10 Safar 1443  |  Sabtu 18 September 2021

basmalah.png

Tidak Akan Bahagia....

Tidak Akan Bahagia....

Fiqhislam.com - Kebahagiaan suatu suasan yang paling diidamkan oleh setiap manusia? Kenapa tidak? Kebahagiaan adalah bukti atau tanda seseorang itu merasakan kenikmatan hidup di dunia. Banyak orang rela melakukan apa pun. Karena kebanyakan mereka menganggap kebahagiaan itu sulit untuk diraih. Apakah benar begitu?

Kebahagiaan sebenarnya tidak begitu sulit untuk kita dapatkan. Namun, biasanya karena kita menganggap kebahagiaan itu sulit hingga kita hanya terpokus pada keberhasilan, di sanalah kita tidak menemukan kebahagiaan. Padahal, jika kita tidak menganggap beban dalam meraih keberhasilan, maka kebahagiaan itu akan kita dapatkan. Di mana itu didapatkan? Di saat kita menempuh proses menuju keberhasilan.

Kita sulit mendapat kebahagiaan ialah karena kita melupakan satu hal ini. Apakah itu? Bersyukur. Ya, syukur merupakan wujud keikhlasan kita mendapatkan sesuatu. Dengan bersyukur hati kita merasa luwes, menerima apa yang ada pada dirinya. Bermula dari sanalah kita akan menemukan titik kebahagiaan kita.

Mengapa kebanyakan orang menganggap bahagia itu sulit? Karena mereka tidak bersyukur. Kebanyakan mereka tidak menyedari nikmat yang telah didapat. Mereka cenderung melihat kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang lain. Sehingga, ia ingin menyainginya, dengan tidak terima jika orang tersebut memiliki sesuatu yang lebih dari dirinya. Jika dalam hal ilmu sih tidak masalah. Malah, memang harusnya seperti itu. Tapi, jika hal ini dilakukan dalam hal duniawi, sampai kapan pun kita tidak akan memperoleh kebahagiaan, karena kurangnya rasa syukur kita pada Allah SWT.

Jika memang benar kita ingin dapatkan kebahagiaan, cobalah periksa apa yang ada pada diri kita. Di mulai dari yang terdekat, yakni tubuh kita sendiri. Barulah kita lihat barang-barang yang kita punya. Banyak orang yang memiliki kekurangan dalam hal fisik maupun materi. Banyak orang yang tak kuasa lagi menahan hidupnya karena begitu perihnya menahan pahitnya hidup. Sedangkan lihat diri kita. Apa yang kurang? Semuanya telah dirancang lebih baik oleh Allah SWT. Kita tak mempunyai kekurangan fisik dan materi pun terpenuhi untuk hidup sehari-hari. Lalu apalagi yang mau kita kesalkan?

Berbahagialah dengan mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Nikmat Allah itu tak terhitung nilainya. Salah satu yang sering kita lupa adalah kita ini bisa bernafas. Jikalau Allah tidak memberikan udara untuk kita bertahan hidup, lalu dengan apa kita harus hidu? Dari mana lagi kita akan mendapatkan udara? Apakah kita harus membeli kepada Allah, sedangkan reezeki yang kita peroleh pun datangnya dari Allah?

Maka dari itu, jangan terlalu banyak mengeluh dengan apa yang dimiliki. Tapi, menguhlah jikalau kita lupa untuk bersyukur. Syukuri nikmat yang ada pada diri kita. Insya Allah kita akan selalu merasa bahagia, jika kita pun selalu beryukur. Wallahu ‘alam.

yy/islampos
The 7 Laws of Happiness/Karya: Arvan Pradiansyah/Penerbit: Kaifa