fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Kebodohan Orang Pintar

Kebodohan Orang Pintar

Fiqhislam.com - Di dunia pendidikan formal, kinerja otak seseorang diukur dengan indeks prestasi yang didasarkan pada penilaian pengajar di kelas. Jika punya skor tinggi, orang biasanya akan sangat bangga karena dianggap berprestasi. Oleh karena itu, brilian secara akademik menjadi dambaan bagi banyak orang. 

Dengan cara seperti itu, kepercayaan diri orang dengan prestasi akademik akan melejit. Bahan bakarnya adalah pujian secara lisan dan tulisan dalam bentuk transkip nilai. Sering, dengan nilai yang tinggi ini, orang gampang mendapat pekerjaan di sektor formal.

Namun, setelah mendapat pekerjaan, tak sedikit orang-orang dari spesies pintar ini sangat lambat menanjak atau bahkan mandek dalam jenjang karir.

Hal ini terjadi karena orang-orang yang di kelas termasuk jenius sering tak menyadari bahwa tempat kerjanya bukan lagi kelas sekolah. Di sekolah, tugas siswa hanyalah memuaskan keinginan pengelola. Padahal, dalam kehidupan nyata, ada lebih banyak penilaian untuk seseorang disebut sukses.

Kelemahan orang pintar yang paling sering ditemui adalah tak memiliki sifat rendah hati. Padahal, rendah hati adalah kunci untuk beradaptasi dengan berbagai situasi. Orang pintar sering merasa cukup dengan mengandalkan kemampuan akademiknya. Harus diingat, dunia tak sesempit ruang kelas. 

Jika menanggalkan kerendah-hatian, orang biasanya sulit untuk mengapresiasi ide atau prestasi orang lain. Padahal, bisa jadi ide yang diajukan orang yang secara prestasi akademik lebih rendah jauh lebih brilian, dan prestasi yang sering dianggap kecil secara tak terduga dapat melambungkan karir seseorang.

Karena jumawa, orang yang secara akademik pintar juga kerap memandang remeh orang lain. Orang seperti ini, jika sukses, akan merasa kesuksesan semata-mata karena kecerdasannya. Sebaliknya, jika gagal, dia akan mencari kambing hitam. Tentu, tak akan ada orang yang suka diremehkan apalagi dikambing-hitamkan. Akan banyak musuh yang harus dihadapi orang-orang jumawa. 

Nilai maksimal di kelas, angka 100 atau huruf A, hanyalah untuk membuktikan tingkat kemampuan dan hasil eksekusi silabus, tak lebih. Nyatanya, banyak kampus (sekolah) yang menghidupi diri sendiri saja tak mampu, sehingga harus dibantu dari sana-sini. Bagaimana mereka mengajarkan kemampuan anak didiknya untuk bertahan hidup? Di tempat lain, ada kampus yang pejabatnya suka ribut berebut jabatan. Bagaimana kampus seperti ini mampu mengajarkan kepemimpinan?

Jadi, bagi Anda yang sudah telanjur masuk kategori pintar di kelas, jangan ragu untuk merasa bodoh sehingga berani untuk merenung kembali tentang apa yang seharusnya dilakukan setelah lulus dan ketika sudah masuk dunia profesional. Jangan sampai disebut bodoh karena terlalu mengandalkan kepintaran waktu di kelas dulu. [yy/rimanews]