12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Sederhana Itu Hebat

Sederhana Itu HebatFiqhislam.com - Apakah sederhana itu kurangbernilai? Jika Anda mengatakan kurang, cobalah perhatikan tampilan mesin pencari termashur di dunia: Google. Dalam ruang layar komputer Anda, kata Google berada di posisi pusat. Sesekali kata Google ditulis dalam ornamen-ornamen tematis.

Beberapa kata memang tertulis pula di halaman ini. Selebihnya kosong. Sunyi. Dalam ruang selebar itu tidak ada hal-hal lain yang bersaing untuk memperebutkan perhatian kita sebagai pemakai. Seluruh perhatian tertuju kepada Google.

Formula yang dirumuskan Albert Einstein juga terbilang sederhana, E = mc2. Perhatian kita langsung terpusat kepada energi (E) dan massa (m). Tidak ada unsur lain yang bersaing dan mengacaukan pemahaman kita mengenai relasi luar biasa di antara massa dan energi.

Dalam banyak hal, penampakan yang sederhana ternyata menyimpan sesuatu yang sangat bernilai, sesuatu yang luar biasa. Kata-kata yang terpampang di laman Google tersebut mewakili algoritma yang kompleks, yang mampu menemukan kata yang kita cari di antara jutaan halaman web dalam waktu yang sangat singkat.

Kemampuan memadatkan kompleksitas di dalam sesuatu yang sederhana patutlah dipujikan. Banyak karya hebat merepresentasikan kemampuan seperti ini. Lihatlah blue jeans. Karya yang diciptakan oleh Levi Strauss untuk pekerja tambang ini tak lekang oleh waktu karena kesederhanaannya.

Perancang busana mashur, mendiang Yves Saint Laurent, menyebut blue jeans sebagai karya yang paling spektakuler, paling praktis, paling rileks, dan tidak ambil pusing. “Saya berharap sayalah yang menemukan blue jeans,” ujarnya suatu ketika.

Bagi Yves, blue jeans mewakili filosofi yang luar biasa dan bukan sekedar sepotong celana panjang. “Blue jeans memiliki ekspresi, kerendahan hati, daya tarik seksual, dan kesederhanaan—semua yang saya harapkan ada pada pakaian saya,” ujar mendiang perancang dari Prancis itu.

Mencapai tingkat kesederhanaan seperti itu sangat sukar, sebab di dalam kesederhanaan Google, E = mc2, dan blue jeans terangkum kompleksitas yang tidak kasat mata. Di dalam mesin Google tersimpan kecanggihan algoritma dan di dalam rumus Einstein terkandung pengertian yang terdalam mengenai makna dan kekuatan materi.

Bagaimana menciptakan blue jeans yang nyaman dipakai dan tidak memalukan untuk dipakai di “forum terhormat” sekalipun? Levi Strauss mampu menerjemahkan bukan hanya unsur kenyamanan ergonomis tetapi juga psikologis.

Kesederhanaan serupa maujud dalam karya-karya Apple di bawah mendiang Steve Jobs. Kesederhanaan itu ditampilkan dalam Mac dan iPad, misalnya, lewat pendekatan yang digambarkan oleh suhu desain Apple, Jonathan Ive, “dengan berusaha mencapai banyak hal namun menggunakan yang paling sedikit.”

Kecanggihan cara bekerja sebuah mesin tidak mesti ditunjukkan lewat kerumitan cara memakai. Justru penyederhanaan yang harus dikejar. Seperti kata Ive, “Kita sangat sibuk berusaha mengembangkan pemecahan yang sangat sederhana karena sebagai makhluk fisik kita memahami kejelasan.”

Inti dari semua contoh kesederhanaan tersebut ialah berfokus pada apa yang penting. Filosofinya ialah menyingkirkan hal-hal yang berlomba-lomba menarik perhatian Anda.

Saya rasa, filosofi ini patut pula diadopsi oleh pemimpin perusahaan maupun pemimpin masyarakat. Boleh berpikir canggih, tapi, seperti kata CEO Cisco System John Chambers, “menjadi tugas pemimpin untuk menyederhanakan yang rumit demi kemaslahatan orang banyak.”

 
yy/tempo.co