23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Dari Daun Hasilkan Rp70 juta per Bulan

Dari Daun Hasilkan Rp70 juta per Bulan

Fiqhislam.com - Siapa yang menyangka, bahwa dengan modal Rp 100 ribu dan memanfaatkan daun sebagai bahan baku, omset sebesar 70 juta bisa diraup dalam waktu satu bulan.

Memang disini kami hanya membuat barang-barang yang dilapisi daun, jumlahnya ratusan barang," kata pemilik Bengkel Keriya Daun 9996, Nanik Hery kepada INILAH.COM di Jakarta (26/7/2012).

Berbagai barang yang terselimuti daun tersaji di stand Bengkel Keriya Daun 9996, seperti kotak tisu, buku, bingkai foto, dompet dan masih banyak lagi.

Berdiri pada 9 September 1996 di Surabaya, Bengkel Keriya Daun kini sudah merambah ke pasar internasional. Nanik menuturkan, bahwa ide awal pemanfaatan daun ini merupakan warisan dari almarhum suaminya.

Dulu, sang suami mempunyai kebiasaan mengeringkan daun di selipan buku. Dari kebiasaan itu, kemudian mereka mencoba-coba dengan melapisi tempat tisu dengan daun. Ternyata, kreasinya disukai banyak orang.

"Minat masyarakat yang banyak, sehingga kami membeli kotak tisu dan lem untuk melekatkan daunnya. Waktu itu kami modalnya hanya 100 ribu dan tidak menyangka karya kami banyak suka bahkan sampe kami mengekspornya," tuturnya.

Daun yang digunakan Nanik dalam menghias barang-barang, tidak sulit dicari, malahan justru sangat mudah ditemukan. Bagaimana tidak, Nanik menggunakan daun kupu-kupu yang pohonnya banyak terdapat di pinggir jalan raya.

Untuk mendapatkan daun kupu-kupu Nanik bekerjasama dengan dinas kebersihan Surabaya, sehingga setiap harinya Nanik mendapatkan pemasokan bahan baku dari dinas kebersihan. "Untuk daun, ada orang kami yang mengambilnya ke Dinas Kebersihan Kota," ucapnya.

Berkat kerja kerasnya, produk Nanik pun sejak delapan tahun lalu sudah merambah hingga ke luar negeri. Kini, kerajinannya dapat ditemui di Korea, Inggris, hingga Perancis, dengan berbagai kegunaan.

Misalkan untuk Inggris, Nanik mengekspor tempat abu jenazah dan peti mati berlapis daun. Sedangkan untuk Perancis, ia membuatkan wadah coklat yang kecil-kecil, sedangkan Korea, ia mengirimkan kipas ataupun pajangan dinding.

Perempuan berusia 49 tahun ini pun menuturkan, kalau Jerman dan Australia dulu sempat menjadi salah satu pelanggannya, dengan memesan tempat botol anggur (wine). "Namun, akibat bom Bali, pemesanan dari kedua negara itu berhenti total sampai sekarang."

Untuk harga produknya yang berlapis daun, Nanik mematok harga dari Rp5 ribu hingga Rp 5 juta. Namun, dengan membanjirnya pesanan, ia pun dapat mengantongi hingga puluhan juta setiap bulannya,"Alhamdulilah ya, pemasukan setiap bulan bisa sampai Rp70 juta,”katanya.

Dalam memasarkan produknya, Nanik membuka toko di Ngagel Mulyo XV, Surabaya. Saat ini, ia sudah memiliki 14 karyawan yang dibagi dalam beberapa kelompok, yakni bagian khusus barang ekspor dan barang untuk dipasarkan di pasar domestik.

Terkait pekerja, Nanik mengaku lebih suka mengerahkan masyarakat sekitar daerahnya,“Saya lebih memilih penduduk sekitar, karena bisa membantu mereka mempunyai pekerjaan yang layak," katanya.

inilah.com