka datang berkunjung ke Indonesia, mereka selalu belanja bumbu pecel ini," ungkap Aditya.

Selain Aditya, Melanie juga memproduksi bumbu pecel dengan merek Sambal Pecel Teratai di Surabaya. Mulanya Melanie hanya melayani pelanggan di sekitar Surabaya saja. Namun karena bumbu pecel bikinannya itu kian terkenal, kini permintaan sudah mulai datang dari Jabodetabek, Bandung, Balikpapan, dan Lombok.

Untuk melayani pelanggannya, Melanie membuat bumbu pecel dengan tiga varian rasa, yaitu rasa pedas, sedang, dan biasa saja (tidak pedas). Setiap kemasan memiliki ukuran 250 g dengan harga jual Rp 12.500 per kemasan.

Melani tidak hanya melayani pesanan eceran saja. Ia juga melayani pesanan bumbu pecel untuk restoran, pasar swalayan, dan dari pusat oleh-oleh. "Justru pasar utama saya sekarang ini restoran dan pasar swalayan di Jawa Timur dan Jabodetabek," terang wanita berusia 48 tahun itu.

Dalam sebulan, Melanie mampu menjual 500 kg bumbu pecel dengan omzet mencapai Rp 25 juta. Omzet itu akan naik tiga kali lipat saat tahun baru dan juga saat Lebaran.

Melani bilang, saat pesanan banyak, dalam sebulan ia mampu memproduksi hingga 1,5 ton bumbu pecel. "Bumbu pecel bikinan saya dicari karena tanpa penggunaan pengawet," katanya.

kontan.co.id