pustaka.png.orig
basmalah.png


4 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 14 Juni 2021

Omzet Keripik Setan Ngamprah Rp 60 Juta Per Bulan

Fiqhislam.com - Minat warga Jawa Barat terhadap penganan ringan khas Sunda seperti keripik singkong pedas nampaknya tidak pernah surut.

Omzet Keripik Setan Ngamprah Rp 60 Juta Per BulanKegemaran warga terhadap makanan yang kerap disebut keripik setan atau pikset ini kemudian dijadikan peluang oleh pengusaha pikset asal Kabupaten Bandung Barat, Tedi Rustandi (33).

Pada 2006, awalnya Tedi mengolah 5 kilogram singkong menjadi beberapa bungkus pikset setiap hari. Produknya pun hanya dipasarkan di warung-warung terdekat. Baru dua tahun lalu, dirinya mencoba untuk mengolah singkong dengan jumlah yang lebih banyak.

Kini, Tedi dapat mengolah 20 ton singkong yang didapatnya langsung dari Sukabumi setiap bulan. Usaha Kecil Menengah (UKM) milik Tedi ini bisa memproduksi 20 ton sampai 30 ton pikset setiap bulan. Satu kantung besar yang berisi 25 kantung kecil pikset ini dijual Rp 7.500.

"Pemasarannya sudah mencapai Sukabumi, Purwakarta, Karawang, dan Bandung. Sekarang saya memperkerjakan 32 karyawan yang kebanyakan ibu-ibu. Ada yang bertugas mengupas singkong, menggoreng, sampai mengemas," kata Tedi saat ditemui di kediamannya yang dijadikan tempat pembuatan pikset di Kampung Ngamprah, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (25/4/2012).

Tedi pun tidak menyangka usaha yang tadinya hanya iseng-iseng itu bisa berkembang menjadi besar seperti sekarang. Namun, keinginannya untuk kembali memperbesar perusahaannya terhambat masalah permodalan. Pemerintah pun, ujarnya, belum pernah memberikan bantuan atau penyuluhan apapun terhadap usahanya.

Untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dan konsumen terhadap produknya, kata Tedi, ia selalu menjaga rasa dan kualitas piksetnya. Bahan baku singkong harus didapatnya dari Sukabumi yang berkualitas baik, yakni berumur antara enam sampai delapan bulan dan terbebas dari pupuk kimia.

Bumbu utama pun, ujarnya, menggunakan cabai rawit dari Cirebon dan cabai merah berkualitas baik.
Untuk mengolah 20 ton singkong, dirinya membutuhkan 2 ton cabai merah. menggoreng singkongnya pun, kata Tedi, masih menggunakan kayu bakar demi menjaga cita rasa kripsetnya. Semua pekerjaan masih dilakukan secara manual.

"Saya tidak takut bersaing dengan pengusaha pikset yang sekarang makin gencar memasarkan berbagai produknya di Bandung. Semua punya penggemar masing-masing. Sekarang juga sudah lumayan, omzet per bulannya mencapai Rp 50 juta sampai Rp 60 juta," kata Tedi.

sindonews.com