fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


10 Ramadhan 1442  |  Kamis 22 April 2021

Kerumunan Peristiwa

Kerumunan Peristiwa

Fiqhislam.com - Kita sepertinya hidup di tengah-tengah kerumunan peristiwa. Belum lagi satu peristiwa tecerna, muncul peristiwa lain—berkerumun lalu berganti. Dalam sehari, beragam peristiwa terjadi dan memaksa kita untuk berpaling kepada kerumunan itu. Dari Adiguna, lalu penyadapan, kemudian Budi Mulya, lantas Asmirandah, sebentar kemudian Bupati Riani, lalu pohon palem, dan tiba-tiba muncul tentara dan polisi beradu mata di Krawang—ujungnya bukan kedip-kedipan, tapi marah-marahan.

Peristiwa-peristiwa itu berlalu lalang di hadapan kita bagaikan lampu flash yang berkali-kali menyala: menyilaukan mata, membuat kita berpaling, menggoda kita untuk memperhatikan sejenak, untuk kemudian kita tidak mendapati apa-apa yang bermakna. Rasanya, begitu banyak waktu 24 jam kita yang disesaki oleh peristiwa yang datang tanpa permisi dan mendesak-desak minta perhatian.

Kerumunan peristiwa ini dari jenis yang punya kecenderungan menggembosi spirit kita, semangat kita, dan harapan kita bahwa masyarakat akan tumbuh semakin baik. Kerumunan peristiwa ini menggerus secara perlahan-lahan keyakinan kita bahwa masyarakat akan bertambah dewasa. Peristiwa-peristiwa itu bagaikan ‘post-it’ yang ditempel satu per satu di jidat kita: “Seperti ini lho kamu, ini lho kamu, ini lho kamu…..”

Sayangnya, post-it itu menyampaikan negative message yang perlahan menancap dalam kesadaran kita. “Masyarakat kita memang sudah begini kok, mau apa lagi?” Negative message berevolusi menjadi negative mindset dan kemudian menjadikan peristiwa-peristiwa itu sebagai sesuatu yang lumrah dan menenggelamkan peristiwa-peristiwa positif yang barangkali tidak ingar-bingar.

Bagaimana cara kita melepaskan diri dari kerumunan peristiwa yang tidak inspiratif ini? Dalam manajemen, belakangan ini orang banyak mendiskusikan perihal crowdsourcing—mengambil inspirasi dari lalu-lalangnya ide-ide kreatif. Dengan ide-ide semacam ini, di saat hari mulai larut malampun, bila nglembur, semangat kita bisa jadi masih ‘semangat pagi’ (coba kita ucapkan kata-kata ini seperti ketika pagi-pagi bertemu rekan kerja: “Semangat pagi!”). Lantas bagaimana melepaskan diri dari jeratan dan jebakan pesan-pesan negatif kerumunan peristiwa?

Menyaring merupakan saran konvensional yang masih ampuh untuk dipraktikkan agar kita bisa lepas dari peristiwa yang berseliweran tanpa jeda. Alangkah sayangnya jika benak kita yang satu ini dipaksa menampung semua peristiwa yang dengan cepat berganti. Pilih yang berarti, ambil sarinya, dan buang sisanya. Mengapa kita harus bersitegang dengan kawan hanya karena membicarakan pertarungan kicauan antar selebritas?

Mungkin ada yang bilang, “Wah kamu ketinggalan kereta! Masak gitu saja gak tahu!” Saya pikir, tak apa kita ketinggalan kereta, bila ternyata kereta itu mengantarkan kita ke tujuan yang antah-berantah: bak dilempar ke angkasa tanpa gravitasi.

blog.tempointeraktif.com