fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Menjadi Pribadi Yang Lebih Berkualitas

Fiqhislam.com - Mungkin banyak orang mengalami dilema. Di satu sisi mau menjadi individu berintegritas tinggi. Di sisi lain, lingkungan sekitar justru mendorong untuk berperilaku tanpa integritas karena yang penting berkuasa, punya jabatan, dan kaya walau diraih tanpa etika. Adakah pedoman membangun kualitas individu yang bisa dipelajari?

Salah satu saluran televisi menyoroti kiprah beberapa artis yang menyusul artis-artis lain terjun ke politik. Ada yang menarik, bukan soal layak atau tidaknya mereka masuk dunia politik, melainkan tanggapan salah satu artis ketika ditanya mengenai kerelaannya mendapat gaji kecil bila terpilih sebagai bupati.

Sang artis yang telah mengubah citranya sebagai orang yang saleh beragama ini, dengan lugas menjawab bahwa penghasilan kecil tidak jadi masalah karena dengan jabatannya ia akan mendapatkan banyak peluang bisnis. Wow!

Sungguh pengakuan yang memprihatinkan. Tidak mengertikah ia bahwa sungguh tidak etis seorang pejabat menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri?

Dilema internal Ini merupakan fenomena yang sebenarnya meluas di kancah politik sebagai akibat dan polah para pendahulu yang membangun sistem politik dengan memberi ruang KKN dan politik uang, tanpa standar etika. Di satu sisi orang mengejar citra saleh beragama, di sisi lain tanpa sadar nilai-nilainya tetap mengejar kedudukan, kekuasaan, atau kekayaan, tanpa peduli etika.

Maraknya kondisi semacam ini sampai memunculkan anggapan bahwa integritas tidak mungkin dikembangkan di lingkungan pegawai negeri. Seorang mahasiswa psikologi tingkat akhir mengungkapkan dilema yang dirasakan sehubungan dengan keinginannya bekerja sebagai pegawai negeri. Dilema terjadi setelah berlangsung diskusi kelas mengenai perilaku etis dan integritas.

Di satu sisi ia meyakini bahwa mengembangkan integritas itu sangat penting. Di sisi lain, terngiang-ngiang nasihat saudaranya yang telah menjadi pegawai negeri bahwa tidak mungkin mengembangkan integritas bila menjadi pegawai negeri.

Konflik internal yang dialami mahasiswa itu membuatnya gelisah. Namun, kegelisahan seperti ini sungguh berharga untuk mencapai solusi positif, terutama karena ia telah melihat pentingnya integritas.

Lain halnya orang-orang seperti calon bupati dalam contoh di atas. Mereka tenang melenggang karena tidak sadar bahwa ada persoalan integritas dalam dirinya yang mengancam kesejahteraan masyarakat luas.

Integritas: kualitas kepribadian

Seorang psikolog klinis yang berkiprah sebagai konsultan, penulis, dan pembicara publik dari California, Henry Cloud, berpendapat bahwa integritas adalah keutuhan karakter seseorang, yaitu berbagai fungsi karakter yang berbeda-beda bekerja secara selaras, terintegrasi. Hal ini akan membuat seseorang dapat berfungsi secara efektif.

Apa yang dikemukakan oleh Cloud ini sesuai dengan arti integritas yang pernah dikemukakan oleh penulis: adanya keselarasan antara aspek fisik, psikis, sosial, dan spiritual. Integritas dicapai bila seseorang telah menghidupi nilai-nilai spiritual dan menjadikan spiritualitas sebagai panglima dalam segala aktivitasnya.

Mengapa spiritualitas sebagai panglima? Spiritualitas dapat diartikan sebagai kesadaran mengenai keterhubungan antara diri, orang-orang lain, alam semesta, dan Sang Pencipta. Hal ini melahirkan nilai-nilai etis yang universal. Itulah sebabnya, spiritualitas juga dapat diartikan sebagai aktualisasi nilai-nilai pribadi yang universal.

Spiritualitas memerlukan wawasan yang utuh atau menyeluruh dalam memandang kenyataan atau realitas dalam diri sendiri maupun di luar diri. Dengan itu spiritualitas menghasilkan keselarasan, kejujuran, dan moralitas, yang sering disebut sebagai ciri orang berintegritas.

Di sisi lain, ketidakselarasan antara kata-kata dan perbuatan, antar nilai-nilai (orientasi egoisme versus altruisme), dan antara nilai-nilai dan perbuatan, baik disadari ataupun tidak, merupakan persoalan integritas. Simbol-simbol kesalehan beragama yang ditampilkan secara lahiriah bukanlah kesalehan itu sendiri, dan tidak menjamin integritas.

