pustaka.png.orig
basmalah.png


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Siapa yang Meninggalkan Pembelajaran, Berarti Dia Sudah Mati

Siapa yang Meninggalkan Pembelajaran, Berarti Dia Sudah Mati

Fiqhislam.com - Alkisah, seorang penebang kayu hidup di dataran negeri katulistiwa. Negeri yang kayunya melimpah. Negeri yang sering mempersilahkan bangsa lain untuk mengambil kehormatan bangsanya. Negeri yang sering menggadaikan harga dirinya.

Dia bekerja di perusahaan penebangan yang notabene resmi dan dilegalkan. Karena keahliannya dan semangatnya dalam satu minggu, dia mampu untuk menebang hingga seratus pohon.

Bulan berganti. Tahun pun berlalu. Tiga tahun telah terlewati. Di suatu senja, penebang kayu sedang termangu termenung di atas kayu hasil tebangannya. Wajahnya durja dalam nestapa. Pikirannya masygul dengan apa yang menimpa dirinya. Sudah tiga minggu ini dia hanya mampu menebang pohon lima puluh pohon per minggunya. Dirinya tak mampu lagi menumbangkan seratus pohon yang menjulang dalam satu minggunya.

Apa gerangan yang terjadi?
Musibah apa yang menimpa?
Atau hutan sedang murka atasnya?
Aku kehilangan kekuatanku. Gumamnya galau.

Malam berlalu begitu lambat. Di peraduan sederhana, penebang kayu itu tak kunjung jua mampu menutup dua kelopak matanya.

Aku kehilangan kekuatanku……… Aku kehilangan kekuatanku………

Benaknya kembali berkecamuk atas tiga minggu yang sudah dilaluinya.

Di pagi hari, sang penebang menghadap majikannya. Wajahnya tertunduk dalam. Kemudian ia berujar dengan hati-hati, “Tuan, sekarang aku telah kehilangan kemampuanku. Aku tidak mampu lagi menebang seratus pohon dalam satu minggu.”

Majikannya terdiam, lalu bertanya, “Kapan kamu terakhir mengasah kapak kamu?”

Si penebang terdiam, berusaha mengingat-ingat, “Rasanya, tidak pernah, Tuan. aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.” Jawabnya kemudian.

Majikannya menarik nafas, dan berujar, “Kau tahu kesalahanmu, wahai tukang kayu…? Kapakmu sudah tumpul dan tidak mampu melakukan banyak hal lagi.”

Si tukang kayu terperanggah dan menyadari kebodohannya selama ini dengan mengabaikan ketajaman kapaknya.

Berapa ratus, ribu dan juta orang yang menghentikan pembelajarannya dan tidak mengasah otaknya lagi? Kesibukan kerja di kantor, kesibukan keluarga, kesibukan mengajar dan banyaknya aktivitas lain dijadikan alasan untuk bersembunyi dari pemberhentian belajar dan dijadikan kambing hitam untuk terlepas dari kebodohan diri.

“Jika aku disuruh menebang kayu dalam delapan hari, maka enam harinya akan aku gunakan untuk mengasah kapakku”. Benjamin Franklin.

“Meski engkau duduk di kursi empuk yang sama di sepanjang kariermu, tetap saja engkau harus memiliki banyak keahlian baru,” Larry Bossidy-Pemimpin Allied Signal

”Yang tidak berpendidikan diabad ke 21 bukanlah mereka yang tak dapat membaca dan menulis, melainkan mereka yang tak dapat belajar, melupakan pembelajaran dan belajar lagi,” Alvin Toffler, Penulis buku Future Shock

Dalam berusaha haruslah lebih jeli untuk meningkatkan kualitas produk, jasa mupun barang. Banyak pesaing yang terus tumbuh dan bergerak, kalau kita tidak hati-hati kita akan terkejar oleh perusahaan lain. Banyak contoh kasus produk yang hilang dari masa jayanya, sekadar menyebutkan: Kalpanax, Odol, Supertin dll. Dulu, nama-nama itu adalah brand yang sangat kuat di pasaran.

Apa kita akan menjadi salah satu diantaranya, atau kita sudah menjadi salah satu diantaranya? Yang masih duduk meratapi kebangkrutan dan masih dalam bayangan eofuria kesuksesan. Kualitas diri haruslah selalu diup-grade agar bisa mengikuti segala perkembangan yang begitu dinamis.

Rosadi Alibasa
yy/islampos