fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

The Killer Statement

The Killer Statement

Fiqhislam.com - Pernahkah Anda mendengar istilah killer statement (pernyataan yang membunuh)? Apa itu killer statement? Gampangnya, killer statement itu adalah segala bentuk pernyataan yang kita keluarkan, sadar maupun tidak, yang melukai dan mampu merusak mental maupun semangat orang lain.

Ya, semacam ungkapan-ungkapan yang membunuh semangat seseorang. Killer statement dikatakan dapat membunuh semangat seseorang karena biasanya ia berisi kalimat-kalimat perusak jiwa yang menghasilkan perasaan yang negatif pada diri seseorang. Contoh yang paling sering kita dengar mungkin adalah, “Ah, dasar kamu bodoh!”

Menariknya, sejarah dunia komik pun pernah mencatat akibat buruk dari killer statement. Tersebutlah dua orang anak bernama Jerry Siegel dan Joe Shuster. Kisah kedua anak ini sangat menarik. Pada masa depresi yang melanda Amerika pada tahun 1933, Jeery Siegel mempunyai ide untuk menciptakan seorang tokoh pahlawan anak-anak yang mempunyai kemampuan luar biasa. Tokoh tersebut dilukiskan sebagai sosok yang tenaganya lebih kuat daripada besi, bisa terbang, dan asalnya dari planet lain.

Maka, bersama dengan temannya, yakni Joe Shuster, yang pandai melukis, Jerry Siegel mulai menciptakan gambaran manusia baja tersebut. Namun, gambaran komik manusia super itu tidaklah begitu menarik. Kecaman dan kritikan diterima. Selama enam tahun berturut-turut, komik dua orang anak itu pun ditolak sana-sini. Hingga akhirnya, puncak kehancuran mental Siegel dan Shuster terjadi saat mereka mendengar ada editor dari Detective Comics yang membutuhkan komik. Lantas, mereka pun mencoba menjual kepada mereka.

Namun, saat membuka-buka dan melihat gambaran komik mereka, para editor pun tertawa dan berkata, “Wah, nggak akan ada yang percaya dengan ide komik seperti ini. Gambarnya murahan dan tak mungkin laku dijual”. Maka, karena sudah terlalu frustrasi dengan penolakan dan kalimat yang menghancurkan itu, Shuster dan Siegel akhirnya sepakat menjual komik serta segala hak ciptanya kepada Detective Comics hanya senilai US $130 (setara dengan Rp 1.3 juta).

Itulah kesalahan terbesar Siegel dan Shuster. Akibat terlalu mendengarkan killer statement yang mereka terima, komik mereka pun dijual dengan harga yang sangat murah. Dikatakan kesalahan terbesar karena, beberapa saat setelah komiknya dibeli, karakter komiknya ternyata menjadi pujaan. Anda pasti bisa menebak. Itulah tokoh Superman, manusia Krypton dengan kemampuan terbang, penglihatan super, serta kekuatan fisik yang luar biasa.

Bersandar pada contoh tersebut, kita menjadi tahu betapa dahsyatnya dampak kata-kata yang dirasakan oleh kedua orang sahabat di atas. Kalimat-kalimat yang mereka terima bahwa komik mereka jelek, murahan, tak masuk akal, dan takkan laku di pasaran mampu membunuh semangat mereka untuk kemudian menjual hasil jerih payah mereka dengan harga yang sangat murah. Namun nyatanya, justru komik yang mereka ciptakan menjadi pujaan di seantero dunia.

Setidaknya ada dua pembelajaran yang bisa diperoleh dari kisah tersebut. Pertama, sudah selayaknya kita menjaga lisan dan kata-kata kita. Lidah lebih tajam daripada pedang. Sekali saja ia salah digunakan, ia akan meyakiti orang-orang di sekitarnya. Kedua, jangan pernah pantang menyerah dan teruslah memperbaiki diri. Ingatlah bahwa jangan sampai potensi dan kemampuan kita dirusak oleh kata-kata dari orang yang tidak bertanggung jawab. Jika kita mendapat kritikan pedas dari orang lain, jadikan itu cambuk untuk meningkatkan kualitas kita. Bisa? Tentu saja. [yy/islampos.com]