Tanpa integritas seseorang tidak layak memimpin karena perspektifnya masih sempit, berisiko membahayakan kesejahteraan masyarakat.

Tidak ikut arus

Seseorang yang telah memiliki kesadaran tinggi telah mengembangkan integritas, sangat mungkin menjadi pribadi yang bebas. Meski ia terpanggil untuk bekerja di pemerintahan atau masuk struktur politik, ia tidak akan takut kehilangan posisi atau jabatan sebagai risiko dari pola berpikir dan tindakannya yang berbeda dengan orang-orang lain.

Dengan karakteristik kepribadian yang berkembang terintegrasi-selaras, individu menjadi pribadi yang fleksibel, mampu melihat alternatif pekerjaan sebagai ajang untuk berkarya maupun sumber penghasilan yang sah.

Menegakkan integritas di tengah kondisi lingkungan yang secara "sistemik" mendukung praktik-praktik tidak etis sungguh tidak mudah. Namun, orang yang berintegritas memiliki ketahanan mental lebih tinggi untuk menghadapi berbagai tantangan, dengan cara-cara bersahabat. Selain itu, orang yang berintegritas sangat mungkin memiliki kompetensi tinggi dalam bidangnya sehingga tetap dibutuhkan.

Persoalan terjadi bila seseorang belum mampu mengembangkan integritas, lalu merasa tidak berdaya menghadapi arus pikiran dan perilaku tidak etis. Rasa tidak berdaya tersebut membuat ia memilih ikut arus mendukung atau ikut melakukan praktik-praktik tidak etis (korupsi, kolusi, nepotisme, monopoli, oligarki, dsb) meski mengalami konflik dengan suara hatinya.

Mengembangkan integritas

Setiap orang semestinya berkembang dari keadaan tidak selaras menjadi selaras (mencapai integritas). Hidup memanggil kita untuk mengembangkan integritas.

Bagaimana langkah mengembangkannya? Kita dapat melangkah dengan mengembangkan enam aspek karakter integritas yang dikemukakan Cloud (2007).

1. Membangun rasa percaya dalam hubungan.
Kepercayaan dibangun dengan relasi yang dimulai dari hati: mau mendengarkan, memahami, dan berempati, dan mau terlibat dengan orang lain.

2. Berorientasi pada kebenaran.
Orang yang berintegritas menemukan kebenaran melalui relasi yang memungkinkan keterbukaan dan mengamati gerak-gerik pikiran, emosi, dan perilaku diri sendiri. Hal ini akan meningkatkan kesadaran mengenai diri, sehingga kesalahan, kelemahan, delusi, distorsi, emosi yang tidak dewasa, salah penilaian dan lain-lain yang dapat menimbulkan masalah, dapat dikoreksi.

3. Bekerja dengan cara yang menghasilkan dan selesai secara baik.
Orang yang berintegritas mengenal siapa dirinya dan tetap rendah hati. Karakteristik lainnya ialah: bersedia membuat keputusan sulit; gigih; menerima kehilangan atau kegagalan tanpa kehilangan optimisme; rela melepaskan hal yang tidak perlu; dan kerja keras tanpa dihambat rasa takut, narsisme, harga diri, keterikatan emosional, kehampaan emosional, kehampaan spiritual.

4. Kemampuan merangkul yang negatif.
Pribadi berintegritas mampu merangkul tuntutan kenyataan negatif dan mengubahnya menjadi hal yang menguntungkan. Masalah diterima sebagai hal yang harus dihadapi, bukan dihindari.

Namun, bisa juga berarti tidak mengizinkan diri melakukan sesuatu yang tidak disetujui bagian diri lainnya. Diperlukan keberanian untuk berkata tidak, bila merasa ada yang tidak benar.

5. Berorientasi pada perkembangan.
Artinya, ada keingintahuan dan hasrat untuk lebih meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keutuhan, dan pengalaman. Empat hal tersebut berkembang bila seseorang terus menggunakan kapasitasnya untuk belajar, membantu orang lain, dan sebagainya.

6. Berorientasi pada hal-hal transenden.
Berarti telah melampaui keegoisan karena menyadari hal-hal yang lebih besar dari dirinya, dan bahwa keberadaannya bukan sekadar untuk kepentingan dirinya. Ia menemukan arti hidup yang jauh lebih besar, dan menyesuaikan diri, melayani, serta menemukan peran dalam gambaran besar kehidupan.

Kunci transendensi adalah kesadaran. [yy/SuaraMedia.com]