18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Menumpuk Laba dari Bisnis Membuat Kartu Baca Balita

Fiqhislam.com - Untuk mengenalkan huruf pada anak balita, banyak orang tua menggunakan berbagai macam alat bantu, mulai dari koran, majalah, hingga alat peraga. Salah satu alat bantu itu adalah flashcard. Ini pula yang ditangkap para pebisnis flashcard mendulang untung puluhan juta.

Tak sedikit orang tua yang kesulitan mengajarkan buah hati mereka untuk belajar membaca. Namun itu bukan berarti mereka patah semangat. Mereka menggunakan alat bantu agar proses belajar membaca menyenangkan.

Salah satu cara adalah dengan menggunakan alat bantu adalah flashcard. Ini adalah kartu yang terbuat dari kertas berisikan pesan atau informasi berupa huruf yang bisa ditangkap dan dikenali panca-indra anak, utamanya anak di bawah usia lima tahun.

Di beberapa negara maju, menggunakan alat bantu berupa flashcard sudah lama digunakan dan konon terbukti efektif untuk mengajar anak membaca.

Adapun di Indonesia, beberapa tahun belakangan penggunaan flashcard meruak. Namun, kebanyakan kartu yang digunakan merupakan barang impor dengan harga jual yang tinggi.

Padahal, di dalam negeri. banyak produsen yang memproduksi flashcard. Salah satunya Limanjaya di Bandung. Pemilik toko BayiPintar.com itu mulai memproduksi flashcard sejak 2008. "Saya bikin flashcard setelah melihat harga flashcard impor dari Singapura dijual Rp 1,5 juta per set," kata Liman.

Liman memproduksi flashcard itu untuk kebutuhan anaknya. Ia membuat flashcard untuk mengajari anaknya membaca. Tak disangka, sang anak bisa memahami kata per kata yang ada pada lembaran flashcard itu. "Sejak itulah tertarik produksi banyak," terang Liman.

Dengan mengusung merek Kartu Pintar, flashcard itu dipasarkannya lewat pertemanan serta lewat dunia maya. Setelah tiga tahun lamanya, kini Liman mampu menjual 5.000 set flashcard setiap bulan."Setiap set terdapat 100 lembar flashcard," katanya.

Dengan harga jual Rp 45.000 per set, Liman mendulang omzet hingga Rp 200 juta per bulan. Pasar flashcard itu tidak hanya untuk wilayah Bandung saja, Liman juga memasarkannya ke banyak kota di Indonesia. "Permintaan tertinggi masih dari Pulau Jawa, terutama Jabodetabek" terang LIman.

Selain Liman, ada Diena Ulfaty yang berbisnis flashcard sejak 6 bulan lalu. Ulafaty terinspirasi berbisnis flashcard karena sukses mengajari anaknya membaca dengan bantuan flashcard.

Wanita berusia 32 tahun itu akhirnya memproduksi lebih banyak flashcard dengan merek ABACA Flash Card. Kini ia memiliki flashcard dengan dua seri cerita, yakni seri cerita "Panen Es Krim" dan seri cerita "Menguak Misteri Rumah Stroberi."

Setiap lembaran flashcard Diena terdapat ejaan huruf. Jika lembaran flashcard itu digabungkan, akan membentuk susunan suku kata berikut dengan gambar.

Menurut Diena, pengenalan suku kata dengan flashcard efektif mengenalkan simbol dan huruf kepada balita. "Hasilnya anak mampu menghafal huruf dalam waktu singkat," ujarnya.

Untuk memasarkan produk flashcard itu, Diena pertama kali menjualnya kepada teman-temannya. Hanya alam tempo sebulan, dia berhasil menjual 50 paket flashcard yang dijual seharga Rp 45.000 per paket. Setiap paket flashcard terdiri dari 44 lembar kartu.

Memasuki bulan kedua, permintaan mengalami kenaikan. Agar pesanan bisa terpenuhi, Diena merekrut enam karyawan untuk membantunya memproduksi flashcard. "Bulan kedua saya bisa menjual 100 paket," terangnya.

Karena pesanan semakin deras mengalir, Diena bisa menjual hingga 1.000 paket flashcard per bulan dengan omzet Rp 45 juta.

kontan.co.id