pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Manfaatkan Detik Produktif Kita

Saya dan anda punya kesempatan sama. Sama-sama punya jatah waktu 24 jam, satu hari-satu malam. Perbedaan saya dengan anda ditentukan oleh, kesanggupan mengisi waktu dengan berbagai aktivitas produktif.

Jika saya lebih banyak menggunakan waktu saya untuk kegiatan positif daripada anda, maka tak heran jikalau saya lebih unggul dari anda. Tapi jika anda lebih intensif dan bersemangat mengisi menit demi menit, detik demi detik waktu dengan kegiatan berarti, maka saya harus sangat legowo menyaksikan keberhasilan anda.

Kunci keberhasilan kita adalah waktu yang produktif. Waktu tidak bisa kita kelola, sebab sudah digariskan oleh takdir tetapi anda masih bisa menjadi manajer bagi waktu anda sendiri.

Itu artinya, anda mesti bisa mengelola tugas anda secara bijak, sedang letak kebijaksanaannya adalah bagaimana diri kita menggunakan waktu yang tersedia secara produktif. Untuk memanfaatkan waktu secara produktif ada tiga cara. Yaitu : tidak menunda pekerjaan, selalu fokus pada prioritas, dan tidak keluar jalur.

 

***

Selama karier saya di dunia usaha, dari awal hingga memimpin The Achievement Group, saya selalu berusaha untuk tidak pernah menunda. Menunda pekerjaan berarti menghambat usaha sendiri.

Kegiatan menunda hanya membuat pekerjaan makin bertumpuk, makin banyak dan kompleks, sehingga akhirnya malah merugikan diri kita sendiri.

Rata-rata orang menunda pekerjaannya ketika ia merasa tak senang atau kerepotan menghadapi problem pekerjaan yang datang bertubi-tubi. Orang tipe begini biasanya takut, kalau-kalau pekerjaannya mendapatkan nilai minus, dimata atasan ataupun kawan sekerja.

Selain tipe tersebut, ada juga orang yang menunda pekerjaan karena ingin mendapat simpati, hingga selalu kelihatan sibuk, sampai sengaja membiarkan berkas pekerjaannya menggunung. Orang tipe begini, dalam hati kecilnya sebenarnya mengharapkan juga bantuan orang lain.

Paling banyak orang menunda pekerjaannya karena kerangka waktu yang tidak realistis. Ingin menyelesaikan banyak hal, tapi terbentur waktu yang sedikit. Harapan yang terlalu besar juga sering membuat kita enggan bertindak. Saya kira itu bisa diatasi dengan sedikit demi sedikit, step by stepgrasa-grusu tapi kontinyu, berusaha keras mewujudkannya.

Ibarat melangkah jangan terlalu panjang, jangan terlalu lebar dalam mengambil langkah awal. Laksana marathon, jangan terlalu tergesa menambah kecepatan ketika masih beberapa detik dari start. Dengan langkah semerta-merta atau itu, bisa-bisa malah kehabisan nafas jauh sebelum mencapai apa yang menjadi tujuan.

Cara ampuh menghentikan kebiasaan menunda ini adalah bertekad untuk hidup disiplin. Kedisiplinan akan membuat kita berpikir (think) menghadapi apapun konsekuensi kerja (consequences). Kedisiplinan membuat kita tanggap dan cepat bertindak (action), tanpa mempedulikan perasaan (feel) ingin atau tidak ingin melaksanakan suatu job pekerjaan.

Disiplin diri tidak merangsang kita untuk berlama-lama memikirkan sebuah tindakan. Melainkan lebih mendorong fisik dan mental kita untuk segera bertindak. Maka dari itu, agar kita terbiasa disiplin, hindari kebiasaan self indulgence (menghibur atau menyenangkan diri) yang cenderung membuat diri mengikuti kata hati. Kata hati yang berbisik : 'ah, sudahlah, saya sudah terlalu lelah.' ; 'wah, kurang mood nih' -sampai akhirnya kita merasa wajar untuk menunda sebuah job.

Seringkali waktu kita menjadi kurang produktif, disaat diri kehilangan atau bingung menentukan prioritas. Akhirnya malah jadi terlalu sibuk. Tapi tidak melakukan hal-hal yang produktif dan terkait langsung, dengan efisiensi maupun efektifitas kerja.

Agar kita selalu fokus, kita perlu membuat time log (catatan kegiatan), selama dua minggu, misalnya. Kita catat semua kegiatan yang kita jalani setiap waktu 30 menit, mulai pukul 08.00 hingga saat menjelang tidur. Itu penting dan perlu untuk mengevaluasi keadaaan sekarang, serta menganalisa bagaimana kebiasaan kita menggunakan waktu.

Dari catatan itu bisa diketahui pada pukul berapa kita sibuk, dan kapan kita mulai kehilangan arah dalam urusan prioritas. Time log juga berguna untuk memantau atau meninjau berapa banyak waktu telah terpakai, untuk suatu aktivitas penting.

Agar kita bisa membuang kesibukan yang biasanya tak berarti apa-apa untuk diri dan pekerjaan kita. Bila ini bisa kita terapkan, paling tidak 1 kali per bulan, kita akan terbiasa bertindak efisien dan efektif.

Prioritas memang penting, meskipun bukan satu-satunya yang harus dilakukan dalam hidup ini. Apapun bentuk kegiatan itu, yang pasti harus efektif (hal-hal yang bermanfaat dan berguna), serta efisien (mengerjakannya sesuai waktu).

***

Tanpa sengaja kita kerap keluar dari jalur pekerjaan. Melenceng dari rencana kerja yang sudah ditetapkan. Penyebabnya bisa karena hal-hal yang sebetulnya kurang perlu, semisal : kawan kita menelepon bertanya soal kabar, tapi akhirnya kita malah keasyikan ngobrol di telepon.

Untuk menjaga diri kita agar tidak keluar jalur, terdapat kiat-kiat sebagai berikut :

  • Membuat daftar kegiatan mencakup urusan pribadi dan urusan profesi.

  • Menyusun semua hal secara teratur dan terorganisir. Saya kira banyak dari kita yang menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak perlu, seperti : mencari file yang salah tempat.

  • Setiap hari membuat strategi agar produktif, dan bukan cuma kelihatan sibuk.

  • Tetap lurus pada tujuan agar bisa memaksimalkan setiap peluang.

  • Komit terhadap deadline, agar kemampuan kita dalam decision making selalu meningkat.

  • Memegang teguh prinsip bekerja secara tuntas.

  • Hindari berbuat salah, terutama dalam moment penting.

  • Luangkan waktu 20-30 menit untuk meninjau rencana aktivitas esok hari. Saya selalu memikirkan rencana esok, sehingga hampir selalu berhasil melakukan rencana dan selalu produktif. (cybermq.com)

*Tulisan adalah resume A. Hery Suyono, kolumnis majalah Intisari

**Penulis adalah pengarang buku Opening Closed Doors, Keys to Reaching Hard-to-Reach People dan pendiri The Achievement Group, Inc, Atlanta, USA